Bebatuan besar dengan patahan yang tersusun alami di Puncak Gunung Ranai, Natuna

NATUNA | Populinews.com — Selain kekuatan spiritualnya, ia menyimpan Keragaman flora dan fauna yang sulit dijumpai di tempat lain. Di bagian punggung, ada air terjun nan elok dengan air yang bening. Geosite Gunung Ranai, karena keunikan dan keragaman hayati itu, menjadikannya sebagai salah satu “permata”  kawasan Geopark Nasional yang harus dilindungi sekaligus diperjuangkan agar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Membentang di sisi timur Pulau Bunguran, Gunung Ranai, yang juga memiliki dataran dengan ketinggian berkisar antara 300-1.035 meter diatas permukaan air laut (mpdl), tampak mencolok bagai permata yang menjadi pembatas wilayah 3 kecamatan yakni kecamatan Bunguran Timur, kecamatan Bunguran Timur Laut dan kecamatan Bunguran Tengah.

Langit di atas sebelah kiri Gunung Ranai, juga menjadi jalur pesawat udara ketika hendak landing di Bandara Raden Sajad Natuna. Gunung berbatu kekar yang berselimut hutan lebat ini, sekaligus menjadi latar bandara saat tiba di Natuna.

Hamparan batu granit menyambut kita diawal jalur pendakian kawasan gesosite Gunung Ranai

Dalam catatan Wikipedia, Geosite Gunung Ranai yang merupakan salah satu geossite dalam Geopark Nasional Natuna ini memiliki jalur pendakian yang lumayan ekstrim, kita bisa mengawali pendakian dari jalur di kelurahan Ranai Darat kecamatan Bunguran Timur, hanya sekitar 3 km dari kawasan Landmark Pantai Piwang. Sejak awal memasuki kaki gunung, kita akan disuguhi pemandangan aneka batuan granit berukuran besar dan ciri khas Geosite Nasional Natuna.

Menikmati Geoprak Nasional Natuna tak sah rasanya jika kita tak mencoba mendaki menikmati permata hijau nan indah ini, meski penulis tinggal di Natuna baru kali ini berkesempatan menelusuri dan belajar tentang geosite Gunung Ranai, letaknya tidak jauh dari pusat kota Ranai, dari Landmark Geopark Nasional Natuna, atau dari bandara RSA.

Untuk mendaki sampai puncak gunung butuh waktu 2 sampai 5 jam dengan track menanjak dan cukup curam. Perlu stamina dan bekal cukup, meski tercatat sebagai gunung dataran rendah tetapi hawanya cukup dingin dan lembab.

Puncak gunung Ranai selalu diselimuti awan. Jalur pendakian ini tak bisa diremehkan, cuaca yang sering hujan menjadi tantangan tersendiri, meski tak perlu melapor di pos pendakian seperti halnya jika mendaki gunung ditempat lain, tetapi sebaiknya untuk mendaki gunung Ranai ditemani guiede local, lintah dan jenis kelabang ukuran jumbo bisa kita temui di track ini.

Awan di Puncak gunung Ranai menjadi penanda para nelayan setempat, nelayan Natuna  berpedoman jika awan tebal menandakan cuaca di laut bisa berangin kencang, berombak bahkan berhujan. Biasanya Nelayan enggan turun saat puncak Gunung Ranai tidak kelihatan.

“Kami tidak berani melaut, jika awan di gunung Ranai tebal, apalagi jiga puncak hingga badannya tidak keliatan, bisa dipastikan kondisi cuaca dilaut membahayakan. Tetapi jika gunung Ranai cerah dan tampak dekat, itu artinya cuaca di laut aman dan ikan melimpah,” terang Sirad, nelayan setempat yang menemani penulis.

