Oleh: Pradikta Andi Alvat
CPNS Analis Perkara Peradilan (Calon Hakim) Pengadilan Negeri Rembang
Penggemar Sepakbola Rembang

Sepakbola di Indonesia tidak hanya lekat dengan kontroversi, melainkan juga erat dalam relasinya dengan nilai-nilai spiritual hingga supranatural. Lazim kita temui, klub-klub profesional di Indonesia, sebelum memulai kompetisi atau sebelum bertanding meminta doa atau istilah jawanya nyuwunsuwuk kepada orang-orang yang secara spiritual dianggap memiliki ‘tuah’, contohnya saja kiai.

Secara sosio-teologis, kiai merupakan sosok yang dianggap alim dan saleh, sehingga doa dari seorang kiai dianggap manjur untuk mendatangkan keberuntungan dan keberhasilan, khususnya dalam hal ini bagi sebuah klub dalam mengarungi kompetisi atau memenangkan sebuah pertandingan. Fenomena ampuhnya suwuk kiai sendiri dalam realitasnya terbukti manjur pada sebuah klub bernama PSIR Rembang, khususnya pada medio era Divisi Utama Perserikatan musim 1993/1994.

Kompetisi Divisi Utama Perserikatan musim 1993/1994 sendiri merupakan musim yang legendaris, fantastis, dan heroik sepanjang sejarah berdirinya klub PSIR. Pada musim itulah PSIR berhasil lolos ke-babak 8 besar kompetisi kasta tertinggi nasional, sebuah prestasi tertinggi sepanjang berdirinya klub PSIR, yang hingga kini belum bisa terulang kembali.

Pada kompetisi Divisi Utama Perserikatan musim 1993/1994, di bawah asuhan pelatih asal Malang, Muhadi dan manajer tim Budi Cahyono (Bon Tiang), PSIR yang notabene adalah klub pendatang baru (tim promosi) dengan materi skuad pemain yang sederhana (didominasi pemain putra daerah), pada awalnya dianggap hanya akan mampir ngombe saja di kompetisi kasta tertinggi nasional tersebut.

Kompetisi Divisi Utama Perserikatan musim 1993/1994 sendiri terbagi atas 2 wilayah (barat dan timur) dimana masing-masing wilayah terdiri atas 8 klub, dengan sistem 4 peringkat teratas di tiap grup lolos ke-babak 8 besar dan dua klub terbawah di masing-masing grup terdegradasi ke Divisi Satu. PSIR sendiri tergabung di wilayah timur, berada satu grup dengan klub-klub besar macam PSM Ujungpandang, Persebaya Surabaya, PSIM Yogya, Persema Malang, Persegres Gresik, PSIS Semarang, dan Persiba Balikpapan.

Pada putaran pertama, PSIR Rembang sebagaimana diprediksi banyak pihak, sempat terseok-seok dalam bersaing di grup wilayah timur, dan hingga putaran pertama selesai. PSIR pun harus puas berada di posisi juru kunci sekaligus terancam degradasi. Menurut manajer klub saat itu, Budi Cahyono, permainan PSIR pada putaran pertama sebenarnya cukup baik, hanya saja keberuntungan seringkali tidak berpihak kepada Laskar Dampo Awang.
Kondisi tersebut membuat Budi Cahyono yang kerap disapa Bon Tiang, menginisiasi membawa skuad PSIR untuk sowan guna meminta doa atau istilah jawanya suwuk kepada kiai kenamaan Rembang yang dikenal ampuh pada waktu itu yakni Almagfurullah Kiai Syahid, di Desa Kemadu, Kecamatan Sulang, Rembang.

Singkat cerita, akhirnya skuad rombongan PSIR pun sowan kepada Kiai Syahid Kemadu untuk meminta doa atau suwuk agar pada putaran kedua nanti PSIR dapat meraih hasil maksimal dan tidak terdegradasi ke Divisi Satu. Setiba di kediaman Kiai Syahid, sang Kiai mempersilahkan semua pemain PSIR untuk duduk di ruang tamunya dan diwajibkan untuk memakan suguhan peyek.

Sejurus kemudian, setelah semua pemain PSIR telah memakan peyek yang disuguhi oleh Kiai Syahid, tiba-tiba Kiai Syahid berbicara kepada manajer tim, Budi Cahyono dengan disaksikan oleh seluruh pemain, bahwasanya di dalam skuad PSIR ini ada pemain yang reget (‘kotor’). Kotor disini bermakna bahwa si pemain tersebut telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syariat agama. Kiai Syahid menegaskan bahwa jika pemain yang reget ini tidak lagi memperkuat tim PSIR, maka PSIR akan dapat berprestasi pada puataran kedua serta selamat dari ancaman degradasi.

Setelah pulang sowan dari kediaman Kiai Syahid Kemadu, manajer tim, Budi Cahyono langsung mencoret si pemain yang disinyalir‘reget’ tersebut. Dan ajaibya, sebagaimana ucapan Kiai Syahid, perjalanan PSIR di putaran kedua pun mulus setelah didepaknya pemain ‘reget’ tersebut, bahkan PSIR tidak sekadar bertahan, melainkan berhasil menjadi empat tim teratas wilayah timur sehingga berhak lolos ke-babak 8 besar. Menjadi 8 klub terbaik nasional merupakan sebuah pencapaian besar nan lengendaris yang pernah dicapai oleh Laskar Dampo Awang. Dan dibalik itu semua, ternyata ada sumbangsih spiritual yakni doa atau suwuk dari Almagfurullah Kiai Syahid Kemadu. (*)

** Sumber cerita: Hariyanto, eks pemain PSIR kompetisi Divisi Utama Perserikatan 1993/1994