Ketika Usaha Rias Pengantin Terkikis Pandemi, Ada Berkah Dibalik Balpres

PALEMBANG | Populinews.com — Sejak pandemi Covid-19, pelan tapi pasti order rias pengantin, yang biasanya setiap minggu tak pernah kosong, terus saja berkurang. Bahkan belakangan semakin sulit didapat. Kondisi ini akhirnya memaksa Dessy Rafikasari (36), harus banting stir. Putar akal, akhirnya ia pun menekuni usaha baru. Menjadi pedagang baju branded sortiran Singapura, khusus untuk anak-anak dengan berbagai merk.
Dessy sebenarnya tak punya bakat berfose dan berteriak-teriak di depan kamera. Ia pun tak begitu paham dengan berbagai merk pakaian produk luar ngeri, yang memang berkualitas tinggi. Tapi kalau bicara soal merias wajah dengan bedak, farfum dan eyesedow, dia punya Sertifikat Khusus, dari sebuah lembaga pendidikan tata rias terkenal di Palembang.
Dengan modal keahlian itulah, Dessy sejak tahun 2015 silam menekuni usaha tata rias pengantin. Iya pun sempat meminjam modal dari bank sebesar Rp 100 juta, dengan agunan sertifikat tanah, atas nama suaminya yang saat itu baru saja memulai usaha counter handphone dan pulsa.
Uang itu kemudian digunakan untuk membeli berbagai jenis pakaian pengantin, seperti baju sliyer, baju seragam bisket dan beragam asesoris pelengkap lainnya. Alhasil ruang tamu rumahnya, yang terletak di Lorong Abadi kawasan 8 Ulu Palembang, sesak dengan lemari kaca yang berisi beragam pakaian adat pengantin.
Dibantu suaminya dan beberapa karyawan pembantu, usaha yang ditekuni Dessy membuahkan hasil yang lumayan. Seiring dengan semakin banyaknya masyarakat yang percaya atas pelayanan yang diberikan. Dalam seminggu tak putus dua orderan datang dari masyarakat yang ingin menyewa jasanya menghias pengantin.
Satu orderan jasa rias plus paket pakaian adat, Dessy mematok harga yang sedikit lebih murah, yakni antara Rp 3-4 juta saja. Harga ‘persahabatan’ itu untuk dua jenis pakaian pengantin, yakni untuk di panggung dan untuk sesi foto2 dengan keluarga. Karena di Palembang, ada semacam kebiasaan, setiap pengantin minimal harus berganti pakaian dua kali, agar tak terlihat monoton.
Hanya butuh waktu dua tahun, Dessy sudah bisa mengembangkan usahanya, yakni menambah perangkat pelaminan dan asesorisnya. Di Palembang dikenal dengan isitlah ‘Kuade’. Yakni panggung pengantin dengan latar belakang hiasan ukiran kayu yang dipenuhi bunga warna-wani.
Dengan tambahan perangkat pelaminan tersebit, Dessy tak hanya sebagai penata rias, tapi sekaligus juga menjadi penata panggung pengantin. Dengan paket lengkap, merias dan sewa pelaminan, Dessy mematok harga include antara Rp 6-7 juta. Dengan modal aset yang dimilikinya, pada tahun 2019, Dessy pun sudah bisa melunasi angsuran pinjamannya di bank swasta.
Mati Suri karena Pandemi
Kini kisah sukses Dessy itu hanya tinggal seberkas kenangan. Sesuatu yang tidak pernah ia sangka-sangka sebelumnya, terjadi begitu terasa. Sejak pandemi Covid-19 mencuat, lalu menyusul berbagai kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat skala besar, kemudian adanya larangan berkeremun, praktis membuat usaha Dessy terdampak langsung.
Apalagi ketika muncul banyak berita di Medsos, tentang tindakan petugas membubarkan acara kawinan warga, karena adanya larangan berkerumun. Berita itu langsung berpengaruh pada kondisi sosial masyarakat, sehingga banyak yang berpikir ulang untuk melaksanakan acara pernikahan dengan mengundang banyak orang. Apalagi di room besar hotel-hotel, tempat dimana Dessy sering memajang asesoris pelaminannya. Sejak pandemi menjadi momok paling menakutkan, tak pernah ada lagi yang menyewa perangkat Dessy untuk dipasang di ruangan aula hotel untuk acara pernikahan.