Kekah, hewan sejenis kera yang memiliki mata yang tajam, dengan lingkaran bulat seperti berkacamata

Jika kita beruntung di ujung jalan aspal kita akan menemui sungai kecil, di kebun warga ini kita bisa menyaksikan lucunya tingkah polah Kekah, salah satu keragaman hayati  penghuni Gunung Ranai.

Kekah merupakan hewan endemik Natuna (Presbytis Natunae). Kekah merupakan mamalia yang termasuk ke dalam ordo Primata dan Genus Presbytis. Kekah merupakan monyet berukuran sedang sampai besar dengan bentuk kepala bulat, moncong pendek, tungkai dan tangan panjang. Bagian perut menonjol dengan ekor tebal maupun panjang. Ukuran tubuh genus Presbytis berkisar antara 420 hingga 610 milimeter. Hewan ini sangat suka buah-buahan sebagai makananya, begitu juga pucuk dedaunan.

Kekah Natuna tersebar di beberapa tipe habitat dan ketinggian dengan gunung tertinggi berada di Gunung Ranai 1.035 meter di atas permukaan laut. Habitat yang di huni kekah Natuna antara lain, hutan premier pegunungan, hutan sekunder, kebun karet tua, daerah riparian. Kekah juga nisa di temui di daerah beririsan dengan hutan mangrove dan kebun campuran. (primata.ipb.ac.id-red).

Data Dinas Pariwisata Natuna mencatat potensi keragaman hayati Geopark Nasional Natuna yang luar biasa yang terdiri dari 101 spesies burung, 34 spesies mamalia, 30 spesies amfibi, 56 jenis reptilia, 75 spesies kupu- kupu, 15 spesies capung, 7 spesies tawon, 33 spesies ikan air tawar, penyu, terumbu karang serta hutan mangrove, Sebagian besar kekayaan hayati ini berada di Geosite Gunung Ranai.

Masyarakat setempat mempercayai bahwa gunung Ranai merupakan tempat kekuasaan Datuk Panglima Husein, seorang panglima perang yang disegani. Cerita ini menjadi bagian dari kekayaan budaya tutur (cultural diversity).

Sekitar 50 menit perjalanan selepas ujung jalan setapak track pendakian, kita bisa menemukan air terjun Gunung Ranai. Di sini bisa beristirahat melepas lelah, menikmati keindahan dan kesegaran air terjun yang menjadi sumber air bersih bagi warga Ranai Natuna.

Dalam kondisi normal mencapai air terjun, dibutuhkan waktu sekitar 2,5 jam jika ditempuh dengan berjalan kaki dari kaki gunung asal masuk Ranai Darat. Namun, kita bisa memangkas jarak dan waktu kalau kita gunakan sepeda motor sampai jalan setapak menuju puncak atau air terjun.

Sepanjang jalur pendakian kita disuguhi pemandangan ratusan bongkahan batu granit yang tercecer di kanan dan kiri jalan.

Air Terjun Gunung Ranai (f/ist)

Air terjun Gunung Ranai memiliki ketinggian sekitar 20 meter. Debit air yang tidak terlalu deras membuat batu-batu alam di belakangnya terlihat berkilauan ditimpa sinar matahari.

Semakin tinggi mendaki, batu-batu besar yang berada di tengah jalur pendakian cukup memberi tantangan, menyebabkan pendaki harus mencari pijakan yang tepat sehingga bisa melewati batu tersebut.

Di beberapa titik para pendaki sebelumnya telah memasang tambang yang bisa digunakan untuk berpegangan sehingga memudahkan kita melewati batu-batu besar.

Gradasi jenis-jenis tanaman dari hutan dataran rendah hingga hutan dataran atas. Pada ketinggian tertentu, para pendaki akan menemukan tipe-tipe vegatasi yang memperlihatkan ciri khas pegunungan dataran atas (gunung dengan ketinggian rata-rata 2.000 meter dpl).

Di puncak Gunung Ranai, kita harus melampaui tiga puncak berupa tebing batu dengan ketinggian yang berbeda-beda.

