LINGGA | Populinews.com – Upaya petahana memborong partai supaya di Pilkada Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, terjadi kontestasi melawan kotak kosong, akhirnya buyar sudah. Menyusul putusan MK No.60 dan adanya dukungan tambahan dari PDIP dan PAN, pasangan Alias Wello – Muhammad Ishak, bisa diterima pendaftarannya oleh KPUD Lingga, meski pada saat injuri times, Kamis (29/8/2024) malam.

Tentu saja, kehadiran Awe – Ishak, akan menjadi pesaing berat bagi pasangan petahana M. Nizar – Novrizal, yang sejak awal sudah berupaya ‘menghalangi’ lawan politik yang bakal maju dengan cara memborong partai. M.Nizar – Novrizal sempat menghimpun dukungan hampir seluruh partai, kecuali 3, yaitu Partai Perindo, PDIP dan PAN.

Para simptasian Awe – Ishak pun sempat khawatir. Sebab, sebelum keluarnya putusan MK No. 60 Tahun 2024 yang menganulir ambang batas (threshold) 20%, pasangan ini belum juga mendapatkan dukungan dari PDIP, pemilik suara Pemilu yang jika dihitung akan mencukupi persyaratan bagi Awe – Ishak untuk maju.

Sementara Partai Perindo, sebelum muncul SK 60, hanya memiliki suara sah 6.667 (2 kursi di DPRD) yang bila diprosentasekan adalah 11,25 %. Tidak cukup untuk persyaratan dukungan yang harus 20% suara, atau masih butuh minimal 8,75% suara lagi.

Sebenarnya, Awe sudah melakukan loby-loby politik ke beberapa Ketua Partai seperti PDIP dan PAN, agar memberikan dukungan. Namun, hingga terbitnya putusan MK tersebut, partai ‘Banteng’ dan ‘Matahari’ ini belum juga mengabulkan harapan tersebut. Sebaliknya dukungan itu justru datang setelah putusan MK No. 60, yang mengubah syarat pencalonan menjandi hanya 10% atau 7,5% dari jumlah penduduk, itu terbit.

”Terlambat? tidak juga. Ini hanya dinamika politik yang memang sering terjadi seperti itu. Justru adanya dukungan PDI-P ini membuat pasangan Awe – Ishak lebih percaya diri. Karena PDI-P di Kabupaten Lingga memiliki suara besar,” ujar Herlizan SE, salah satu anggota tim pemenangan.

Memang, bak pepatah: Kebenaran akan menempuh jalannya sendiri. Itulah yang terjadi dengan pasangan Awe – Ishak, yang sesungguhnya sejak awal menyikapi perkembangan politik di Lingga dengan bijaksana dan berhati dingin. Bahkan, ketika PKS yang dulu memberikan dukungan, lantas berpaling dan beralih ke petahana pun, Awe pun tenang saja.

”Bahkan, kemungkinan tidak bisa mencalonkan diri pun sudah diterima dengan ikhlas oleh beliau. Awe maju kembali, karena memang ada keinginan besar dari masyarakat Lingga. Tapi kalau jalurnya tertutup, kan, apa hendak dikata,” ujar Herlizan.

Sebagaimana diketahui, Allias Wello, adalah Bupati Lingga pada periode 2016-2020. Saat itu wakil Bupatinya adalah Muhammad Nizar, yang sekarang menjadi lawan politiknya di Pilkada November 2024 mendatang.

Roby Patria, akademisi dan pengamat politik di Kepulauan Riau, mengungkapkan data KPU keseluruhan suara sah seluruh partai politik di Kabupaten Lingga pada Pemilu 2024 adalah sebanyak 59.268. Perolehan suara Partai Perindo itu sebenarnya, sudah bisa dipakai untuk maju.

Roby juga memprediksi, dengan diterimanya pasangan Awe – Ishak sebagai kandidat paslon Bupati dan Wakil Bupait Lingga, maka kontestasi persaingan berdemokrasi menjadi lebih hidup, dibanding pemilihan hanya dengan melawan kotak kosong. ”Kita lihat saja nanti, bagaimana hasilnya,” kata Roby yang juga pernah menjadi wartawan.

