WONOSOBO | Populinews.com – Pengrajin pandai besi di Dusun Dalangan, Desa Purwojati, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, hingga kini masih bertahan menjalankan usaha turun-temurun di tengah modernisasi dan menurunnya minat generasi muda terhadap profesi tersebut.

Kepala Desa Purwojati, Nuruddin Ma’ruf, Selasa (19/5/2026), mengatakan terdapat sekitar 125 lokasi pengrajin pandai besi yang masih aktif berproduksi. Profesi tersebut telah ada sejak tahun 1850-an dan kini diwariskan hingga generasi ketujuh.

“Sejak berdirinya desa kami, masyarakat Dusun Dalangan sudah berkecimpung di kegiatan pandai besi. Ini dilakukan turun-temurun sampai hari ini,” katanya.

Menurut Nuruddin, sekitar 30 persen dari total 4.500 jiwa penduduk Desa Purwojati bekerja sebagai pengrajin besi. Aktivitas produksi dilakukan mulai pukul 06.00 hingga 11.00 WIB dengan menggunakan arang sebagai bahan bakar utama tungku pembakaran.

Ia menjelaskan, penggunaan arang dinilai masih menghasilkan panas terbaik untuk proses peleburan besi dan baja. Percobaan penggunaan batu bara pernah dilakukan, namun hasilnya belum maksimal.

“Pengrajin berharap ada inovasi teknologi pembakaran menggunakan gas atau listrik dengan biaya operasional yang tetap terjangkau,” ujarnya.

Produk pandai besi dari Dusun Dalangan dikenal memiliki kualitas kuat dan tajam karena menggunakan perpaduan bahan besi dan baja dalam proses pembuatannya.

“Besi sifatnya lunak, sedangkan baja keras. Dua elemen itu dilebur menjadi satu supaya hasilnya lebih tajam dan tahan lama,” jelas Nuruddin.

Ketua Kelompok Pengrajin Pandai Besi Dusun Dalangan, Damianto, mengatakan para pengrajin saat ini menghadapi sejumlah kendala, terutama kenaikan harga arang dan menurunnya minat generasi muda terhadap profesi pandai besi.

“Kalau harga dinaikkan terus pasar tidak mau menerima, itu juga jadi kesulitan bagi kami. Jadi sebisa mungkin kami bertahan,” katanya.

Selain itu, perubahan pola masyarakat juga menyebabkan permintaan alat pertanian tradisional mulai berkurang.

“Sekarang anak muda lebih memilih pekerjaan lain. Padahal ini warisan leluhur dan menjadi sumber penghidupan warga,” ujarnya.

Meski demikian, para pengrajin mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Sejumlah pengrajin kini menggunakan blower dan mesin tempa sederhana untuk membantu proses produksi.

Pemasaran produk juga mulai dilakukan secara daring melalui media sosial dan platform digital.

“Beberapa pengrajin sudah memanfaatkan media sosial untuk pemasaran, bahkan ada yang sambil live TikTok untuk menawarkan produk,” kata Damianto.

Pemerintah desa berharap ada dukungan dari pemerintah daerah maupun pusat terkait pengembangan teknologi produksi yang lebih efisien guna menjaga keberlangsungan usaha pandai besi tradisional di Dusun Dalangan. (advertorial/sya)

Bagikan :