Saingi Militer China, AS Pesan Sembilan Kapal Selam Nuklir

3 views

Ilustrasi kapal selam kelas Virginia milik Angkatan Laut Amerika Serikat. (HO / US NAVY / AFP)

Jakarta | Populinews.com — Angkatan Laut Amerika Serikat menyetujui kontrak membeli sembilan buah kapal selam bertenaga nuklir kelas Virginia sebesar US$22,2 triliun (atau sekitar Rp313 kuadtriliun). Hal itu dilakukan untuk mengimbangi perkembangan armada Angkatan Laut China (PLAN) yang sangat pesat.

“PLAN menjadi semakin baik dan semakin besar sehingga Angkatan Laut AS harus menanggapinya. Ini tidak menjadikan China sebagai saingan, tetapi tindakannya perlu diawasi,” kata mantan direktur operasi Pusat Intelijen Gabungan Komando Pasifik AS, Carl Schuster, dikutip CNN, Rabu (4/12).

Kesembilan kapal selam pesanan itu diklaim lebih canggih dari pendahulunya. Lalu, 10 kapal perang lainnya dilaporkan sedang berada dalam tahap pembangunan dan rencananya juga akan dibeli dengan nominal sebesar US$24 triliun (setara Rp338,4 kuadtriliun).

Pembelian kapal selam bertenaga nuklir itu dilakukan beberapa bulan setelah kepala Angkatan Laut AS di Pasifik menerbitkan peringatan bahwa perkembangan kekuatan PLAN secara masif memunculkan kekhawatiran akan kesulitan untuk mendapatkan kapal perang yang cukup untuk menyeimbangkan kekuatan dengan China.

Kapal selam kelas Virginia bisa digunakan untuk berbagai misi. Kapal itu bisa dikerahkan untuk misi tempur bawah laut dan menyerang kapal permukaan. Selain fungsi serang, mereka juga bisa digunakan untuk operasi khusus meliputi intelijen dan pengintaian.

Pejabat eksekutif program Angkatan Laut AS untuk kapal perang, Laksamana Muda David Goggins, menyebut kapal tersebut sebagai sangat mutakhir.

Masing-masing kapal memiliki berat 10.200 ton, panjang 140,2 meter, serta mampu menampung 40 rudal jelajah Tomahawk. Ukuran ini jauh lebih besar dari kapal selam yang ada saat ini dengan berat 7.800 ton, panjang 114,9 meter, dan menampung 12 rudal jelajah Tomahawk.

Selain itu, kapal selam ini dapat mengolah air tawar dan oksigen secara mandiri, serta mampu berada di bawah laut selama berbulan-bulan dalam sebuah misi.

Anggota Senat negara bagian Rhode Island sekaligus anggota Komite Layanan Bersenjata Senat, Jack Reed, memuji pembelian tersebut.

“Kapal perang generasi selanjutnya ini memberi pasukan kita dengan keunggulan keamanan nasional yang berbeda dan merupakan alat pencegahan yang tidak tertandingi,” kata Reed.

Kapal ini rencananya akan dibangun oleh General Dynamics Electric Boat yang berbasis di Groton, Connecticut, bersama dengan subkontraktor Huntington Ingalls Industries. Reed menyebutkan pembelian itu akan menjamin kehidupan bagi 4.000 pekerja galangan kapal Electric Boat di Rhode Island dalam beberapa tahun mendatang.

Kesembilan kapal selam ini akan menggantikan beberapa kapal kelas Los Angeles yang dianggap terlalu uzur lantaran sudah bertugas sejak 1970-an.

Kapal selam baru itu rencananya rampung antara 2025 hingga 2029 mendatang.

Laporan soal kekuatan militer China pada Mei 2019 milik Kementerian Pertahanan AS menyatakan PLAN akan meluncurkan setidaknya 65 hingga 70 kapal perang tahun depan. Peluncuran tersebut menjadi titik perkembangan militer China dengan dimulainya produksi kapal selam bertenaga nuklir yang mirip dengan kapal kelas Virginia.

Tidak hanya itu, laporan para analis Australia pada Agustus lalu mempertanyakan kemampuan AS untuk mengikuti kemajuan China serta memperingatkan bahwa AS sedang menghadapi krisis ‘kesulitan straregis’. Laporan Pusat Studi AS milik Universitas Sydney juga memperingatkan Angkatan Laut AS kesulitan mengimbangi PLAN.

“Sederhananya, seiring dengan situasi di atas permukaan laut menjadi lebih mematikan karena penempatan rudal jelajah China, teknologi hipersonik, dan pertahanan anti-udara, keuntungan berkepanjangan Amerika dalam perang bawah laut akan menjadi semakin penting dalam keseimbangan kekuatan regional,” demikian isi laporan tersebut.

Kepala Komando Indo-Pasifik AS di Hawaii, Laksamana Philip Davidson, mengungkapkan bahwa aktivitas bawah laut oleh China, Rusia, dan Korea Utara meningkat tiga kali lipat sejak 2008. (red/fls/ayp)

Posting Terkait