BELITUNG | Populinews.com – Warga Kecamatan Selat Nasik, Belitung menyambut antusias kedatangan para pendakwah yang dikirim Kementerian Agama dalam program Pengiriman Dai ke Wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Hal itu diungkapkan Didiek Sri Mulya Ahmad, pendakwah asal Jakarta dan Qoriza Saumiddin Lubis dari Belitung Timur.

“Setiba saya di sini, respons masyarakat sangat antusias. Contohnya, saya diundang untuk khutbah nikah. Itu salah satu hal yang tidak pernah saya lupakan,” kata Didiek saat ditemui di KUA Selat Nasik, Belitung, Sabtu (23/3/2024).

Ia mengaku, berbagai kegiatan keagamaan dijalankan bersama masyarakat, khususnya terkait pembelajaran tilawah dan qiraat Al-Qur’an. “Saya mengajarkan sekitar empat cabang MTQ. Tahfiz Qur’an, tilawah anak-anak, tilawah remaja, bahkan qiraat. Itu saya ajarkan kepada mereka. Akhirnya tiga masjid sekitar sini, kita adakan tilawah Al-Quran rutin,” terang Didiek.

Didiek mengungkapkan, ia menyaksikan terdapat enam suku di Kecamatan Selat Nasik ini, yaitu Melayu, Buton, Sunda, Jawa, dan Makassar yang hidup berdampingan dengan damai. “Ini pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Bertemu orang-orang yang satu pulau dengan beragam suku, tapi tetap memegang teguh nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika. Bahkan ritual-ritual keagamaan mereka semua berbeda,” tuturnya.

Tidak hanya itu, ia juga sangat kagum dengan tingkat keamanan di wilayah ini. “Pengalaman yang sangat luar biasa itu, masyarakat sini sangat baik. Saking baiknya, kunci motor ditaruh di motor berhari-hari itu tidak apa-apa. Aman sekali,” sambungnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh pendakwah lainnya, Qoriza. “Masyarakat di sini sangat bersahabat dengan orang-orang yang baru datang,” terang Qoriza.

Qoriza menyebut, ia telah menggelar kegiatan taklim, keremajaan, konsultasi keagamaan, hingga silaturahim ke berbagai desa.

“Kita memberikan taklim terhadap ibu-ibu majelis taklim, lalu kita bertemu masyarakat melakukan konsultasi keagamaan, dan juga bertemu remaja-remaja masjid untuk melaksanakan kegiatan masjid, dan kita bersilaturahim ke tiga desa untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan,” jelas Qoriza.

Sementara itu, menurut Qoriza, para Dai 3T berkomitmen untuk menyusun strategi manajemen kemasjidan, agar program yang digagas para dai dapat dilanjutkan masyarakat hingga masa yang akan datang.

“Strategi ke depan, kita bisa membuat manajemen kemasjidan di seluruh desa. Agar selepas program Dai 3T, kegiatan ini dapat terus berkelanjutan, bisa diteruskan oleh para stakeholder di kecamatan ini,” pungkasnya. (hms)