Puncak pertama yang diberinama puncak Serindit berketinggian 968 mdpl. Puncak ini merupakan gugusan tebing Granit dengan tinggi mencapai 100 meter.

Puncak kedua diberinama puncak Erik Samali tingginya kuranglebih 999 mdpl. Tebing batu granit ini tinggi tebingnya sekitar 150 meter.

Sementara puncak ketiga diberi nama puncak Datuk Panglima Husin tingginya kurang lebih 1.035 mdpl. Dalam ekosistim Geosite Gunung Ranai selain Kekah, kita juga bisa menemukan primata lainnya seperti kukang (Nycticebus coucang natunae), dan kera ekor panjang (Macaca fascicularis pumila) ketiganya merupakan primata endemik di pulau Natuna.  Saat berada di puncak Gungung Ranai Kita bisa menikmati pemandangan kota Ranai dari ketinggian dan birunya Laut Natuna Utara.

Keragaman flora di geosite Gunung Ranai juga beragam jenisnya, ada tumbuhan yang memiliki nama latin (Genus Nepenthes) atau kantong semar berbagai jenis. Warga Natuna menyebut tanaman ini Akar Tuyut.

Selain itu, adapun jenis tanaman buah local yang layak konsumsi, buah dengan nama lokal Suai, Sedik, Limus, Pelam Depeh yang termasuk dalam kelompok tanaman mangga (Mangifera indica L.) serta Belimbing Besi yang dapat dijadikan buah olahan khas daerah seperti manisan, dodol, sirup, dan minuman jus.

Pohon buah Belimbing Besi, yang sulit dijumpai di tempat lain

Tanaman buah belimbing besi ini, mempunyai bentuk yang unik, seperti rosella tetapi mempunyai isi seperti buah rambai. Ada juga jenis tanaman langka seperti kembang semangkok, yang buahnya biasa digunakan sebagai obat herbal panas dalam.

Perawakan tanaman  belimbing besi ini berupa pohon, tinggi
7 m, lingkar batang 93 cm, lebar tajuk 800
cm, warna daun hijau, permukaan batang
kasar, berwarna putih kecoklatan, daun
berbentuk lonjong, panjang daun 16 cm,
lebar daun 8 cm, tepi daun rata, tipe daun
tunggal, tebal dan kaku. Kulit buah
berbentuk bulat kerucut bersegi empat,
berwarna merah cerah saat muda,
berwarna merah muda saat tua. Isi buah
seperti rambai, berwarna putih, berbiji 2-
3 butir. Rasanya asam manis dan segar.

Dalam catatan penelitian Gunawan, Tatik Chikmawati, Sobir & Sulistijorini. 2018. Belimb8ng besi Natuna adalah Variasi Morfologi dan Varietas Baru dari Baccaurea angulata Merr. (Phyllanthaceae).

Penemuan B. Angulata di punggung gunung Ranai khususnya di desa Ceruk dan Limau Manis di Pulau Natuna dengan nama lokal belimbing besi merupakan rekaman baru, varietas baru, Phyllanthaceae.

Selain itu berbagai kayu keras yang langka juga tumbuh dikawasan geosite gunung Ranai. Kayu belian misalnya, sejenis kayu besi atau kayu ulin di Kalimantan.

Makin langkanya tanaman ini perlu upaya konservasi untuk menjaga tanaman buah ini dari kepunahan.

Ketua Jaringan Geopark Nasional Indonesia Pak Budi Martono saat ke Natuna menjelaskan bahwa Geopark itu mempunyai tema, dimana tema tersebut ialah “Memuliakan Warisan Bumi” untuk mensejahterakan masyarakat.

“Jika kita berbicara geopark itu adalah warisan bumi yang “dimuliakan”. Maka dalam konsep geopark itu membicarakan tentang keragaman geologi, budaya, biologi (flora dan fauna).

