Biar Tua, PLTU NP Bukit Asam Tetap ‘Macho’ Hadirkan Green Energy Melalui Co-Firing
TANJUNG ENIM | Populinews.com – Siapa bilang Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) cuma bisa mencemari lingkungan dan tidak peduli dengan keresahan masyarakat sekitar. Lihat saja PLTU Bukit Asam 4 x 65 MW Tanjung Enim yang dikelola PT. PLN Nusantara Power. Sejak tahun 2021 pembangkit ini justru mampu menekan emisi karbon — meski persetasenya kecil — serta meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar melalui progam Corparate Social Responsibility -CSR). Inilah komitmen PT. PLN (Persero) dalam menghadirkan energi hijau (green energy) di masa depan.
Malam sudah menunjukkan pukul 12:30 WIB, Enam wartawan dari Forum Jurnalis Energi Indoneia (FJEI) Sumsel tiba di mess tamu & kayawan PT. PLN Nusantara Power, di Tanjung Enim setelah hampir 4 jam menempuh perjalanan darat dari kota Palembang. Mess itu posisinya di atas bukit di Desa Lingga, Kecamatan Lawang Kidul, Tanjung Enim, Sumsel. Persis berhadapan langsung dengan bangunan PLTU Bukit Asam, yang malam itu terlihat sangat cantik dan bikin takjub, karena berhias lampu warna-warna yang sangat eksotik.

Saking terangnya, dua cerobong raksasa yang tinggi tegak dilingkari cat warna merah putih, terlihat jelas berdiri kokoh dengan asap putih bersih bak kapas, keluar dari mulutnya tanpa henti. Sehingga menambah indah untuk dipandang mata, meski malam itu kantuk mulai menyerang.
Benar saja, ketika pagi keesokan harinya, para insan media dengan latar organisasi pers yang juga berbeda ini, makin terkesima ketika memasuki kawasan perkantoran PLTU Bukit Asam ini. Terlihat penataan taman-taman bonsai yang landscape-nya sangat indah, di antara sudut bangunan dan tempat parkir yang rapi dan bergaris putih.
Yang menarik, di beberapa sudut halaman, terdapat sejumlah pohon Mangga yang tengah berbuah lebat. Ini sekaligus menggambarkan, bahwa PLTU ini, sengaja di-setting untuk memberikan kesan lingkungan yang sehat, bersih dan peduli hayati, kendati setiap hari para karyawannya akrab dengan kebisingan gemuruh mesin-mesin penggerak pembangkit yang terus hidup siang dan malam.
Dan yang lebih unik, pada dinding besar dan tinggi berbahan seng peredam panas, penutup area pembangkit di bagian belakang gedung kantor utama, juga terdapat lukisan sketsa Mural berwarna dominan merah kuning dan biru. Sketsa Mural — lukisan bebas dan ‘Macho’ (percaya diri dan agresif-red) ini seakan memberi kesan PLTU Bukit Asam ini bak ‘’anak muda‘’ yang tumbuh dewasa dan semangatnya terus menggelora.

”Beginilah suasana di PLTU Bukut Asam Tanjung Enim ini. Ini pembangkit tertua milik PLN di Sumatera Selatan. Disamping terus menjaga keandalan memproduksi energi listrik, kami juga harus berkolaburasi dengan masyarakat, termasuk kalangan media,” tutur Ince Anjas, Manager PLN Nusantara Power Unit Bukit Asam, ketika menerima kunjunga ke enam jurnaslis FJEI, Senin (21/10/2024) pagi.
Pertemuan yang berlangsung di conference room itu juga dihadiri Fachmi Wibowo (Assistant Manager Operasi), Arief Al Hakim (Assistant Manager Enjiniring), Syamsurizal M (Assistant Manager Business Support), Ali Romico (Team Leader Operasi Coal and Ash Handling) dan Yegi Zolanda (Team Leader Niaga dan Bahan Bakar).
”Itu lukisan Mural, sengaja kita bikin untuk menghadirkan kesan yang secara psykologis tidak membuat karyawan cepat bosan berada di lingkungan PLTU ini. Ada saatnya kita perlu suasana rileks kan? Maklumlah, PLTU ini sudah memasuki usia 37 Tahun, jadi harus tetap berjiwa muda,” tambah Ince Anjas, menjawab pertanyaan seputar ide pembuatan lukisan mural tersebut.

