Suasana rapat pengurus Mesjid Al-Mukhlisin Kelurahan Sukajadi Talang Kepala Banyuasin, terkait rencana pembangunan menara mesjid setinggi 16,6 meter.

BANYUASIN | Populinews.com — Rapat lengkap Dewan Pembina dan Pengurus Mesjid Al-Mukhlisin, Komplek Perumahan Handayani, Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin, Sabtu (15/8/2020) malam, sepakat memutuskan rencana pembangunan menara setinggi 16,6 meter dilaksanakan paling cepat bulan September 2020.

Persetujuan tersebut ditandai dengan penandatangan dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan denah speksifikasi bangunan, oleh Ketua Dewan Pembina Pengurus Mesjid Al-Mukhlisin, H. Muhammad Toyib, AH SPd, Ketua RW 15 Kelurahan Sukajadi, Drs. Ganepo, MSi dan kantraktor pemborong bangunan, Maulana, disaksikan pengurus mesjid yang hadir.

Sebelumnya, rapat pembahasan pembangunan menara mesjid ini, diawali dengan pemaparan spesifikasi bangunan dan perkiraan biaya sesuai RAB yang diperlukan oleh pemborong pelaksana. Kemudian penjelasan mengenai struktur bangunan dan pondasi oleh Ketua Panitia Pembangunan, M. Rasyid, dilanjutkan dengan diskusi dan sumbang saran dari para pengurus yang hadir.

Maulana selaku kontraktor pemborong bangunan memaparkan, perhitungan analisa keseluruhan biaya pembangunan menara ini sebesar Rp 314 juta. Biaya ini sudah termasuk upah kepala tukang dan anak buahnya, yang ditaksir akan menelan anggaran sekitar Rp 85 juta.

Pelaksanaan pembangunan fisiknya hingga selesai diperkirakan memakan waktu paling cepat 4 bulan jika cuaca bagus, dan paling lama 6 bulan. Sementara pondasi menara akan dibuat dengan kedalaman sekitar 4 meter. Namun kedalaman ini tergantung struktur tanah.

”Jika pada kedalaman 3,5 meter sudah ditemukan tanah keras, mungkin cukup sebatas itu. Tapi jika tanahnya masih lembek, pondasi kita buat empat meter, kemudian ditambah cerucuk yang juga kedalamannya sekitar empat meter. Ini biar bangunannya kokoh” ujar Maulana.

Bentuk fisik menara Mesjid Al-Mukhlkisin, Komplek Perumahan Handayani, Sukajadi yang akan dibangun. (f/dm)

Sedangkan bentuk fisik menara mesjid Al-Mukhlisin, akan menempati posisi sebelah kanan pintu masuk, atau bagian samping depan mesjid. Bangunan menara terdiri dari empat lantai berbentuk persegi delapan. Masing-masing lantai memiliki teras. Sementara bagian bawah (lantai dasar), dibuat berbentuk persegi 4 x 4 meter, agar bisa dijadikan ruangan yang bisa diamnfaatkan untuk gudang atau lainnya.

Terhadap sepesifikasi bangunan berikut RAB yang diajukan pemborong pelaksana ini, dewan pembina dan pengurus mesjid Al-Mkhlisin, sepakat menyetujui. Hanya saja, yang masih menjadi ganjalan adalah masalah sistem pembayarannya. Sebab, sampai saat ini keuangan mesjid Al-Mukhlisin belum cukup untuk memenuhi angka biaya yang ditawarkan.

Sebagaimana dijelaskan Sekretaris Dewan Pembina, Sirajjudin S.Sos, Msi dan Ketua Pengurus Mesjid, Radinal Ahmad, dana kas mesjid Al-Mukhlisin sampai sekarang ini tercatat lebih kurang Rp 200 juta. Artinya masih terdapat kekurangan sekitar Rp 114 juta.

Karena itu perlu ada kejelasan sistem pembayaran, yang bisa menjadi gambaran bagi pengurus mesjid untuk mencarikan solusi bagimana mencari tambahan untuk kekurangan anggaran tersebut. Kemudian mesjid Al-Mukhlisin saat ini juga memiliki sekitar 60 sak semen sumbangan umat berikut batu bata.

”Nah terhadap aset material yang dimiliki mesjid kita ini, apakah bisa menjadi pengurang atas biaya anggaran yang diperlukan,” ujar Sirajjudin.

Kekhawatiran serupa juga dikemukakan Ketua Dewan Pembina HM Toyib AH. Jangan sampai kekurangan dana anggaran yang dimiliki mesjid Al-Mukhlisin ini, membuat pembangunan menara mesjid ini menjadi terhenti di tengah jalan. Apalagi jika pekerjaan saat itu masuk pada tahap pengecoran, baik tiang maupun kolom bangunan. ”Sangat beresiko jika bangunan terhenti, karena cor-coran itu, jika ada sambungan dia tidak akan kuat,” ujar HM Toyib.

Menjawab pertanyaan ini, Maulana meminta bahwa sistem pembayaran dilakukan per-termin dengan progres pekerjaan selesai 20%. Terminisasi dilakukan sebanyak 5 tahapan. Itu artinya setiap termin, pengurus mesjid Al-Mukhlisin harus mencairkan dana pembayaran sebesar Rp 62 juta. Berarti jika diakumulasi dengan ketersedian dana kas mesjid sebesar Rp 200 juta, hanya cukup untuk tiga kali termin dengan progres pekerjaan 60%.

Terkait kekhawatiran akan terjadi stagnasi atau keterlambatan pembangunan akibat kekurangan biaya, Maulana juga memberikan solusi bahwa setiap termin ia usahakan progres bangunan mencapai angka 25%. Apalagi, mesjid juga telah memiliki simpanan material semen dan batu bata. Dengan demikian, untuk anggaran Rp 200 juta yang dimiliki mesjid Al-Muhklisin, bisa mencapai progres pekerjaan paling tidak 80% terealisir.

”Nah yang 20% lagi itu kan pekerjaan finishing, mungkin dana tambahan yang belum ada sampai saat ini, gambarannya akan digunakan untuk tahapan ini,” ujar Maulana.

Menyikapi solusi yang diberikan kontraktor pemborong ini, dewan pembina dan pengurus mesjid Al-Mukhlisin, menyatakan dapat menerima dan menjadi semakin yakin bahwa persoalan biaya anggaran yang belum mencukupi, bukanlah hambatan untuk merealisasikan rencana pembangunan menara mesjid. Karena itu Spesifikasi dan RAB yang diajukan Maulana, disepakati bersama.

Selanjut, untuk mengatasi kekurangan biaya pembangunan menara ini, pengurus mesjid Al-Mukhlisin, juga akan melakukan rapat dengan RW dan seluruh Ketua RT di Komplek Perumahan Handayani. Agenda rapat akan membahas mengenai solusi mendapatkan bantuan dana dari masyarakat, baik melalui sumbangan list maupan pengajuan proposal kepada pemerintah daerah dan pihak ketiga.

”Mudah-mudahan sudah tidak ada masalah. Soal kekurangan biaya anggaran, kita semua harus yakin insya’allah akan ada pertolongan dari Allah,” ujar HM Toyib mengakhiri diskusi dan menutup rapat. (dahri maulana)