Melirik Upaya SKK Migas Jaga Keandalan Pasokan Gas Demi Swasembada Pangan

158 views

PALEMBANG | Populinews.com — Ketersediaan gas alam, pupuk dan swasembada pangan, bagi provinsi Sumatera Selatan dan Jambi adalah tiga hal yang saling berkorelasi. Karena itu kegiatan hulu migas harus terus berjalan, agar pabrik pupuk terus berproduksi, lalu kemudian pupuk urea digunakan petani untuk menyuburkan tanaman padi.

Bicara hulu migas, tentu tak terlepas dari peran Satuan Kerja Khusus Migas (SKK Migas) sebagai institusi koordinasi bagi operator penyedia Migas, yang lazim disebut Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Dan jika bicara soal Sumsel swasembada pangan, ini merupakan salah satu program unggulan Herman Deru, Gubernur Sumsel sejak masa kampanye Pilkada hingga ia menjabat saat ini.

Pabrik Pupuk PT Pusri Palembang,

Program Swasembada pangan di Sumsel, tentu tidak akan berhasil alias gagal jika ketersediaan pupuk sulit dan langka didapat. Apalagi jika harganya tinggi tak terjangkau petani. Kerena itu, keandalan produksi dan distribusi pupuk dari pabrik PT Pupuk Sriwjaya (Pusri) di Palembang, juga harus tetap terjaga.

Sementara keandalan produksi dan distribusi pupuk PT Pusri, juga sangat tergantung dengan keandalan pasokan gas dari kantraktor mintra SKK Migas. Gas alam merupakan bahan baku untuk membuat pupuk urea. Sehari saja pasokan gas yang dikirim oleh kontraktor penyedia gas terhenti atau level produksinya turun dari kondisi normal, praktis terhenti atau setidaknya berpengaruh besar terhadap aktivitas pabrik PT Pusri.

Mengingat pentingnya menjaga ketahanan energi migas ini, sekalipun di tengah situasi pandemi yang tidak mudah ini, SKK Migas tetap melakukan upaya agar level produksi ke pabrik PT Pusri tetap normal.

Seperti dikatakan Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagsel, Adiyanto Agus Handoyo, ketika beraudiensi dengan Gubernur Sumsel belum lama ini. Ia mengatakan SKK Migas terus mendorong KKKS untuk menunjukkan perannya menjaga level produksi sesuai target. Kemudian selalu bersinergi dengan program pemerintah baik di daerah maupun di pusat, termasuk program ketahanan pangan.

Adapun saat ini total pasokan gas bumi ke Pusri berasal dari 3 perusahaan KKKS, yaitu PT Pertamina EP, ConocoPhillips (Grissik) Ltd dan PT Tropik Energi Pandan. Sebelumnya, pemerintah melaui Surat Keputusan Menteri ESDM Nomor 6 Tahun 2016 menyatakan bahwa prioritas gas bumi diberikan pada industri pupuk.

Dari tiga kontraktor penyedia gas ini, PT Pusri Palembang mendapat jaminan pasokan gas bumi dari pemerintah hingga 2034 atau selama 14 tahun ke depan. Tentu saja dengan adanya jaminan bahan baku jangka panjang, maka seluruh pabrik PT Pusri dapat beroperasi dengan normal dan lancar.

“Dukungan ini sangat penting bagi kami untuk memenuhi target penyaluran pupuk bersubsidi dalam rangka mewujudkan swasembada pangan Sumsel dan ketahanan pangan nasional,” ujar Direktur utama PT Pusri Palembang, Mulyono Prawiro belum lama ini.

Pipa transmisi gas Connocophilip, yang langsung terhubung ke Pusri, sepanjang 176 km, dari Musi Banyuasin ke Palembang.

Dengan ada jaminan pasokan ini Pusri optimistis dapat memenuhi target penyaluran pupuk bersubsidi yang disalurkan kepada petani di wilayah yang menjadi tanggung jawab perusahaan. Jaminan bahan baku hingga 14 tahun ke depan ini membuat Pusri kian bersemangat mengoperasikan setiap pabrik secara normal, sehingga dapat turut menyukseskan program-program pemerintah pusat dan daerah.

