Bisikan ‘Abracadabra’ Bagi Guru Ketika Memberikan Nilai Siswa dan Tuntutan KKM
Penulis: Rozaq Mustofa Lutfi, S.Pd., Gr.
PNS (Guru Ahli Pertama) Guru Teknik Pemesinan SMK Negeri 2 Pamekasan
Dunia pendidikan acap kali diwarnai ekspektasi tinggi, salah satunya dalam hal penilaian. Setiap akhir periode, guru dihadapkan pada tugas berat: menentukan angka yang merepresentasikan capaian belajar siswa.
Namun, di tengah harapan akan objektivitas, terkadang muncul bisikan “abracadabra” yang menggoda, seolah nilai bisa disulap menjadi sesuatu yang berbeda dari realita pembelajaran.
Tuntutan KKM, Pedang Bermata Dua
KKM, atau Kriteria Ketuntasan Minimal, bagaikan garis batas kelulusan yang harus dilampaui siswa. Di balik fungsinya sebagai standar capaian, KKM juga bisa menjadi pedang bermata dua. Tekanan untuk mencapai KKM minimum, khususnya bagi guru dengan target tertentu, dapat memicu tindakan yang tidak tepat. Muncullah praktik “nilai dikondisikan” atau “bonus nilai” demi mengejar angka ideal.
Nilai Tidak Asli, Abracadabra yang Menipu
Nilai yang tidak asli, bagaikan sulap yang memukau sesaat namun tak berbekas. Ia lahir dari praktik-praktik seperti:
– Mencongkel nilai: Mengubah nilai asli dengan angka yang lebih tinggi, sering kali tanpa dasar peningkatan kemampuan siswa.
– “Nilai hadiah”: Memberikan nilai tambahan di luar capaian belajar sebagai bentuk kompensasi atas perilaku baik atau partisipasi siswa.
– Penilaian subjektif: Mengabaikan instrumen penilaian objektif dan mengandalkan faktor-faktor eksternal seperti kehadiran atau keaktifan siswa.
Alasan di Balik Sulapan Nilai:
Ada beberapa alasan yang mendorong praktik manipulasi nilai:
– Takut gagal: Kecemasan guru akan penilaian kinerja atau rapor yang buruk mendorong mereka untuk “menolong” siswa meraih nilai tertentu.
– Mengejar target: Demi memenuhi standar sekolah atau tuntutan eksternal, guru tergoda untuk “memanipulasi” nilai agar sesuai ekspektasi.
– Kurangnya objektivitas: Penilaian yang tidak didasarkan pada instrumen dan kriteria yang jelas membuka peluang bagi subjektivitas dan intervensi.
Dampak Abracadabra Nilai:
Sulapan nilai yang tidak asli, meski tampak menyelesaikan masalah jangka pendek, sebenarnya membawa dampak negatif jangka panjang:
– Mendistorsi pembelajaran: Siswa kehilangan kesempatan belajar dari kesalahan dan perbaikan diri jika nilai tidak mencerm min kemampuan mereka yang sebenarnya.
– Menumbuhkan ketidakpercayaan: Manipulasi nilai merusak kepercayaan siswa terhadap sistem penilaian dan guru, menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi pembelajaran.
– Menurunkan kualitas pendidikan: Nilai yang tidak asli tidak mencerminkan capaian belajar sebenarnya, sehingga menghambat evaluasi dan perbaikan kualitas pendidikan secara komprehensif.
Menolak Abracadabra, Mewujudkan Penilaian yang Adil:
Untuk menghindari sulap nilai yang merugikan, diperlukan langkah-langkah:
– Instrumen penilaian yang objektif: Gunakan instrumen yang jelas, terstruktur, dan konsisten untuk menilai capaian belajar siswa.
– Fokus pada proses pembelajaran: Penilaian harus berorientasi pada proses, bukan hanya hasil akhir. Amati dan beri feedback selama proses belajar untuk membantu siswa berkembang.
– Komunikasi terbuka dan transparan: Jalin komunikasi yang terbuka dengan siswa dan orang tua tentang kriteria penilaian dan harapan yang ingin dicapai.
– Hindari tekanan eksternal: Jangan biarkan tekanan dari pihak manapun memengaruhi penilaian yang objektif dan adil.
Menilai siswa tidak semudah melafalkan “abracadabra.” Ia membutuhkan komitmen, objektivitas, dan keberanian untuk menolak praktik yang merugikan. Mari wujudkan sistem penilaian yang adil dan transparan, agar nilai yang diberikan benar-benar mencerminkan usaha dan capaian belajar siswa, bukan ilusi yang diciptakan oleh sulap semu. (*)

