PALEMBANG | Populinews.com – Perbaikan jembatan P.6 sungai Lalan yang ambruk ditabrak tongkang batubara milik perusahaan PT. Apau Sejhatera Abadi, akan segera dilakukan. Pj Gubernur dengan sejumlah pihak terkait, sudah menandatangani kesepakatan. Namun, tidak dijelaskan darimana sumber dana yang akan dialokasikan untuk itu.

Ketidak-jelasan soal sumber dana yang akan digunakan untuk pemulihan jembatan tersebut, dipertanyakan Komunitas Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (K-MAKI). Melalui Deputynya, Fery Kurniawan, lembaga NGO yang kerap menyoroti kasus-kasus korupsi di Sumsel ini mengingatkan, jangan sampai kasus ambruknya jembatan P.6 justru membebani keuangan negara.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Penjabat (Pj) Gubernur Sumsel Elen Setiadi bersama unsur terkait, menandatangani berita acara komitmen bersama pemulihan kembali Jembatan P.6, Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin, di Ruang Joglo Griya Agung, Jumat, (30/8/2024) kemarin.

Penandatangan juga dilakukan oleh perwakilan Pemkab Musi Banyuasin (Muba), Asosiasi Lalu Lintas Dibawah Jembatan P6 Lalan, DPRD Muba, DPRD Sumsel, Kapolda Sumsel, Kodam II Sriwijaya, Kejati dan KSOP.

”Terbesit kabar, biaya perbaikan ditaksir sekitar Rp 200 milyar. Tapi sayangnya, tidak dijelaskan secara rinci skema sumber pendanaannya dalam Perjanjian Pemprov, Pemkab Muba dan pihak PT Apau Sejahtara Abadi, selaku user tongkang,” ujar Fery.

Dalam Perjanjian tersebut, ditekankan masalah pengangkatan puing jembatan P.6 dari alur sungai Lalan agar lalu lintas tongkang dan perahu jukung lancar. Seolah hanya mengakomodir keinginan Apau agar tongkangnya bisa kembali beroperasi dan hasilkan untung besar.

Feri Kurniawan juga mengatakan sedari awal pihaknya sudah mengingatkan agar tongkang jangan lagi melintas sebelum jembatan itu bisa dilalui. Atau deposit dana untuk pembangunan jembatan P.6 Lalan oleh pengusaha tambang yang memanfaatkan alur sungai Lalan agar tidak terjadi kerugian negara.

”Elen dan Sandy terkesan takut dengan pengaruh Apau, sehingga negara diduga akan menanggung biaya perbaikan jembatan P.6 Lalan senilai lebih dari Rp 200 milyar,” terang Fery, seraya mengatakan sebaiknya cabut saja izin IUP pengusaha batubara yang melewati sungai Lalan, sampai setor dana perbaikan ke Kas daerah atau Elen mundur dari Pj Gubernur Sumsel kalau takut.

“Masak dengan Apau takut, sementara mereka hanya pengusaha cari untung besar di tanah ulayat suku Musi tanpa peduli nyawa manusia”, pungkas Deputy K MAKI itu.

Tanggungjawab Apau

Pj Gubernru Sumsel, Elen Setiadi sebelumnya juga mengatakan pembangunan ini perlu dipercepat agar aktivitas warga dapat kembali normal. Kedua desa yang terisolir akibat robohnya jembatan tersebut adalah Desa Sukajadi P6 dan Desa Galuh Sari SP 11.

Dalam pembangunan tersebut, perusahaan pemilik tongkang dan tugboat diminta bertanggung jawab penuh untuk memperbaiki jembatan itu. “Yang bertanggung jawab secara aturan adalah perusahaan (yang menabrak). Badan usaha ini sedang kita koordinasikan, nanti kita mendapat kepastian membangunnya dan berapa biaya pembangunannya,” ujar Elen Senin (18/8/2024) lalu.

Selain itu, pihaknya akan melibatkan beberapa perusahaan lain yang selama ini melewati jembatan P6 agar ikut bersama-sama memperbaiki jembatan, sehingga proses perbaikan dapat segera diselesaikan.

“Jalan utama atau jembatan satu-satunya ini menjadi akses perekonomian bagi masyarakat sekitar. Tentu ini menjadi penting, kita akan selesaikan untuk membangun kembali. Kita undang juga nanti beberapa perusahaan yang tidak terlibat sebetulnya dalam kerusakan jembatan ini,” ungkapnya.

Mengutip IDN Times.com, PT Apau Sejahtera Abadi selaku pemilik Tugboat Paris 22, melalui kuasa hukumnya Zeldi Dwitama juga mengatakan, pihaknya bertanggung jawab sepenuhnya tehadap upaya pengangkatan badan jembatan serta melakukan perbaikan.

”Kami dari pihak tugboat Paris 22 akan bertanggung jawab sepenuhnya,” ungkap Zeldi yang didampingi rekannya Rian Saputra, Senin (19/8/2024) lalu.

Zeldi menjelaskan, insiden terjadi pada malam hari. Secara aturan memang tidak diperbolehkan melintasi bawah jembatan di malam hari. Namun Tugboat Paris 22 dikejar oleh pihak agen yang mengatur lalu lintas di Sungai Lalan untuk bisa membantu tongkang Sentana Jaya melintasi bawah jembatan P.6 Lalan.

“Sebetulnya dari kami Tugboat Paris 22 sudah menolaknya bukti chat dan teleponnya ada semua. Sehingga mau tidak mau karena kami di bawah naungan mereka sehingga diikuti permintaan agen sehingga terjadi peristiwa nahas menabrak jembatan Lalan tersebut,” terangnya. (dm)

Bagikan :