Oleh: Pradikta Andi Alvat

Partai Gerindra memiliki masa depan yang cerah dalam peta politik nasional. Sejak pertama kali ikut berpartisipasi pada pemilu 2009, suara partai Gerindra selalu menujukkan tren yang konstruktif. Pemilu 2009 meraih 4,4%, pemilu 2014 meraih 11,81%, dan pada pemilu 2019 meraih 12,57%. Selain itu, Di setiap Pemilu (2009, 2014, 2019) Gerindra selalu mampu mencalonkan kader terbaiknya, Prabowo Subianto sebagai capres/cawapres.

Oleh sebab itu, sudah saatnya Gerindra mampu menjadi pemenang pada pemilu presiden dan pemilu legislatif pada pemilu 2024 mendatang. Maka dari itu, diperlukan korelasi yang tepat antara medan politik dengan proyeksi dan strategi politik bagi Gerindra untuk menang dalam pemilu 2024 mendatang.

Medan Politik 2024

Pertama, pemilih muda. Menurut data BPS, pada pemilu 2024 mendatang, jumlah pemilih muda (17-30 tahun) diperkirakan berjumlah 60% dari total suara. Pada sisi lain, pemuda juga semakin responsif terhadap dinamika politik negeri ini.

Salah satu indikatornya adalah tingginya kepedulian pemuda dalam isu-isu perubahan iklim, korupsi, dan kepemimpinan nasional (isu presiden 3 periode) sebagaimana survei yang dilakukan oleh Indikator Politik Indonesia pada Oktober 2021 lalu. Pemuda sendiri cenderung lebih mengedepankan rasionalitas dalam menentukan sikap dan pilihan politik. Pemuda lebih tertarik terhadap isu-isu politik kerakyatan dan kolektif dari pada isu politik konservatif (politik identitas).

Kedua, menurunnya tren populisme Islam. Menurut riset Burhanuddin Muhrtadi yang dipaparkannya dalam artikel opini berjudul Populisme Islam dan Lintasan Politik Jelang 2024 di Media Indonesia (23 Desember 2021) lalu, Burhanuddin mengungkapkan bahwa tren politik identitas dan populisme Islam memiliki potensi penurunan signifikan, dikarenakan minimnya kendaraan politik untuk merepresentasikan hal tersebut.

Ketiga, faktor Prabowo Subianto. Menurut berbagai lembaga survei kredibel, Prabowo Subianto merupakan tokoh politik yang masih memimpin dengan tingkat elektabilitas tertinggi sebagai calon presiden pada pemilu 2024. Prabowo Subianto memiliki 3 modal untuk menjadi Presiden Indonesia pada tahun 2024 mendatang, yakni: modal sosial (elektabilitas), modal politik (sebagai ketua parpol Gerindra), dan modal kapasitas. Bisa dikatakan, dari semua ketum parpol yang mendeklarasikan untuk maju dalam pilpres 2024 mendatang, hanya Prabowo Subianto yang memiliki potensi terbesar untuk maju dan menang karena memiliki modal elektabilitas dan modal politik.

Keempat, isu penundaan pemilu. Wacana penundaan pemilu tahun 2024 menjadi tahun 2027 menjadi isu politik yang sensitif. Setelah isu 3 periode menurun, kini isu penundaan pemilu santer menguat. Oleh karena itu, Gerindra di sini harus mampu memiliki sikap politik yang kuat dengan memihak pada prinsip demokrasi dan aspirasi publik.

Kelemahan Partai Gerindra

Pertama, kurang terobosan dan kurang responsif. Gerindra kurang memiliki terobosan dan visi yang bisa menjadi landmark atau ciri khas garis politik Gerindra dalam mencuri simpati dan perhatian masyarakat secara luas. Gerindra juga terlihat lamban dalam menentukan sikap partai dalam menyikapi isu-isu politik aktual yang memicu diskursus publik. Poin ini menjadi kelemahan elementer Gerindra.

Kedua, terkesan kurang dekat dengan Islam. Hal ini bisa dilihat dari minimya tokoh-tokoh politis Islam berpengaruh yang masuk dalam struktur kepengurusan partai. Realitas ini bisa menjadi sandungan bagi Gerindra dalam meraih suara pemilih dari kelompok Islam sebagai golongan mayoritas.

Gerindra terlihat minim intensitas menjalin komunikasi politik dengan ormas dan entitas kaum muslim. Sedangkan pada pemilu 2019 lalu, Gerindra terkesan hanya memanfaatkan kemasan Islam untuk mendongkrak suara bukan merangkulnya secara substantif.