Apalagi Kementerian ESDM juga telah memberikan kebijakan harga gas bumi melalui peraturan Menteri ESDM Nomor 40 Tahun 2016 dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 8 Tahun 2020, serta Keputusan Menteri ESDM Nomor 89 K/10/MEM/2020, yang menyatakan bahwa harga gas bumi di plant gate Pusri maksimal USD 6,00/MMBTU.  Tentu saja kebijakan ini berdampak positif pada biaya pembuatan pupuk subsidi.

PT. Pusri sebagai perusahaan yang memiliki pabrik pupuk pertama di Indonesia juga berencana melakukan revitalisasi pabrik guna mengefisiensikan penggunaan bahan baku gas bumi. Pusri berencana mengganti pabrik Pusri-III dan IV dengan pabrik baru yang lebih hemat energi. Direncanakan pabrik Pusri-IIIB sebagai pengganti pabrik Pusri-III dan PUSRI-IV ini sudah dapat beroperasi pada tahun 2024.

Sumber Migas Tundan

Sebagai KKKS yang ikut menjamin pasokan gas ke Pusri hingga 14 tahun ke depan, PT Pertamina EP, anak perusahaan PT Pertamina (Persero), kini terus berupaya mencari sumber migas baru untuk mendukung pencapaian target tersebut, selain menggecarkan angka produksi dari sumur-sumur yang digarap saat ini.

Sekarang ini Pertamina EP Asset 2 Prabumulih Field telah sukses memproduksikan 10 MMSCFD gas per hari nya, atau setara 1.800 BOEPD (barel oil eqivalent per day). Angka yang fantastis ini didapat dari sumur TDN-01. Namun angka 10 MMSCFD Sumur Tundan ini tidak didapat dengan mudah dalam hitungan hari. Sumur Tundan sudah dibor sejak tahun 1994, namun selama 25 tahun gas tersebut belum dapat dimonetisasi.

Pertamina EP Asset 2 Prabumulih Field yang sukses memproduksi gas sebesar 10 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day) atau setara 1.800 BOEPD (barel oil equivalent per day)

Perjalanan sumur TDN-01 dimulai pada bulan Agustus 2008 melalui kegiatan put-on-production (POP) untuk memproduksikan gas dari Tundan. Namun, pada Desember 2010 kegiatan POP tersebut dibatalkan karena alasan keekonomian yang disebabkan oleh nilai CO2 yang tinggi. Hambatan lanjutan yang muncul, tidak membuat para pejuang minyak menutup dokumen.

Pada Desember 2016 dilakukan kegiatan welltesting ulang oleh PEP Asset 2 kemudian dilanjutkan dengan study POD (Plan of Development), yaitu studi pengembangan lapangan secara menyeluruh, sehingga diperoleh evaluasi subsurface yang lebih baik dan memperlihatkan nilai cadangan yang semakin confident. Persetujuan POD dikeluarkan pada 20 November 2017 dengan rencana onstream produksi berdasarkan POD pada Januari 2021.

Pemboran sumur TDN-01 dilakukan pada formasi karbonat Baturaja Formation (BRF), berlokasi di kelurahan Karang Jaya kecamatan Prabumulih Timur kota Prabumulih provinsi Sumatra Selatan. Lebih lanjut, dilakukan juga integrasi dan pemanfaatan fasilitas bersama dengan pengembangan lapangan Talang Jimar Barat sehingga nilai keekonomian menjadi semakin baik.

Akhirnya, pada 29 Februari 2020 produksi gas dari struktur Tundan dapat diproduksikan dan dimonetisasi. Dengan upaya percepatan dari tim Pertamina EP Asset 2, onstream produksi ini lebih cepat dari rencana awal POD yaitu pada Januari 2021. Produksi gas dikirim dari sumur tundan melalui pipa ke SKG-X PMB selanjutnya dikirim ke jalur sales Pagardewa.

Ndirga Andri Sisworo, Prabumulih Field Manager menyampaikan target produksi gas rata-rata Tahun 2020 Prabumulih Field adalah sebesar 152.38 MMSCFD, dimana realisasinya sebelum onstream Gas Tundan sebesar 140.43 MMSCFD. “Sekarang dengan onstreamnya gas Tundan, Produksi rata-rata saat ini (hingga Maret 2020) naik menjadi 150.82 MMSCFD dan diproyeksikan pencapaian produksi gas Prabumulih Field sampai akhir tahun 2020 mencapai target 100%.” tuturnya.

