Rangkaian Hari Jadi Wonosobo: Ritual Topo Bisu hingga Ruwatan Rambut Gimbal Bakal Digelar Khidmat
WONOSOBO | Populinews.com – Pemerintah Kabupaten Wonosobo kembali menggelar tradisi ritual Topo Bisu dan penyatuan air dari tujuh sumber mata air dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Wonosobo. Ritual adat yang sarat akan makna sejarah ini tidak hanya diikuti oleh jajaran pemerintah desa, melainkan juga melibatkan masyarakat umum.
Kepala Bidang Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo, Ratna Sulistyawati menjelaskan, ritual Topo Bisu merupakan simbolisasi peristiwa sejarah perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Wonosobo dari Desa Plobangan menuju lokasi kota yang sekarang.
”Topo Bisu melambangkan perpindahan Wonosobo dari Plobangan ke lokasi saat ini. Prosesi dilakukan secara membisu atau bisu sebagai bentuk kekhidmatan dan doa penuh harapan agar Wonosobo ke depan menjadi lebih baik,” ujar Ratna saat ditemui di sela-sela persiapan prosesi.
Ratna menambahkan, berbeda dari tahun-tahun awal yang hanya diikuti oleh perangkat Desa Plobangan, kini Topo Bisu melibatkan kepala desa dan perangkat desa dari 15 kecamatan se-Kabupaten Wonosobo. Bahkan, pihak Disparbud memberikan kuota khusus bagi masyarakat umum yang ingin bergabung.
”Tahun ini kami buka pendaftaran lewat media sosial untuk masyarakat umum. Antusiasnya sangat tinggi, hanya dalam dua hari terpilih sekitar 80 peserta umum yang ikut berpartisipasi,” terangnya.

Selain Topo Bisu, rangkaian ritual adat juga disiisi dengan penyatuan air yang diambil dari tujuh sumber mata air keramat di Wonosobo serta pengambilan tanah adat. Air tersebut didoakan secara lintas agama oleh tokoh dari enam agama formal, sebelum akhirnya diserahkan kepada Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (MLKI) untuk didoakan secara khusus di Paseban Timur.
”Untuk tanah adat nantinya akan ditanam di area Ringin Kurung Alun-alun Wonosobo pada malam hari. Penyatuan air dan penanaman tanah ini melambangkan harapan akan kemakmuran, keberkahan, serta kesejahteraan bagi seluruh warga Wonosobo,” tambahnya.
Puncak prosesi budaya akan dilanjutkan pada esok harinya melalui penyerahan Panji Daerah dari 15 kecamatan yang menampilkan beragam hasil bumi dan potensi lokal wilayah masing-masing. Rangkaian acara juga dilanjutkan dengan ritual sakral Ruwatan Cukur Rambut Gimbal bagi 7 anak di Pendopo Kabupaten sebelum pelaksanaan salat Jumat.
“Meski susunan acara dipadatkan agar berjalan efektif, seluruh tahapan prosesi adat tetap kita jalankan secara utuh tanpa mengurangi nilai kesakralannya,” pungkas Ratna.