Alhasil masyarakat yang hendak menikah, kebanyakan hanya melangsungkannya di rumah secara sederhana, atau memilih langsung mengeglar Ijab Kabul di Kantor Urusan Agama. Jarang sekali ada pesta pernikahan mewah dan banyak tamu undangan. Itu artinya, masyarakat yang melangsungkan pernikahan tidak lagi memerlukan panggung pelaminan, serta tata rias yang mentereng.
Perubahan kultur masyarakat terhadap prosesi pernikahan ini pun ahkirnya pelan tapi pasti ‘membunuh’ usaha yang ditekuni Dessy menjadi mati suri. Sepi order, ia alami sampai berbulan-bulan hingga di penghujung tahun 2020 lalu. Kalau pun ada, itu pun hanya sebulan sekali dengan harga yang tak sesuai.
Alhasil Dessy pun memutuskan banting stir. Aset pelaminan dan asesoris pakaian adat untuk pengantin, sejak April 2021 lalu, satu persatu iya jual dengan orang lain. Tiga orang pembantunya yang biasa bekerja memasang pelaminan pun terpaksa ia rumahkan, karena tak sanggup lagi membayar gajinya.
Dengan modal menjual aset usahanya itu, Dessy lantas mencoba usaha di dunia maya, karena ia sering melihat di akun fcebooknya, banyak yang berjualan barang secara online. Tapi usaha apa? awalnya Dessy sedikit bingung. Ia pun lantas berdiskusi dengan suaminya. Yang penting usaha itu tidak banyak yang menekuninya di dunia maya, biar agak mudah mencari pembelinya.

Kesangsem Balpres
Suatu ketika di awal Mei 2021, Dessy pergi berbelanja di Pasar Induk Jakaring Palembang, untuk membeli bahan untuk membuat kue. Di salah satu sudut pasar ia melihat sebuah truk tengah menurunkan puluhan ballpres barang, berukuran besar. Penasaran, Dessy pun mencoba bertanya pada seorang pedagang yang ia hampiri.
Barang apakah gerangan yang diturunkan di toko itu? Sang pedagang pun menjawab, barang itu adalah pakaian impor dari Singapura dengan beragam jenis. Seperti Levis dan pakaian anak-anak. Pakaian itu, rata-rata pakaian bermerk sisa toko di Singapura yang tak laku terjual. Toko itu adalah agennya. Ia tidak menjual eceran, melainkan langsung dijual per-balpres.
Makin penasaran, Dessy pun mendekati toko ballpres tersebut. Ternyata, disini sudah banyak pembeli yang menunggu. Desy pun lantas bertanya tentang jumlah isi balpres tersebut kepada seorang pekerja, dan berapa harganya. Ternyata berapa banyak pakaian terdapat di dalam balpres itu tidak bisa diketahui, karen amemang tidak disortir lagi oleh pemilik. Balpres itu hanya ada kode yang menunjukkan jenis pakaian di dalamnya. Ada kode pakaian untuk dewasa dan pakaian anak-anak.
Untuk jenis pakaian orang dewasa, harganya sekitar Rp 8 juta per balpres. Sedangkan pakaian anak-anak rata-rata Rp 7 juta. Pembelian langsung cash and carry dan barang akan diantarkan ke alamat pembeli.
Dessy kemudian menelpon suaminya, meminta persetujuan untuk mencoba membeli satu balpres pakaian anak-anak. Saat itu ia merasa yakin, bisa menjual pakaian tersebut secara online. Apalagi saat itu akan memasuki bulan puasa dan menjelang lebaran. Selain itu, di akun Medsos, iya merasa tidak banyak yang menekuni usaha ini.