Selain sumur Tundan, Pertamina EP Asset 2 juga telah berhasil menemukan cadangan baru minyak dan gas dari Pertamina EP Asset 2 Limau dan Prabumulih Field. Cadangan baru ditemukan melalui program proving up potensi Air Benakat Formation (ABF)

Program proving up potensi ABF yang telah diluncurkan sejak pertengahan tahun 2019 tersebut, telah dieksekusi melalui pekerjaan Well Intervention, yaitu dengan dilakukannya testing sumur di beberapa sumur peninggalan Belanda.

Di antaranya sumur L5A-170 dengan hasil test produksi gas 1,5 MMSCFD, sumur L5A-082 dengan hasil produksi minyak sebesar 164 BOPD dan water cut 1%, sumur LMC-013 dengan produksi gas sebesar 2 MMSCFD dengan AOFP (Absolute Open Flow Potensial) sebesar 16 MMSCFD, dan sumur L5A-215 dengan peningkatan hasil produksi minyak 50 BOPD dan water cut 75%. Serta satu sumur di Field Prabumulih, TMB-04 menghasilkan gas kering dengan perkiraan produksi 2 MMSCFD.

Asset 2 General Manager, A. Pujianto juga menyampaikan bahwa kesuksesan sumur Tundan dan Aset 2 Limau ini diharapkan diikuti suksesnya sumur-sumur yang lain. Hal ini tidak lain hanya semata-mata untuk meningkatkan ketahanan energi untuk negeri.

Proyek Ariodamar

Selain PT Pertamina EP, pasokan gas ke PT Pusri juga berasal dari wilayah operasi PT. Tropik Energi Pandan (TEP). Pasokan gas PT TEP ini dikenal dengan Proyek Ariodamar – Sriwijaya Phase-2, yang berlokasi di desa Petunang, Kec. Tuah Negeri, Kab.Musirawas – Sumatera Selatan.

Ini adalah salah satu dari 11 proyek utama Migas yang yang dimulai tahun 2016 lalu, setelah memperoleh persetujuan anggaran oleh negara dan ditargetkan on-stream tahun 2019.

KKKS TEP telah menyelesaikan proyek tersebut sesuai target SKK Migas pada 1 Agustus 2019, dan pengiriman gas pertama (First Gas On-stream) dilakukan pada tanggal 1 September 2019 kepada pabrik PT. Pupuk Sriwijaya sebagai pembeli.

Dengan beroperasinya proyek fasilitas produksi gas yang mempunyai kapasitas 20 MMSCFD, maka KKKS TEP telah ikut membantu mengamankan pasokan gas untuk PT Pusri sekaligus mensukseskan upaya sumsel mencapai swasembada pangan dan menjaga ketahanan pangan nasional.

Sebagaimana diketahui, dalam memenuhi kebutuhan energi nasional, KKKS TEP sebenarnya sudah menandatangani Production Sharing Contract dengan SKK Migas sejak 2004 silam. Wilayah kerja KKKS TEP adalah Blok Pandan yang terletak di Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, dengan luas wilayah kerja 548.78 km2 yang telah memiliki persetujuan Plan of Development-1 (POD-1), dari Menteri ESDM pada tanggal 22 Maret 2013. Setelah melalui kegiatan eksplorasi sejak tahun 2004, sampai dengan tahun 2012, berupa kegiatan seismic sepanjang 700 km dan pengeboran sumur eksplorasi.

Pada saat ini, KKKS TEP juga telah memberikan kontribusi terhadap target lifting minyak dan gas bumi nasional. Fasilitas produksi di Desa Bamasco, Kecamatan Tuah Negeri, dan Fasilitas Unloading yang terletak di Jene, Desa Pelawe, Kecamatan BTS Ulu telah beroperasi dan diharapkan dapat terus dikembangkan hingga mencapai kapasitas maksimal.

KKKS TEP juga berencana untuk terus melakukan kegiatan eksploitas di Lapangan Ariodamar Sriwijaya dengan melakukan pengeboran sumur-sumur pengembangan dan juga akan memulai pengeboran sumur eksplorasi Ario Dillah.

