Oleh: Laelina Farikhah *)

Tes Kemampuan Akademik hadir dalam rangka sebagai alat ukur penilaian peserta didik dari segi akademik yang dinilai secara obyektif dan terstuktur sebagai bahan pertimbangan studi lanjut dan data rekap kemampuan akademik seluruh siswa siswi generasi bangsa (Timur, 2025).

Awal mulanya melihat kebutuhan pemerintah yang belum memiliki pemetaan kemampuan akademik peserta didik yang menjadikan pemerintah kesulitan dalam memetakan kemampuan peserta didik secara nasional sesuai dengan keahliannya. Sehingga dibutuhkan suatu sistem yang dapat menunjang penilaian kemampuan akademik peserta didik secara menyeluruh.

TKA diperuntukkan untuk semua jenjang dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Pelaksanaan TKA perdana ini diperuntukkan kepada peserta didik jenjang SMA, SMK, MA, dan paket C yang terjadwal pada bulan November 2025.

Pelaksanaan TKA perdana ini memang belum diwajibkan untuk seluruh peserta didik, namun tingkat keminatan peserta didik tidak perlu diragukan lagi. Antusiasme peserta didik dalam mengikuti TKA berhasil menembus angka 3,56 juta dari 4,1 juta peserta didik SLTA yang terdaftar (Ririn Ramandani, 2025b).

Tentu hal ini mendeskripsikan bahwa TKA disambut baik oleh banyak pihak yang terkait, dan menjadi suatu kebutuhan yang hasilnya dapat dimanfaatkan untuk jenjang studi berikutnya.

Dibalik respon positif tersebut tentunya terdapat hasil terbaik yang dinanti-nantikan dari pelaksaan TKA yang memiliki fungsi utama dalam tiga hal yakni yang pertama, TKA sebagai jepretan untuk menghasilkan protet capaian pembelajaran peserta didik.

Yang kedua, potretan tersebut menjadi bahan dasar dalam perbaikan pembelajaran. Baik dari segi metode pembelajaran, media pembelajaran, bahkan komponen utama pembelajaran, apakah sudah berhasil merubahan kemampuan peserta didik dan apakah sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Untuk mencapai hasil yang maksimal maka seluruh pihak yang terlibat betul-betul mempersiapkan TKA dengan sungguh-sungguh dan proses yang matang. Mulai dari pembekalan yang diperuntukan peserta didik beruba tambahan jam belajar diluar jam pelajaran, latihan soal, Try Out TKA, dan juga melaksanakan simulasi TKA guna mengetahui sejauh mana hal-hal yang masih perlu dipersiapkan.

Pelaksanaan TKA yang dilaksanakan selama 2 hari ini cukup membangkitkan jiwa adrenalin panitia pelaksana dan peserta didik. Pelaksanaan TKA yang berbasis CBT (Computer Based Testing) berjalan dengan lancar namun tidak luput dari sebuah kekurangan yang cukup membuat tim pelaksana khawatir.

Kendala yang terjadi lebih kepada kendala teknis seperti daya listrik yang anjlok, maupun server eror. Namun kendala-kendala tersebut masih dapat diantisipasi dan tidak mengganggu jalannya pelaksanaan TKA.

Bagi peserta didik, pelaksanaan TKA di hari pertama pada sesi pertama cukup membuat pikiran terforsir berlebihan yang menimbulkan dampak mental bagi peserta TKA disesi selajutnya karena terdistrack dari peserta TKA sesi pertama. Selain itu juga muncul isu-isu jika soal TKA bocor melalui live tiktok dan lainnya oleh peserta TKA gelombang pertama.

Namun pada kenyataannya pelaksanaan TKA sangat dijaga ketat oleh pengawas sekolah maupun pengawas nasional yang memantau jarak jauh melalui Zoom, serta dengan adanya bocoran soal TKA tersebut tidak berpengaruh pada hasil akhir TKA. Karena selama pengerjaanya benar-benar dibutuhkan kefokusan, ketelitian dalam memahami dan menjawab soal, dan juga mereka harus berkejaran dengan waktu pelaksanaan.

Sehingga dalam pengerjaanya benar-benar akan diuji kemampuan pengetahuan peserta didik serta kemampuan manajemen waktu peserta didik. Hal demikian memberikan ketenangan dan kepercayaan diri bagi peserta didik lainnya, sehingga mereka dapat mengikhtiarkan prosesnya untuk jauh lebih maksimal (Hana Dewi Kinarina Kaban, 2025).