Saat ini, PLTU Bukit Asam, mengoperasikan 4 Unit Pembangkit, yakni Unit 1 berkapasitas 65,06 MW, dan Unit 2 berkapsitas 65,37 MW. Keduanya dibangun sejak 1987 atau sudah berusia 37 Tahun. Kemudian Unit 3 dengan kapasitas 63,85 MW dan UNit 4 dengan kapasitas 63.16 MW. PLTU Bukit Asam Unit 3 dan 4 ini dibangun pertengahan tahun 1994 dan 1995, atau sudah berusia 30 tahun lebih.
Semua energi yang dihasilkan dari ke empat pembangkit ini disitribusikan untuk mendukung kebutuhan listrik di wilayah Sumbagsel, Jambi dan Bengkulu (S2JB), bahkan untuk Sumatera Tengah.
Saat ini, berdasarkan data PLN Unit Induk Distribusi S2JB, kapastias terpasang sebesar 3.927 MW, Daya Mampu Pembangkit S2JB sebesar 3.550 MW, sedangkan beban puncak 1.593 MW. Berarti terdapat cadangan energi listtrik pada sistem S2JB sebesar 1.170 MW.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap ekonomi masyarakat sekitar, PT PLN Nusantara Power Tanjung Enim ini mempekerjakan sebanyak 464 tenaga kerja, terdiri dari 89,16 persen tenaga kerja local (Muara Enim dan Tanjung Enim) dan sisanya 10,84 persen adalah tenaga kerja dari luar daerah.
Program Co-Firing
Terkait masalah Global Warming (pemanasan global) yang harus diantipasi dengan program energi bersih, PLTU Bukit Asam sejak tahun 2021 sudah melakukan upaya menekan dampak gas buang, melalui program co-firing. Istilah co-firing merupakan teknik substitusi (pertukaran) bahan pembakar selain batabara, atau tersebut bahan pengganti energi fosil, yang dalam konteks ini adalah biomassa.
Sumber biomassa ini beragam, mulai dari serbuk gergaji (sawdust), pelet kayu (wood pellet), dan bahkan hingga sampah. Ada juga beberapa PLTU menggunakan cangkang kelapa sawit. Tapi di PLTU Bukit Asam tetap menggunakan sawdust.
Ince Anjas mengatakan bahwa teknik co-firing biomassa ini sudah tepat diimplementasikan di Indonesia, karena ini merupakan langkah paling realistis dalam menjalankan komitmen implementasi green energy (energi hijau) dan mengatasi masalah global warming.
Ia menambahkan bahwa proporsi penggunaan biomassa di PLTU Indonesia beragam, tapi untuk di PLTU Bukit Asam masih di angka 5% dan biomasa yang dugunakan adalah sawdust (serbuk kayu).

Program co-firing juga merupakan salah satu program strategis PLN dalam mendukung peningkatan bauran energi baru terbarukan (EBT) dengan target EBT 23% pada tahun 2025.
Co Firing yang diamanfaatkan PLTU Nusantara Power Unit Bukit Asam, yang masih berupa sawdust tersebut, disuplai melalui PT. PLN Energi Primer Indonesia (PT. PLN EPI), yang juga sub holding PT. PLN (Persero) Tbk.
”Itu di cerobong yang keluar asap putih. Itu asapnya tidak menimbulkan dampak pencemaran. Asap itu ibarat uap dingin yang tercipta melalui proses pemanfaatan batubara yang bercampur biomassa. Ia cepat hilang di udara,” ujar Ince Anjas menjelaskan.
Tahun 2021 (sejak go-live Co-Firing 24 Agustus 2021) implementasi co-firing PLTU Bukit Asam telah berkontribusi terhadap pencapaian EBT sebanyak 1,42 GWh. Sedangkan untuk Tahun 2022 (s/d Nov 2022) telah terjadi peningkatan pencapaian EBT menjadi sebesar 5,33 GWh tanpa belanja modal (Pembangkit EBT) setara 5,33 juta kWh.
Stabilitas Ketersediaan
Berbicara mengenai stabilitas ketersediaan biomassa untuk PLTU Bukit Asam ini, Ince Anjas mengakui masih menjadi tantangan besar. Karena kalau bicara terkait energi pembangkit terbarukan, kita harus bicara soal supply and demand. Demand listrik itu selalu ada dan terus bertumbuh, tapi bagaimana suplai bahan energi terbarukan itu bisa tersedia setiap saat? Ini yang harus dipolarisasi secara matang.
”Alahmdulillah sekarang sudah ada daerah yang berhasil membentuk ekosistem ketersediaan biomassa. Seperti di Jawa Timur dan Gunung Kidul Jawa Tengah. Nah, tinggal kita di Sumatera Selatan, untuk segera memulainya dengan belajar dari keberhasilan tersebut,” ujarnya.
Kesuksesan di dua daerah tersebut, jelasnya, karena didukungan penuh oleh kepala pemerintahan setempat dan institusi terkait. Tentu saja diharapkan menjadi inspirasi bagi penguasa daerah dan masyarakat di Sumatera Selatan.
Seperti dilakukan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sebagai gubernur DIY ia membangun kerjasama dengan PLN, menerapkan konsep Ketahanan Energi Rakyat Semesta melalui pembangunan Hutan Tanaman Energi (HTE) dengan melibatkan masyarakat pemilik lahan di Gunung Kidul.
Caranya, para pemilik lahan di sini, membentuk kelompok tani (Poktan) atau gabungan kelompok tani (Gopaktan) untuk secara masif nenanam tanaman biomassa, seperti jenis Kaliandra Merah, Gamal, Indigofera dan Gmelina. Penanaman secara masif dilakukan setelah PLN memberikan bantuan bibit, perawatan, hingga masa penen bahkan komersialisasinya dengan PLTU PLN, dan itu dilakukan sejak setahun lalu.