Sebelumnya kegiatan yang telah berhasil diselesaikan yaitu kegiatan seismic, pengeboran eksplorasi, pengeboran produksi, penyelesaian Fasilitas Produksi Minyak Ariodamar Sriwijaya Phase-1 pada tahun 2016 dan beroperasi (on-stream) di awal tahun 2017 yang ikut menambah lifting minyak nasional.

Selain itu dalam operasinya di Kabupaten Musirawas Sumatera Selatan ungkapnya, KKKS TEP juga berkontribusi dalam peningkatan fasilitas umum, sosial, kepentingan masyarakat melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) dan program-program pengembangan masyarakat dan lingkungan lainnya.

Sumber pasokan gas yang ketiga, diperoleh PT Pusri dari Grissik Gas Plant ConocoPhillips (COPI), yang berada di wilayah Musi Banyuasin, sekitar 180 kilomter dari Palembang. Gas disalurkan melalui pipa transmisi gas Grissik-Pusri yang dibangun PT Pertagas dengan panjang 176 km dan diameter 20 inchi, membentang melewati Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Banyuasin dan Kota Palembang.

Pipa trasmisi gas ini diperlukan dalam menjaga pasokan gas yang berkelanjutan untuk industri pupuk, khususnya PT Pusri Palembang yang kini memiliki pabrik baru yaitu PUSRI II-B. Selain itu, pasokan gas tersebut kedepan juga akan memenuhi kebutuhan pembangkit listrik, pengembangan KEK Tanjung Api-Api, jaringan gas rumah tangga dan industri lainnya.

Investasi pipa Grissik-Pusri sebesar US$ 143 juta dan volume penyalurannya akan terus meningkat. Gas yang sudah dialirkan mulai tahun 2018 sebesar 70 MMSCFD untuk kebutuhan Pusri, tahap berikutnya akan ditingkatkan menjadi 160 MMSCFD untuk menunjang kebutuhan lainnya sesuai dengan kapasitas pipa.

Ruas pipa baru ini akan menjadi backbone infrastruktur gas kedua milik Pertagas di wilayah Sumatera Selatan selain pipa eksisting yang telah termanfaatkan maksimal. Keberadaan pipa tersebut akan berkontribusi pada peningkatan perekonomian wilayah Sumatera Selatan.

Entaskan Kemiskinan

Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) H. Herman Deru ketika menerima Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagsel, juga menyatakan rasa syukurnya kepada SKK Migas dan Kementerian ESDM, turut andil dalam mendukung Pemprov Sumsel menjaga ketahanan pangan serta menurunkan angka kemiskinan.

Gubenrur mendampingi Menteri Pertanian Yasin Limpo melakukan penaburan benih padi di Musi Rawas. (f/humas)

Herman Deru menuturkan untuk mensukseskan program pembangunan, Pemprov Sumsel harus mendapat dukungan dari semua pihak tanpa terkecuali, terlebih menurutnya SKK Migas telah banyak berkontribusi dalam menjaga ketersediaan minyak dan gas gumi kebutuhan masyarakat.

“Saya ingin juga SKK Migas ikut serta dalam menjembatani kegiatan-kegiatan yang orientasinya pada penurunan kemiskinan, Saya hanya ingin mengajak SKK Migas dan para kontraktornya untuk berperan, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, mudah-mudahan Provinsi Sumsel dengan komitmen kita ini berjalan baik,” tuturnya.

Upaya Gubernur Sumsel menjaga swasembada pangan dan menggenjot sektor pertanian selama setahun menjabat memang berbuah manis. Berkat tangan dinginnya itu kini Sumsel ditunjuk oleh Mentan RI Dr. H. Syahrul Yasin Limpo SH. MH menjadi provinsi pertama pengekspor pangan di Indonesia. Bahkan Gubernur sudah melakukan MoU dengan Kementan dimana Sumsel menjadi sumber penyedia beras untuk kebutuhan nasional.

Herman Deru mengatakan ada beberapa alasan mengapa Sumsel dipilih oleh Mentan untuk menjadi daerah pemasok kebutuhan nasional. Yang pertama adalah semangat dan keberadaan penyuluh dan luas tanam yang memadai. Kemudian karena distribusi pupuk, sangat berjalan baik. (dahri maulana)

**Catatan : tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Karya Jurnalistik ‘Energi untuk Indonesia’ Kementrian ESDM Tahun 2020

Bagikan :

Posting Terkait