Jargon Cemerlang 2030

Pasangan Alias Wello-Ishak, sejatinya bukan nama baru bagi masyarakat Kabupaten Lingga. Kedua tokoh ini memiliki peran penting dalam meletakkan pondasi bagi pembangunan di daerah yang berjuluk Bunda Tanah Melayu ini. Mereka maju dengan Jargon ‘Lingga Cemerlang 2030’.

Alias Wello, merupakan politisi senior yang memiliki peran signifikan untuk perkembangan Kabupaten Lingga. Awe memulai debutnya di dunia perpolitikan dengan menjadi Ketua DPRD Lingga periode 2004-2009. Kemudian Alias juga dipercaya menjadi Bupati Lingga periode 2016-2020.

Selama masa jabatannya, berbagai pejabat penting tingkat pusat, mulai dari menteri hingga Wakil Presiden, telah mengunjungi Kabupaten Lingga.

Kunjungan-kunjungan tersebut membawa dampak positif dengan terealisasinya beberapa proyek strategis dan program-program prioritas nasional yang sebelumnya kurang mendapat perhatian.

Banyak perubahan positif yang dialami Kabupaten Lingga semasa kepemimpinannya. Selain mampu mendatangkan program-program Nasional, Awe juga yang menyelesaikan defisit anggaran besar-besaran di Kabupaten Lingga. Saat kepemimpinannya juga Wakil Presiden RI dan pejabat setingkat menteri mengunjungi Kabupaten Lingga.

Peran Alias Wello juga terlihat dalam revitalisasi bangunan tua bekas perusahaan timah negara yang telah lama terbengkalai. Bangunan tersebut berhasil disulap menjadi pusat ekonomi masyarakat, sarana olahraga, serta sarana pendidikan dengan berdirinya Politeknik Pertanian, satu-satunya di Sumatera dan Kepulauan Riau.

Selain itu, Awe juga berhasil menjadikan Lingga sebagai daerah pernghasil beras, setelah program cetak sawah yang bekerjasama dengan para ahli dari ITB, dilakukan secara seksama. Program ini bahkan mendapat dukungan penuh dari Menteri Pertanian RI dan Kepala Staf Keperesidenan, Jenderal (Purn) Moledoko.

Selain itu, Awe juga berhasil memanfaatkan lahan sekitar pantai dengan membangun tambak udang. Bahkan sempat dilakukan panen raya perdana bersama Menteri Pertanian, saat itu dijabat Yasin Limpo. Sayangnya program ini, dimasa kepemimpin Nizar justru terkesan terbengkalai.

Saat ini, pasangan Awe- Ishak telah memperoleh rekomendasi dan B1 KWK Surat Keputusan dari dua partai politik yang menjadi syarat utama untuk mendaftar ke KPU Kabupaten Lingga. Dukungan tersebut juga telah melebihi ambang batas 10 persen yang ditetapkan oleh KPU.

“Selain Partai Perindo yang memiliki dua kursi di DPRD Kabupaten Lingga, kami juga mendapat dukungan dari PDI Perjuangan yang memiliki dua kursi di DPRD dan Partai Amanat Nasional dari non parlemen,” kata salah seorang tim sukses pasangan ini.

Sedangkan Bapaslon Nizar-Novrizal itu diusung oleh 7 partai parlemen yakni, NasDem, PKB, Gelora, Golkar, Gerindra, PKS, dan Demokrat. Totalnya, 21 kursi.

ALias Wello memilih Ishak sebagai wakilnya, karena ia dikenal sebagai birokrat handal di Kepulauan Riau dengan berbagai jabatan penting mulai dari Camat hingga beberapa kali menjabat kepala dinas.

Muhammad Ishak juga pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM), yang membuatnya dikenal dengan panggilan Datuk, sebuah gelar yang sangat dihormati oleh masyarakat Melayu di Kepulauan Riau.

Ketua Divisi Teknis Penyelenggara Pemilu, KPU Lingga, Septiadi Syarza membenarkan, pendaftaran Bapaslon AWe-Ishak tersebut. “Untuk persyaratan pencalonan AWe-Ishak sudah 100 persen di silon pendaftaran pilkada KPU,” ujarnya. (dahri maulana)

Bagikan :