Artinya PLN tak hanya membantu penanaman biomassa tersebut, tapi sekaligus melakukan pendampingan kepada masyarakat cara mengelola hutan energi ini sampai berhasil. Disamping itu secara bersamaan PLN mendukung masyarakat untuk bisa mengelola ternak di sekitar hutan energi sehingga mampu menjadi rantai pasok biomassa.
Setelah ada HTE, masyarakat bisa mengembangkan ternak, yang pakannya juga berasal dari daun tanaman HTE itu sendiri. Sedangkan kotoran ternaknya, juga bisa dijadikan pupuk kadang, untuk penenanam kembali tanaman energi tersebut. Jadi HTE itu, menjadi ekosistem hidup yang akan berlanjut terus menerus.
Apa yang dilakukan masyarakat di Gunung Kidul itu, sebenarnya sangat mungkin diterapkan di Sumatera Selatan, yang jumlah lahan perkebunan dan lahan tidurnya cukup besar. Untuk itu, PLTU Bukti Asam, hingga kini terus berupaya melakukan pendekatan dengan stakeholeder dan melakukan sosialisasi kemanfaatan lahan masyarakat untuk ditanami tanaman biomassa, hingga bernilai ekonomis.
Tanaman biomassa tidak melulu harus dilakukan di lahan tidur, tapi juga bisa dilakukan secara tumpang sari di perkerbunan yang sudah ada. Baik itu perkebunan sawit, kelapa atau tanaman keras lainnya. ”Kami dari PLTU Bukit Asam, siap membantu mulai dari pembibitan, pearawatan hingga komersilisasi pasca panen,” ujar Ince Anjas menambahkan.
Secana nasional, PT PLN Nusantara Power sudah berhasil mengurangi emisi CO2 sebesar 17 juta ton melalui penerapan teknologi co-firing di PLTU. Bahkan sepanjang tahun 2023, PLN NP telah memproduksi 525,62 GWh energi bersih melalui co-firing, yang setara dengan pengurangan emisi karbon sebesar 533.291,79 ton. Implementasi co-firing ini telah dilakukan secara berkelanjutan di 24 PLTU yang tersebar di seluruh Indonesia.
Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, menegaskan bahwa penerapan co-firing di PLTU merupakan langkah penting untuk mencapai target Net Zero Emissions (NZE) pemerintah pada tahun 2060.
“Hampir semua PLTU PLN NP sudah menerapkan co-firing. Tantangannya kini adalah meningkatkan persentase penggunaan biomassa dari 5 persen menjadi 10 persen. Dari sisi mesin pembangkit, tidak ada masalah, tantangan utamanya adalah ketersediaan feedstock. Untuk itu, kami membuka peluang sebesar-besanya bagi masayrakat untuk membuat program Hutan Tanaman Indistri (HTE) ini,” ujar Ruly.
Selain co-firing, PLN NP juga aktif dalam menghasilkan energi bersih dari pembangkit berbasis air dan surya, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Brantas dan Cirata, serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata, yang merupakan PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas 192 MWp. PLN NP juga telah mengoperasikan PLTS IKN berkapasitas 10 MW, yang akan disusul dengan pembangunan tambahan kapasitas sebesar 40 MW.
Langkah-langkah strategis ini menunjukkan komitmen PLN Nusantara Power dalam mendukung transisi energi bersih dan berkelanjutan di Indonesia dengan pola kolaburasi berkesinambungan, sejalan dengan target global untuk mengurangi emisi karbon dan menjaga keberlanjutan pelestarian lingkungan. (dahri Maulana)
** Tulisan ini merupakan kepesertaan penulis pada lomba PLN Journalis Award 2024 untuk kategori feuture

