PALEMBANG — Sejak tiga tahun terakhir, hampir setiap pagi usai shalat subuh, Ibarahim Busan, punya kesibukan sendiri. Membawa sekarung kecil Pur (pakan ikan), lalu menebarkannya ke puluhan keramba jaring (Waring), di tepi sungai Desa Ulak Jermun, Kecamatan SP Padang, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Riuh kecipak dan percikan air dari ribuan ikan patin yang berebut pun menjadi ‘hiburan’ yang mengasyikan.

Jika riuh di waring ikan itu sudah mereda, Ibrahim pun berpindah ke waring lainnya. Suasana pun kembali riuh. Ikan-ikan patin yang lapar malahap habis setiap hamburan Pur yang dilemparkan dari genggaman. Begitulah seterusnya Ibrahim beraktivitas setiap pagi hingga matahari mulai memencarkan sinarnya.

Di usianya yang sudah kepala Tujuh, Ibrahim Busan, memang masih memiliki semangat usaha yang menggelora. Jika sejak muda ia lebih banyak menghabiskan waktu mengolah ladang, kebun duku dan durian. Namun sekarang, dengan usaha keramba patin sungai, ia memiliki lebih banyak waktu untuk beristirahat.

Maklum, kondisi fisik sudah tak segagah ketika menjadi petani dan pekebun. Lagi pula mengolah kebun duku dan durian, hasilnya hanya setahun sekali panen. Sementara mengelola patin keramba, hanya butuh waktu pagi dan sore, memberikan pakan pada ikan sekaligus membersihkan sampah yang nyangkut di waring terbawa arus sungai.

Ibrahim Busan di tengah keramba ikan patin sungai miliknya, di desa Ulak Jermun SP Padang, OKI. (f/dahri maulana)

Tentu saja, pekerjaan ini tak perlu menguras tenaga ekstra. Bahkan, setiap sebulan sekali ikan-ikan itu pasti dijemput utusan agen dan pedagang pengumpul. Mereka datang dari berbagai daerah seperti Lampung, Bengkulu, Palembang bahkan Jakarta. Pembelian biasanya dalam volume besar, paling minim 1 ton. Bisa dikalkulasi sebesar apa pendapatan Ibrahim, jika harga pasaran patin itu dijual Rp 20.000 hingga Rp 22.000 per kilogram.

Ibrahim Busan, tentu saja tidak sendiri. Di sepanjang Sungai Batanghari, ruas kecamatan SP Padang, ada ratusan masyarakat yang menggeluti usaha yang sama. Mulai dari kecil-kecilan, hingga skala besar. Tidak saja warga desa Ulak Jermun, Tapi juga Desa tetangganya, seperti Mangunjaya, Kedukan, bahkan sampai ke Desa paling hilir seperti Sedang Menang dan Air Hitam.

Kisah sukses Ibrahim dan petambak keramba sungai lainnya, sebenarnya bukan tanpa hambatan. Sebutlah masa awal usaha ini ditekuni, yakni pada periode tahun 2010, banyak warga di SP Padang mengalami kegagalan, bahkan bangkrut dan kapok.

Gagal karena hasil panen melimpah tapi sulit dijual. Penyebab lainnya, pedagang pengumpul yang datang membeli juga tidak banyak. Alhasil, karena terbeban biaya pakan, ikan-ikan patin yang sudah berusia lebih dari 7 bulan, terpaksa dijual murah dengan cara dibawa sendiri ke pasar-pasar di Palembang. Rugi, tentu pasti, lantaran biaya angkut yang tinggi. Tapi beruntung tidak sampai bangkrut.

Mengapa pedagang pengumpul enggan datang ke SP-Padang? usut punya usut, ternyata karena dua jalur transportasi yang biasa ditempuh, kondisi jalannya sudah tak bersahabat. Lewat jalur lintas Palembang – Indralaya – OKI, rawan macet. Sedangkan lewat jalur timur, Plaju – Simpang Rambutan dan Jejawi, juga rusak parah. Apalagi ketika musim hujan banyak lobang menganga menyerupai kubangan.

Kerampa Patin dan Ikan air tawar milik masyarakat Desa Mangunjaya, memanjang di bantaran Sungai Batanghari, SP-Padang.

Kembali Semangat Karena Tol

Peristiwa gagal menjual, memang menghantui banyak petambak ikan keramba di SP-Padang untuk kembali bangkit. Tak terkecuali Ibrahim Busan. Bahkan kekhawatiran ini berlangsung hingga beberapa tahun kemudian. Di beberapa desa, usaha ikan patin bahkan dianggap warga sebagai tindakan bunuh diri, karena biaya pakannya tak bisa dihindarkan.

