JAKARTA | Populinnews.com — Sudah hari kelima, H. Abdul Rohim alias H. Boim (65 Tahun) terbaring tak sadarkan diri di Rumah Sakit. Ia pingsan sejak Kamis siang pekan lalu (18/3/2021) di ruang tahanan Polda Metro Jaya, sesaat akan menjalani sidang secara virtual oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Ironisnya, tak ada pihak yang mau bertangungjawab, kecuali dilimpahkan kepada keluarga.

Sejumlah petugas sel tahanan Polda berusaha memberikan pertolongan pertama, namun upaya tersebut tak mebuahkan hasil. H. Boim kemudian langsung dilarikan ke ICCU Rumah Sakit Polri di Kramatjati. Di rumah sakit ini ia sempat mejalani City Scan dan tindakan operasi. Namun, hingga sekarang masih belum sadarkan diri. Secara medis, menurut salah satu anggota keluarga, H. Boim koma lantaran mengalami pendarahan pada otak kecil.

Kabar tentang H. Boim dalam kondisi koma ini, rupanya sampai juga ke H. Syaiful Amir, mantan Direktur Keuangan PT Pusri dan Mantan Dirut Pupuk Kaltim, yang ‘menghantarkan’ H. Boim ke penjara, karena dituduh menggelapkan uang Rp 10 Miliar. Bahkan, H. Syaiful Amir juga mendapatkan foto-foto kondisi H. Boim yang sedang tak sadarkan diri, lalu menyebarkannya kepada orang-orang terdekatnya.

BACA JUGA : Seteru Binsis Mantan Dirkeu PT Pusri Vs Sahabat yang Terdzolimi (bagian 1)

Entah siapa yang memotret dan mengirimkannya ke H Syaiful Amir, yang pasti pihak keluarga merasa sangat terlukai dan menyesalkan ihkwal ini. Menurut pihak keluarga, H. Boim dipotret saat kodisi tubuhnya begitu miris untuk dilihat, apalagi saat itu ia berada di ruang privasi rumah sakit bukan ruang publik (umum).

”Seharusnya, sebelumnya memotret dan menyebarkan foto-foto tersebut, si pemotret meminta izin dulu kepada pihak keluarga. Kami juga tak mengerti apa maksud orang yang mengirimkan foto-foto H. Boim itu kepada Syaiful Amir. Apa mungkin di sel tahanan Polda itu ada mata-mata yang setiap detik mengawasi H. Boim, lalu melaporkannya ke Syaiful Amir. Ini yang kami tidak mengerti,” ujar salah seorang anggota keluarga.

Ironisnya lagi, Syaiful Amir yang menerima kiriman foto-foto tersebut, langsung saja menyebarkannya kepada orang-orang terdekatnya lewat Whatsapp, bahkan termasuk teman – teman dekatnya ketika bersama H. Boim. Al hasil foto-foto menyebar ke banyak group WA.

Sikap Syaiful Amir, yang tidak menunjukkan rasa empati ini, sangat disesalkan pihak keluarga H. Boim dan sejumlah kawan dekatnya, yang tengah diliputi rasa cemas dan sedih.

”Sebagai sesama manusia, harusnya Syaiful Amir memperlihatkan rasa empati kemanusiaannya. Bukan sebaliknya, menambah duka keluarga dengan cara menyebarkan foto-foto H. Boim yang tak sadarkan diri. Apalagi dia dan H. Boim adalah sabahat dekat sekaligus kolega bisnis yang sudah berteman sejak 35 tahun silam. Jangan cuma gara-gara harta, hilang rasa kemanusiaan kita,” ujar seorang kerabat H. Boim yang juga kenal baik dengan Syaiful Amir.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, H Boim dilaporkan H Syaful Amir, karena tidak bersedia mengembalikan uang titipan untuk membeli tanah sebesar Rp 10 Milyar, berdasarkan kwitansi yang ia tandatangani pada 27 Juni 2009.

BACA JUGA: Seteru Bisnis Mantan Dirkeu Pusri Vs Sahabat yang Terdzolimi (bagian 2)

Sebaliknya H. Boim sendiri berargumen, bahwa ia menolak membayar karena dia merasa tidak pernah menerima titipan uang tersebut. Tanda tangan pada kwitansi tagihan tersebut, diakui H Boim, benar tandatanganya. Tapi kwitansi itu dulunya adalah kwintasi kosong, yang dibuat untuk transaksi jual beli rumah pada tahun 2013, bukan kwitansi titip uang pada tahun 2009.

