WONOSOBO | Populinews.com – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Sumbing, Kabupaten Wonosobo, terus diintensifkan. Kepolisian bersama tim gabungan berupaya melokalisasi titik api agar tidak meluas ke kawasan hutan pinus, lahan pertanian, hingga permukiman warga. Di tengah medan yang sulit dijangkau, opsi pemadaman melalui udara menggunakan helikopter water bombing turut dipertimbangkan.

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Roy Hardi Siahaan meninjau lokasi kebakaran pada Rabu (21/10/2026). Dalam peninjauan tersebut, ia memastikan upaya pengendalian api terus dilakukan oleh personel gabungan, terutama untuk mencegah penjalaran kebakaran ke wilayah yang berpotensi membahayakan masyarakat.

“Personel di lapangan terus berjuang naik ke atas, membatasi dan melokalisir api agar tidak melebar. Saat ini kondisi masih menyala dan kita terus berupaya padamkan. Kami juga menjajaki pengerahan helikopter water bombing yang disiagakan dari Gunung Lawu jika kondisi medan memungkinkan,” ujar Roy.

Menurutnya, kondisi geografis Gunung Sumbing yang terjal dan ekstrem menjadi tantangan tersendiri dalam proses pemadaman. Keterbatasan akses menuju titik api membuat penanganan melalui jalur darat membutuhkan upaya ekstra. Karena itu, kemungkinan penggunaan metode pemadaman udara sedang dijajaki sebagai dukungan untuk menjangkau area yang sulit diakses petugas.

Selain penanganan kebakaran, aspek keselamatan masyarakat juga menjadi prioritas. Seluruh jalur pendakian Gunung Sumbing dan gunung-gunung lain di Jawa Tengah diberlakukan penutupan secara ketat guna menghindari risiko terhadap pendaki maupun pengunjung selama kondisi belum dinyatakan aman.

Sebelumnya, tim gabungan telah mengevakuasi seluruh pendaki yang berada di kawasan gunung. Sebanyak 162 pendaki dilaporkan berhasil turun dalam keadaan selamat.

Sementara itu, Kapolres Wonosobo AKBP Ricky Pripurna Atmaja menjelaskan bahwa penanganan kebakaran membutuhkan dukungan lintas sektor seiring luasnya area terdampak. Penetapan status tanggap darurat, menurut informasi yang disampaikan, menjadi salah satu langkah yang didorong bersama pemerintah daerah untuk mempercepat mobilisasi bantuan dan penanganan di lapangan.

Berdasarkan data Polres Wonosobo, luas area terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 306 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 140 hektare dilaporkan telah berhasil dipadamkan. Adapun penanganan masih difokuskan pada dua hamparan titik api aktif yang masing-masing diperkirakan seluas 90 hektare dan 70 hektare.

“Sebanyak 180 personel yang terbagi dalam enam peleton kami sebar ke titik-titik kritis, seperti kawasan Banyumudal. Selain membuat sekat bakar (firebreak), kami juga dibantu warga petani setempat yang mengerahkan mesin pompa steam air untuk membasahi area rawan,” jelas Ricky.

Pembuatan sekat bakar dan pembasahan area rawan dilakukan untuk membantu membatasi penjalaran api. Dukungan warga setempat juga menjadi bagian penting dalam upaya penanganan, terutama di kawasan yang membutuhkan pengawasan intensif untuk mencegah kobaran api meluas.

Kapolda Jawa Tengah turut mengimbau masyarakat dan pengelola kawasan Perhutani agar meningkatkan kewaspadaan serta tidak melakukan pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta mematuhi penutupan jalur pendakian sampai kondisi dinyatakan benar-benar aman.

Penanganan karhutla di Gunung Sumbing kini menjadi perhatian bersama, mengingat luasnya area terdampak dan tantangan medan yang dihadapi petugas. Upaya pelokalisasian api, dukungan personel gabungan, serta penjajakan pemadaman udara diharapkan dapat mempercepat pengendalian kebakaran dan mencegah dampak yang lebih luas terhadap lingkungan maupun masyarakat sekitar.

(syasya)

Bagikan :