Ketiga, kesan politik gerontokrasi dan eksklusif. Partai Gerindra terkesan sebagai partai “orang tua” dan elitis. Minim kaum muda dalam lingkaran inti kepengurusan serta menonjolkan sisi elitis-eksklusif. Terlihat, hanya kaum-kaum pengusaha yang mampu bercokol dalam kepengurusan level elite.

Proyeksi Politik Gerindra 2024

Pertama, merefleksikan politik kaum muda. Mengingat besarnya pemilih kaum muda tahun 2024 mendatang, Gerindra harus melakukan restorasi-restorasi substantif untuk menarik perhatian pemilih muda. Salah satunya melalui perefleksian politik kaum muda baik dalam tataran organisasi maupun program. Re-organisasi Gerindra dalam segala lini harus banyak diisi kaum muda, selain itu Gerindra juga harus menonjolkan visi-visi politik khas kaum muda misalnya terkait visi dan komitmen terhadap perubahan iklim dan pemberantasan korupsi.

Kedua, branding figur Prabowo Subianto. Tokoh yang bisa dibranding oleh Gerindra untuk menjadi tokoh kharismatik sebagai representasi Gerindra pada wacana politik nasional tidak lain tidak bukan adalah Prabowo Subianto, san ketua umum Gerindra, Menteri Pertahanan, sekaligus tokoh yang menjadi rangking 1 dalam berbagai survei elektabilitas capres 2024. Maka dari itu, mesin parpol dalam segala tingkatan harus digerakkan untuk meningkatkan popularitas dan viabilitas Prabowo Subianto.

Jika ini bisa dibangun secara masif dan kontiniutas hingga 2024 mendatang, maka potensi perolehan suara Gerindra akan dapat meningkat pada pemilu 2024 mendatang seiring dengan kuatnya konsolidasi baik secara interen maupun eksteren. Selain itu, potensi Prabowo Subianto juga berpeluang besar maju dan menang dalam piplres 2024.

Ketiga, mengedepankan politik aspiratif. Gerindra harus mampu membangun citra sebagai partai politik aspiratif dengan menonjolkan visi, program, dan gerakan yang bisa merespons aspirasi publik secara aktual sedari sekarang, misalnya terkait peneguhan sikap politik terkait penundaan pemilu 2024, Gerindra harus memihak prinsip demokrasi dan aspirasi rakyat. Selain itu, Gerindra harus mencerminkan politik rasional dan santun. Dalam hal ini organisasi sayap partai harus digerakkan secara masif untuk membangun citra tersebut.

Keempat, memperkuat branding Gerindra sebagai partai yang inklusif-egaliter dan ramah terhadap Islam. Gerindra harus mampu mendayung diantara dua karang. Salah satu kuncinya adalah dengan memperkuat branding menjadi partai nasionalis-religius atau partai nasionalis yang islami.

Partai yang inklusif dan egaliter. Hal ini penting sebagai strategi untuk mengambil ceruk suara dari pemilih muslim yang notabene merupakan golongan mayoritas.Oleh sebab itu, Gerindra harus membawa politik arus baru dengan memperkuat branding menjadi partai nasionalis-religius atau islami yang inklusif, terbuka, egaliter, dan moderen. Partai yang dapat menjangkau kaum nasionalis juga kaum muslim. Salah satu caranya adalah dengan banyak merekrut tokoh Islam berpengaruh untuk masuk ke kepengurusan Gerindra.

Kelima, membangun komunikasi politik secara terbuka. Sedari sekarang, Gerindra harus mulai menata batu bata kekuatan politik dengan membangun jejaring dan komunikasi politik dengan berbagai kelompok baik sesama partai politik, ormas keagamaan, masyarakat umum, maupun civil society. Hal ini penting sebagai pondasi untuk menata peta dan strategi pemenangan Gerindra pada pemilu legislatif maupun presiden tahun 2024 mendatang.

Dengan melakukan kelima proyeksi tersebut, saya optimis Gerindra akan mampu menjadi partai pemenang pemilu. Baik pemilu legislatif maupun pemilu presiden. Pada usia 16 tahun mendatang (tahun 2024) Gerindra harus menjadi partai politik nomor 1 di Indonesia. Sehingga, bisa lebih memiliki peran strategis dan konstruktif untuk mendorong terwujudya keadilan dan kesejahteraan sosial.

Referensi :

  • Data BPS
  • Suvei Indikator Politik Indonesia pada Oktoer 2021 terkait politik kaum pemuda
  • Populisme Islam dan Lintasan Politik Jelang 2024 di Media Indonesia (23 Desember 2021)