Dengan adanya pelaksanaan TKA, peserta didik jauh lebih mempersiapkan masa-masa akhir sekolahnnya dengan belajar sungguh-sungguh sehingga hal demikian meningkatkan keilmuan peserta didik di beberapa bidang mata pelajaran umum serta mata pelajaran pilihan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.

Meskipun hasil TKA bukan sebagai penentu kelulusan peserta didik, namun hasil TKA dapat memberikan pengaruh kepada peserta didik dan instansi pendidikan selanjutnya. Contohnya hasil TKA peserta didik SMA/sederajat menjadi pertimbangan perguruan tinggi untuk menentukan kualitas calon mahasiswa baru yang akan diterima bergabung dengan universitasnya.

Dengan adanya TKA juga menjadi gerbang awal peserta didik lebih dini dalam menentukan jurusan kuliah yang akan diambil. Karena pemilihan mata pelajaran pilihan dalam TKA yang nantinya akan dipakai untuk menentukan jurusan yang akan diambil saat kuliah.

Dnegan demikian mereka jauh lebih memahami kapasitas dan kompetensi diri mereka sejak awal bahwa peminatan dan kemampuan mereka lebih condong dalam bidang apa. Tentu hal ini menjadi kaca besar pagi peserta didik dalam memimpikan cita-citanya serta mengambil langkah keputusan yang sesuai dengan diirinya.

Hal demikian pun terjadi pada tingkat sekolah menengah pertama dan sekolah dasar, hasil TKA menjadi pertimbangan untuk masuk ke tingkatan sekolah selanjutnya melalui jalur prestasi. Hal ini menjadi penguat kemampuan siswa dari nilai raport yang tervalidasi oleh hasil dari nilai TKA (kemendikdasmen, 2025).

Karena hal itu peserta didik sangat menyiapkan secara maksimal persiapan mereka dalam menghadapi TKA agar nilai dan kompetensi yang selama ini mereka perjuangkan dapat tervalidasi dengan maksimal melalui hasil TKA ini.

Harapannya pelaksanaan TKA dapat dilaksanakan kembali di tahun berikutnya tentunya dengan kebijakan yang lebih baik lagi, dan diharapkan dapat diikuti oleh seluruh peserta didik di Indonesia. Untuk mewujudkan harapan tersebut tentu dibutuhkan langkah kongkret yang harus dipersiapkan sebelum pelaksanan TKA tersebut.

Penilaian TKA menjadi alat ukur kemampuan akademik peserta didik secara nasioanal. Artinya menjadi hak seluruh peserta didik mendapatkan akses tersebut. Namun jika dilihat dari daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) yang mana harus diperhatikan dengan baik terkait akses internet dan kesediaan fasilitas yang memadai.

Selain ini juga diharapkan ada perbaikan pada sistem pengerjaan soal yakni antara narasi soal yang panjang namun dengan waktu jawab yang begitu singkat. TKA bukanlah perlombaan siapa cepat siapa yang paling bisa. Namun, lebih kepada siapa yang memahami dan dapat mengerjakan soal menandakan sejauh mana peserta didik dapat memahami materi ketika pembelajaran berlangung. Sehingga diharapkan ada penyederhanaan narasi soal atau perpanjangan waktu pengerjaan.

Langkah perbaikan yang dapat diambil juga dengan cara melaksanakan simulasi TKA yang tidak hanya sekali saja, namun ada penambahan jadwal simulasi agar anak sudah jauh lebih terbiasa dengan TKA yang sebenarnya. Dan yang tidak kalah penting adalah pemeliharaan perlengkapan dan jaringan yang dibutuhkan saat sosialisasi seperti komputer yang lancar koneksi dan daya tekanan listrik yang memadai.

Dari beberapa harapan tersebut lahirlah harapan-harapan yang menjadi meyakinkan pentingnya TKA sebagai penguat kemampuan akhir peserta didik selama mengikuti pembelajaran di sekolahnya, dan juga sebagai pelengkap data system penilaian yang belum maksimal seperti sekarang ini.

Dengan adanya TKA dapat menghadirkan sistem peniliain yang lebih kredibel, transparan, dan berbasis data yang dapat dipertanggung jawabkan guna meningkatkan mutu pembelajaran peserta didik (Ririn Ramandani, 2025) ***

*) Penulis : Guru Pondok Pesantren Modern Zam-Zam Muhammadiyah, Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah

Bagikan :