Diri ujung telelpon, sang suami rupanya setuju saja. Dessy pun lantas menghubungi pemilik toko untuk memesan satu balpres pakaian anak-anak. Transaksi pun dilakukan. Dessy langsung membayar Rp 7 juta untuk satu balpres melalui m-banking saat itu juga. Selang beberapa jam barang pun diantar ke alamat rumah.
Setibanya balpres itu di rumah, Dessy langsung membuka. Ternyata benar saja, isi balres itu adalah sebagian besar pakaian anak-anak yang masih baru. Hal itu dibuktikan dengan masih adanya merk pakaian yang terjuntai di setiap helainya. Hanya saja, kondisinya kusut marut karena balpres dipadatkan dengan mesin.
Selepas magrib, Dessy mulai mencoba tampil life di akun facebooknya. Ia mengundang followernya sekaligus meminta agar membagikan (share) kepada temannya masing-masing lainnya. Dengan intonasi suara yang masih kaku, ia mencoba menawarkan pakaian anak-anak tersebut, sembari membeberkannya di depan kamera sambil menyebutkan merknya.
Soal harga, Dessy mematok nilai yang sangat murah. Paling Rp 5.000 per helai, dan paling tinggi Rp 40.000 per-helai. Itu diluar ongkos kirim (Ongkir), baik menggunakan Go Jek, Go Ride atau Go Send. Di luar dugaan, ternyata banyak follower yang berminat. Lewat kontak WA yang terhubung di akun FB-nya, tak sedikit follower yang membeli sampai 10 helai.
Singkat cerita, hanya dalam dua jam life di FB, Dessy sudah mendapatkan pembeli dengan nilai transkasi hampir Rp 2 juta. Barang-barang kemudian langsung dikirim ke alamat dengan menggunakan jasa Go Jek, Go Ride dan jasa kurir COD (Cash on Demand), atau dibayar di tempat oleh pembeli.
Malam berikutnya, hal sama dilakukan kembali. Kali ini Dessy tampil life lebih pede. Ia pun mulai tahu dengan berbagai merk pakaian yang berkelas. Seperti Wrengler (untuk celana levis), Uniqlo dan H&M (untuk pakaian anak), Adidas, Puma dan Zara, untuk berbagai jenis baju anak pria dan wanita. Jika ada pakaian yang ‘cacat’ sedikit, seperti ada noda dan lepas kancing, Dessy pun jujur mengatakannya, agar pembali tak kecewa.
Begitulah hari-hari yang dilakoni Dessy, sang perias pengantin yang beralih usaha ke dunia maya, karena usaha awalnya tergerus pandemi Covid-19. Hingga saat ini tak terasa sudah hampir 8 bulan, ia berbisnis pakaian branded eks Singapura lewat media online.
Dessy juga merasa sangat terbantu dengan hadirnya Flatform Digital GoJek lewat aplikasi Go Ride, karena pengiriman barang pesanan konsumen selalu sampai tapat waktu. Ini pula yang membuat usahanya menjadi cepat berkembang.
Bahkan ia sudah bisa mempekerjakan dua orang asisten, dengan honor Rp. 800 Ribu, untuk penjualan satu balpres pakaian sampai habis. Sebuah berkah dari Yang Maha Kuasa untuk insan yang tak putus asa dalam berusaha. Dessy pun kini hanya butuh waktu 3 malam life di Medsos, untuk menghabiskan satu balpres pakaian anak-anak.
Dalam setiap satu balpres, Dessy mengaku bisa mendapatkan keuntungan kotor sekitar Rp 3 juta. Sepintas angka ini sepertinya tak seberapa. ”Tapi, cobalah kalkulasi ulang bahwa nilai Rp 3 juta itu untuk 3 hari. Jika dikalikan sebulan berarti Rp 3 juta x 10 = Rp 30.000.000,-. Angka ini kemudian dipotong untuk membayat dua asistennya. Hitung-hitung masih ada keuntungan bersih sekitar Rp 12 Juta sebulan. Siapa yang mau ngasih? Gaji ASN saja belum tentu segitu,” ujarnya mengakhiri. (dm)
Penulis : Dahri Maulana