H. Abdul Rohim alias H. Boim, saat pingsan dan dilarikan dengan Ambulance ke RS Polri Kramatjati – Jakarta

Semua Lepas Tangan

H. Boim, kondisinya masih kritis. Tapi ironisnya tak satu pihakpun mau bertanggungjawab. Informasi dari pihak keluarga menyebutkan, baik pihak Polda Metro Jaya, Kejaksaan dan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, semuanya lepas tangan ketika mengetahui H. Boim sedang koma dan menjalani perawatan intensif di RS Polri Kramatjati.

Jaksa Pengganti dari Kejaksaaan Negeri Jakarta Selatan, Suparjan SH, ketika dikonfirmasi lewat kontak whatsapp, juga belum memberikan jawaban.

Sebagaimana diketahui awalnya H. Boim ditahan di Polda Metro Jaya, pada Desember 2020 lalu, untuk kepentingan penyidikan. Namun setelah hari ketiga, ia ditangguhkan dengan status tahanan kota, karena kodisinya memang sedang sakit serius. Namun setelah Berita Acara Penyidikan (BAP) selesai, awal Maret 2021 kasusnya dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan berikut H Boim sebagai tersangkanya.

Lantas H. Boim pun berubah status menjadi tahanan kejaksaan.  Sejak itu pula Jaksa kembali menitipkan H. Boim ke sel tahanan Polda Metro Jaya. Memasuki hari ketiga di sel tahanan, kesehatan H. Boim sebenarnya, menurut keluarga,  terlihat mulai menurun. Ia semakin sering mengalami sesak nafas, dan tidak berselera makan.

H. Boim juga kesulitan untuk mendapatan perawatan medis untuk mengatasi penyakit yang dia derita sejak lama. Kecuali pihak keluarga saja yang sering membawakannya obat ketika membesuk. Ditambah susana dingin dalam sel tahanan, kemungkinan membuat kesehatan H. Boim semakin drop.

Hal itu terbukti ketika pertama kali menjalani sidang virtual, Kamis (15/3/2021), H. Boim yang ditanya hakim, apakah ia dalam kondi sehat, hanya membentangkan lima jari tangannya, memberikan isyarat bahwa ia kurang sehat.

BACA JUGA: Syaiful Amir Marah, Karena Dilaporkan ke OJK dan Dibuka ‘Aibnya’ di Pengadilan

Pada sidang pertama ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, hanya membacakan dakwaannya mengenai pasal yang didakwakan yang pasal 372 KUHP. Sementara terdakwa H Boim, dihadirkan secara virtual, dari kamar tahanan Polda Metrojaya, hanya bisa mendengar saja dakwaan tersebut.

Usai JPU membacakan dakwannya, Ketua Majelis Hakim, Sujarwanto SH MH lantas bertanya: ”Saudara Haji Boim, apakah saudara mendengar apa yang dibacakan jaksa?” Dari layar monitor, H. Boim yang mengenakan peci putih hanya bersuara agak lemah. Ia lagi-lagi membentangkan lima jarinya lalu menunjuk ke telinga, seakan-akan memberi isyarat ia kurang mendengar jelas.

Hakim pun bertanya kembali: Saudara Haji Boim, apakah bapak sehat? dari layar virtual, H Boim lagi-lagi menjawab dengan suara lemah: ”saya kurang sehat yang mulia”. Atas jawaban itu, hakim pun menghentikan pertanyannya.

Majelis hakim kemudian meminta JPU menyerahkan copy dakwaannya kepada kuasa hukum terdakwa, yang sempat terlambat hadir, karena sebelumnya memang belum terdaftar di kepaniteraan. ”Pak Haji Boim, saudara tahu ini ada kuasa hukumnya?” tanya hakim lagi sembari melihat ke layar virtual. H. Boim pun hanya menjawab: ”iya yang mulia.”

Sidangpun akhirnya ditunda sampai Kamis (18/3/2021), untuk mendengarkan pembelaan maupun sanggahan dari kuasa hukum terdakwa atas dakwaan penggelapan tersebut. Namun, sesaat akan disidang secara virtual, H. Boim yang memang tidak sehat, tiba-tiba pingsan setelah sebelumnya muntah-muntah. Ia pun dilarikan ke rumah sakit karena tak juga sadarkan diri atau koma.  (red)