Namun ketakutan itu mulai memudar ketika pemerintah pada tahun 2012, mengumumkan akan memulai pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera sepanjang 2.700 Kilomter, mulai dari Bakauhueni Lampung hingga Banda Aceh.

Rencana tol ini sebenarnya berawal dari terobosan pembentukan Jasa Marga Per Pemprov se Sumatera, yang sudah disepakati awal 2012. Disusul kemudian, Menteri BUMN (saat itu dijabat Dahlan Iskan) mengundang para Gubernur se Sumatera dan melakukan pertemuan di Palembang.

Persisnya 12 Februari 2012, melalui pertemuan itu dicapai 6 (Enam) point kesepakatan. Karena itu tak berlebihan jika tol trans Sumatera (JTTS) jadi kenyataan berawal setelah ada ‘kesepakatan Palembang’. Tentu ini sebuah langkah besar setelah puluhan tahun tol sumatera hanya sebatas wacana. Proyek JTTS ini ditangani 100% pendanaannya oleh PT. Hutama Karya, ssebagai perusahaan modal negara (PMN).

Tahap pertama Hutama karya, memulai pembangunan tol JTTS tahun 2013, terdiri atas 8 ruas, terbagi menjadi empat ruas awal: (1) Medan-Binjai, (2) Palembang – Indralaya, (3) Pekanbaru – Dumai, (4) Bakauheni – Terbanggi Besar; dan empat ruas tambahan: (5) Terbanggi Besar – Pematang Panggang, (6) Pematang Panggang – Kayu Agung, (7) Palembang – Tanjung Api-Api dan (8) Kisaran – Tebing Tinggi.

Mendengar informasi pembangunan jalan tol ini, petambak keramba patin sungai di SP-Padang, kembali bersemangat untuk meritis kembali usahanya. Setidaknya, dengan dibukanya akses transportasi baru dari Kayu Agung – Pematang Panggang – Terbanggi Besar hingga Lampung, mobilitas angkutan orang dan barang, menjadi lebih lancar dan cepat. Apalagi sejak dulu kala, hasil panen berbagai jenis ikan, termasuk patin dari OKI khususnya SP-Padang, selain ke Palembang, juga didistribusikan ke pasar-pasar yang ada di tiga wilayah tersebut.

Ruas Tol Kayu Agung Palembang, yang membentang di atas lahan rawa berair

Persisnya pertengahan tahun 2017, bersamaan dimulainya pembangunan tol pertama Sumsel, yakni Tol Palembang Indralaya (Palindra), Ibrahim Busan kembali memulai usaha dengan modal simpanan tersisa sekitar Rp 10 juta. Ia mencoba merajut asa dengan membuat keramba anyaman bambu berukuran lebar 3 x 5 meter dengan tinggi 2,5 meter. Termasuk membuat beberapa keramba waring (berbentuk jaring melingkar). Semua keramba itu diletakkan di tepian sungai Batanghari di Desa Ulak Jermun, sekitar 50 meter dari kediamannya.

Awal memulai sekitar 10 ribu bibit disebar, sekitar dua bulan kemudian ditambah lagi hingga menjadi sekitar 30 ribu bibit. Hanya butuh waktu 6 sampai 9 bulan untuk pembesaran, bibit patin tersebut siap panen dengan total volume sekitar 10 ton. Untuk menjual habis, paling tidak dibutuhkan waktu sekitar dua bulan. Karena itu, ikan yang berusia lebih tua harus terjual lebih dulu, agar tidak terburu mati.

Kini tol Palembang – Indralaya sepanjang 22 kilometer sudah beroperasi, disusul Tol Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung (Terpeka), Kemudian disusul tol Kayu Agung – Palembang sepanjang 33 kilomter serta Tol Lampung – Bakauhueni.

Dengan beroperasinya Tol Terpeka, yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 15 Nov 2019 lalu, semua petambak ikan air tawar di OKI, kian bersemengat. Karena kesulitan menjual hasil panen tidak akan terjadi lagi. Apalagi keberadaan ruas tol sepanjang 189 kilometer ini, bisa memangkas waktu perjalanan darat. Bayangkan, Jakarta – Palembang bisa ditempuh dalam waktu tujuh jam saja.