Fungsi dari geopark itu yang utama untuk edukasi, konservasi, dan pertumbuhan ekonomi. Geoprak Nasional Natuna ini semua serba mega, maka perlu di kembangkan (dimanage-red) agar warisan bumi tidak hilang , agar anak cucu cicit kita bisa belajar sejarah warisan geologi bumi yang sangat memanjakan mata dan meneduhkan hati penikmatnya.” Jelas Budi Martono.

Untuk mengembangkan Geopark Nasional Natuna perlu kolaborasi dari seluruh element (semua pihak). Kata kuncinya adalah Keseriusan, dimana harus ada konsekuensinya. Baik dari Bupati, dinas, legislatif, dan masyarakatnya.

“Geopark adalah sebuah konsep dimana bentang alamnya, situs – situs geositenya harus terlindungi. Hati-hati dengan warisan ini, harus ditindak lanjuti dengan serius dimana ada kekuatan hukum yang di istilahkan untuk menetapkan mana yang harus di lindungi, mana yang harus di daftarkan di kawasan cagar alam geologi. Supaya nanti tidak terjadi pengklaiman bahwa ini milik siapa. Nah, karna ini sangatlah sensitive itu harus mempunyai kekuatan hukum.: jelas Budi Martono lebih jauh.

Kawasan Pantai Piwang yang juga dibangun Tugu Migas

SKK Migas dan Dinas Pariwisata Natuna telah memulai mengembangkan Geopark Nasional Natuna dengan meningkatkan kemandirian masyarakat, serta menjaga lingkungan sekitar. Melalui dana migas yang berasal dari corporate social reponsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan (TJSP) telah memberikan bantuan ke masyarakat Natuna.

“Sinergitas Kementerian PUPR, Pemerintah Natuna dan SKK Migas juga secara bertahap telah melakukan Penataan Kawasan Pantai Piwang yamg menjadi Landmark Geopark Nasional Natuna dengan menyediakan ruang terbuka hijau sebagai salah satu upaya pemerintah untuk mengembangkan kawasan perbatasan.” Jelas Pjs Kepala Departemen Operasi SKK Migas Sumatera Bagian Utara, Haryanto Syafri, dalam Webinar, Kamis (6/8/2020) yang ditaja SKK Migas dan pemkab Natuna.

Masih banyak yang harus dilakukan untuk mengembangkan potemsi g\Geopark Nasional Natuna agar mendapatkan status Unesco Global Geopark (UGG).

Mencontoh Geopark Nasional Ciletuh Jabar, sedikitnya perlu 13 hal yang harus dikembangkan pengelola Geopark Masional Natuna yakni:

1. Pengembangan Rencana Induk (Master Plan) untuk tahun 2017-2025 meliputi sumber daya administrasi dan anggaran.
2. Perjanjian kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan dan institusi lainnya.
3. Mengembangkan, meningkatkan infrastruktur dan angka kunjungan wisata.
4. Meningkatkan program pendidikan terminologi ilmiah UGG
5. Mengembangan modul pelatihan guide lokal hingga pelaku usaha di sekitar geopark
6. Penelitian atas keanekaragaman hayati
7. Identifikasi pada warisan tak berwujud seperti cerita rakyat, legenda, mitos, lagu lokal, tari, dan musik setempat.
8. Peningkatkan informasi meliputi informasi ilmiah hingga jalur kunjungan.
9. Strategi kemitraan
10. Pengembangan pada semua area
11. Mengembangkan kerjasama internasional
12. Tidak lagi menggunakan istilah Geoarea karena menyiratkan bahwa Geopark Nasional Natuna bukan sebagai satu kesatuan yang utuh.
13. Perkuat jejaring dengan UNESCO Global Geoparks lainnya di tingkat regional, nasional dan global.

Penulis : Dericca Gayatri

Catatan : Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba karya Jurnalisitik SKK Migas Sumbagut Natuna

Editor : AEH