Tradisi Potong Gimbal Warnai HUT ke-200 Wonosobo, Simbol Spiritual Warisan Leluhur
WONOSOBO | Populinews.com – Prosesi Ritual pemotongan rambut gimbal kembali digelar saat puncak acara HUT ke 200 di Kabupaten Wonosobo, Kamis (24/7/2025). Selanjutnya potongan Rambut gimbal tersebut dibawa ke Telaga Menjer Garung untuk dilarung di sana. Larung dilakukan oleh tokoh masyarakat penganut kepercayaan.
Prosesi yang menjadi bagian dari rangkaian Pisowanan Agung 2025 ini digelar di pendopo Kabupaten Wonosobo. Bupati dan jajarannya memotong langsung rambut gimbal dari 10 anak yang menjadi peserta. Setelah dicukur rambutnya, anak-anak melakukan pawai keliling ke Kota Wonosobo bersama Bupati dan Wakil Bupati serta jajaran Forkopimda setempat.
“Rambut gimbal ini merupakan tradisi yang sudah ada di Kabupaten Wonosobo. Anak yang mengalami rambut gimbal sangat jarang ditemukan. Jadi untuk memotongnya perlu ada semacam ritual,” kata Bupati Wosobo Afif Nurhidayat kepada awak media.
Tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun ini diyakini sebagai wujud penyucian diri sekaligus pelepasan beban spiritual yang melekat pada anak-anak berambut gimbal. Rambut gimbal yang tumbuh secara alami pada anak-anak usia 3 hingga 6 tahun dipercaya bukanlah kelainan medis biasa, melainkan simbol keterikatan dengan para leluhur.
“Ruwat Rambut Gimbal ada beberapa ritual yang harus di jalani diantaranya anak-anak ini dimandikan dulu, dan tadi juga ada ritual khusus sebelum dipotong oleh Bupati,” kata Afif.
Afif menegaskan bahwa Pemkab Wonosobo berkomitmen melestarikan tradisi ini sebagai warisan budaya takbenda sekaligus daya tarik wisata.
Rambut Gimbal, Warisan Leluhur Wonosobo Masyarakat Wonosobo percaya bahwa rambut gimbal merupakan titisan dari tokoh leluhur bernama Kyai Kolodete, yang diyakini memiliki ikatan spiritual kuat dengan kawasan Wonosobo.
Anak-anak yang mengalami demam panjang tanpa sebab medis dan kemudian tumbuh rambut gimbal seperti Kyai Kolodete yang merupakan salah satu tokoh di Kabupaten Wonosobo.
Usai prosesi ruwat anak-anak gimbal yang mengenakan busana serba putih diiringi pembawa sesaji. Sebelum rambut dipotong, permintaan anak-anak disebut harus dipenuhi. “Mereka yang dipotong hari ini sudah memiliki permibtaan yang harus dituruti oleh orang tuanya, ada yang minta sepeda ada yang minta eskrim juga tadi,” ujat Bupati.
Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo Agus Wibowo menyebut rambut gimbal ini merupakan tradisi para leluhur di Wonosobo. Anak yang mengalami rambut gimbal sangat jarang ditemukan.
“Ada beberapa ritual yang harus di jalani anak-anak. Di antaranya anak-anak ini dimandikan dulu, dan tadi juga ada ritual khusus sebelum dipotong oleh Bupati,” kata Agus.
Sebelum rambut dipotong, permintaan anak-anaktersebut harus dipenuhi. Ada anak yang minta sepeda ontel, sepeda listrik, tas sekolah bahkan ada yang meminta scin care.
“Mereka yang dipotong hari ini sudah memiliki permintaan yang harus dituruti oleh orang tuanya, ada yang minta sepeda ada yang minta eskrim juga tadi,” kata Agus.
Ruwatan Rambut Gimbal menjadi puncak dari rangkaian Pisowanan Agung, yang tahun ini dimulai sejak pukul 07.00 WIB dengan persiapan kirab budaya.
Prosesi dilanjutkan dengan penampilan tari kolaboratif seperti Kuda Kepang, Lengger, dan Setjonegoran, serta atraksi terjun payung yang mewarnai langit Wonosobo. (sya)