Selain itu ada juga tol sirip Palembang – Jejawi yang segera rampung dan beroperasi, praktis membuat mobilitas ekonomi masyarakat di daerah OKI yang dilayani tol tersebut tidak lagi kesulitan.

Terbukti, sejak tiga bulan terakhir pembeli ikan patin SP-Padang, tidak lagi datang sebulan sekali, melainkan hampir setiap minggu mereka datang memesan ikan untuk dipasarkan. Mereka umumnya dari luar kota, seperti Lampung, Bengkulu, Palembang bahkan Jakarta dan Bandung. Lihat saja, di Desa Ulak Jermun, setiap Sabtu dan Minggu, pasti banyak truk-truk berjejer di pinggir jalan yang siap mengangkut hasil panen ikan patin keramba masyarakat.

Akses jalan tol benar-benar telah mengubah wajah perekomian masyarakat desa terdekat, yang semula terseok-seok, menjadi bergairah dan prosfektif. Setidaknya, itulah yang dirasakan Ibrahim Busan dan warga se-desanya yang berprofesi sama.

Lihat saja di sepanjang Sungai Batanghari, jumlah kerambah ikan patin, kian hari kian bertambah. Kondisi ini sekaligus juga membuktikan, sejak ruas tol Palembang – Kayu Agung hingga Lampung, sudah beroperasi, banyak warga desa yang banting stir membuka usaha baru. Menjadi petambak ikan patin sungai. Apalagi jika semua ruas tol yang dibangun sudah terhubung menjadi jalan tol trans Sumatera.

Hal menarik lainnya, bagi petambak keramba patin sungai di SP-Padang, yang tergolong pemain baru, tidak lagi kesulitan modal untuk membeli pakan ikan dan bibit. Sebab, saat ini banyak pemilik modal, termasuk calon pembeli, yang membantu meminjamkan dana baik tunai, maupun sudah dalam bentuk kemasan pakan dari pabrikan. Begitu juga untuk membeli bibit ikan. Pembayaran nanti dihitung saat panen.

Tol Terbanggi Besar – Bakauhueni

Bangunkan Lahan Tidur

Dyasatnya lagi, pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) pada ruas Kayu Agung OKI ini, juga menginisiasi banyak pemilik lahan rawa, yang tidak produktif, menjadikannya kolam tambak budidaya ikan air tawar. Seperti ikan gurami, nila, gabus, ikan sepat dan jenis lainnya.

Lihat saja di Desa Kedukan Hilir, masih dalam wilayah Kecamatan SP-Padang, Ogan Komering Ilir. Desa yang 90% wilayahnya adalah tanah rawa, dengan kedalaman antara 1-2 meter ini, juga dibelah oleh akses tol Kayu Agung – Palembang.

Kini lahan rawa di sepanjang ruas tol di desa tersebut, menjadi sangat berharga, setelah dikeruk menjadi kolam ikan air tawar. Sebab, hasil kerukan tanah dari kolam tersebut, bisa dimanfaatkan pula untuk menimbun rawa di dekatnya hingga menjadi daratan, yang akhirnya bisa dikavling untuk membangun rumah tempat tinggal.

Andi Efrison (57), salah seorang tokoh masyarakat desa Kedukan Hilir mengatakan, sebelum ada jalan tol harga pasaran satu lineng rawa (stara 50 x 150 meter), sekitar Rp 50 juta. Tapi sejak akses tol dibangun, harga tanah rawa tersebut naik menjadi dua kali lipat.

”Soalnya, sudah banyak pemilik lahan yang tahu, jika separuh dari satu lineng lahan rawa itu, jika dikeruk menjadi kolam ikan dengan kedalaman 5 meter, maka hasil kerukan tanahnya bisa ditimbun ke sebelahnya menjadi dataran tanah untuk membangun rumah. Jadi sekali bangun dapat kolam juga dapat rumah. Makanya jadi mahal,” ujarnya.

Andi yang juga pemilik kolam ikan air tawar ini, juga mengatakan saat ini sudah banyak warga di desanya yang menekuni budidaya ikan air tawar. Apalagi sejak tol Lampung – Kayu agung dan Palembang dibuka, pemasaran hasil panen tidak sulit, karena pembeli biasanya datang ke lokasi. Bahkan, jauh hari sebelumnya mereka sudah memesan dalam jumlah yang tidak sedikit. (dahri maulana)

Catatan : Tulisan ini dikutsertakan dalam Anugerah Jurnalistik Hutama Karya 2020