TANJUNG ENIM | Populinews.com Selain fokus pada penyediaan energi listrik, PLTU Nusantara Power Unit Bukit Asam 4 x 65 MW Tanjung Enim, tak pernah lelah berupaya membangkitkan ekonomi masyarakat, melalui usaha pemanfaatan abu sisa proses pembakaran batubara. Limbah non B3 yang disebut Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) ini, bisa menjadi material bagunan, bahkan bahan dasar pencampur produksi semen dan pupuk tanaman.

Suhaimi, 53 Tahun, akhirnya bisa bernafas lega. Sebagai pekerja serabutan di proyek bangunan, ia kini sudah bisa lepas dari ketergantungan ajakan teman seprofesinya. Jika ada job, ia bisa bekerja, tapi sebaliknya kalau lagi sepi job ia pun harus kesana-kemari mencari-cari orang yang memerlukan jasanya.

Suhaimi (53) sedang menyusun paving blok untuk dikeringkan.

Warga Desa Tanjung Raja, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim ini, berkisah betapa kesulitan hidup susah diatasi jika tidak memiliki pekerjaan tetap. Tapi sekarang ia sudah lolos dari kesulitan itu. Sekarang sudah memiliki pekerjaan baru yang lebih menjamin kehidupan keluarganya. Ia menjadi anggota Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mandiri yang bergerak di sektor pengadaan Paving Blok untuk berbagai proyek bangunan pemerintah.

”Syukur Alhamdulillah, kalau bicara pendapatan saya sudah tak uring-uringan lagi. Pendapatan dari sini cukuplah buat kebutuhan sehari-hari anak dan istri,” ujar Suhaimi yang mengaku harus berjuang keras menghidupi 5 anaknya, empat diantara masih sekolah SD dan SMP.

Suhaimi tentu saja tidak sendiri, ada enam warga Tanjung Raja yang berprofesi sebagai buruh tani dan pekerja kasar lainnya, saat ini merasakan manfaat menjadi anggota pekerja di BUMDes Mandiri, binaan PLN Nusantara Power Unit Bukit Asam Tanjung Enim ini.

BUMDes Mandiri dibentuk pada bulan Mei tahun 2023 lalu, yang diketuai oleh Ramhat Hidayat, salah seorang warga Tanjung Raja yang dipercaya oleh Kepala Desa dan Camat setempat. Core bisnis badan usaha ini adalah memanfaatkan abu sisa pembakaran batubara yang disebut Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dari PLTU NP Bukit Asam.

Di beberapa daerah di Pulau Jawa, saat ini FABA sudah dimanfaatkan untuk beragam manfaat dan menjadi usaha masyarakat. Seperti subgrade stabilisasi timbunan pilihan, substitusi bahan baku semen, ready mix, material pencegah air asam tambang, paving block, pembuatan batako, kanstin, uditch, pupuk, tetrapod, jalan beton, media tanam, dan lainnya.

BUMDes Mandiri mengawali usahanya setelah mendapatkan bantuan peralatan berupa mesin cetak Paving Blok dan Batako serta mesin pengaduk bahan, dari PLTU Bukit Asam, pada Mei 2023 lalu. Pada tahap awal semua bahan baku FABA dikirim langsung dari stokfile PLTU Bukit Asam ke lokasi usaha BUMDes secara gratis. Termasuk bantuan semen dan pasir.

Dengan kesungguhannya, hanya butuh waktu 3 bulan, Rahmat Hidayat dan anggotanya sudah bisa membiayai sendiri pembelian bahan baku seperti semen dan pasir. Sementara khusus bahan baku FABA tetap digratiskan seberapa pun diperlukan. Hanya saja FABA tersebut tidak lagi diantarkan oleh tim PLTU Bukit Asam melainkan diambil sendiri dengan biaya angkut sendiri.

”Alhamdulillah, berkat bantuan PLTU Bukit Asam, kami bisa memiliki dan menjalankan usaha ini, dan bisa bertahan sampai sekarang,” ujar Rahmat Hidayat, yang didampingi Asisten Manejer Bisiness Support PLTU NP Unit Bukit Asam, Syamsurizal M dan Ali Romico, Team Leader Apoersi Coal and Ash Handling. .

Ketua BUMDes Mandiri Rahmat Hidayat bersama Assiten Manager Bussines Support, Syamsulrizal M, ketika diawancarai wartawan. (f/dahri maualan)

Kiatnya Tranparansi Bagi Hasil

Lalu bagaimana kiat sukses BUMDes dalam memenegemen bisnisnya ini? Rahmat Hidayat menjelaskan, kuncinya adalah komitmen bersama untuk berbagi hasil kerja secara terbuka dan transparan.

”Kita berbagi berdasarkan penerimaan bersih dari hasil pembayaran pemesan (oreder) atau pembeli. Jadi tidak perlu menunggu satu bulan baru pekerja menerima uang. Begitu kita penuhi order pesanan dan dibayar, uangnya langsung kita bagi setelah dipotong biaya produksi,” ujar Rahmat Hidayat, kepada wartawan yang berkunjung ke lokasi usahanya ini.

Rahmat menjelaskan, pembagian hasil dihitung berdasarkan jumlah paving blok atau batako yang diproduksi. Untuk satu Batako, yang harganya Rp 3.000 hingga Rp 3.500,- (tergantung jenis dan ketebalan), para pekerja mendapatkan bagian masing-masing Rp 150 per biji. Artinya, jika dalam satu hari para pekerja bisa menghasilkan 1.000 buah paving blok, maka satu orang pekerja bisa mendapat Rp 150.000/hari.

”Nah jika dikalikan satu bulan, berarti masing-masing pekerja yang enam orang ini, bisa mendapatkan upahnya Rp 150.000 x 30 hari = Rp 4,5 juta/bulan. Sudah melebihi UMR,” ujar Rahmat menrincikan.

Hanya saja, lanjutnya, saat ini kemampuan produksi BUMDes Mandiri, perhari baru bisa maksimal 500 – 700 buah pavingblok. Itu pun mereka bekerja hingga pukul 17.00 sore. Sehingga penghasilan pekerja rata-rata perbulan sekitaran Rp 3,6 juta saja.

Kondisi ini terjadi disebabkan peralatan cetak paving blok dan batako press yang dimiliki hanya 1 unit. Itu pun digerakkan oleh mesin diesel berbahan bakar solar. Lokasi usaha BUMDes Mandiri ini belum terjamah listrik, karena terletak di wilayah perkebunan karet, yang tidak berdekatan dengan pemukiman warga.

Lokasi pabrik batako milik BUMDes Mandiri, belum tersentuh listrik. (f/dahri Maulana)

Rahmat juga menjelaskan, sebenarnya permintaan paving blok dan batako press produksi BUMDes Mandiri ini cukup besar. Apalagi ketika proyek-proyek pembangunan infrastruktur pemerintah, baik proyek kabupaten maupun provinsi, sudah mulai berjalan. ”Kadang pesanan terpaksa kami tolak, karena kemampuan produksi kami masih terbatas,” ujarnya.

Besarnya permintaan atau pesanan tersebut, karena kualitas pavingblok dan batako berbahan dasar FABA ini ternyata lebih kuat dan keras, sehingga tahan lama jika digunakan. Tidak seperti pavingblok biasa yang sering hancur jika keseringan terkena air hujan.

Melihat prosfektif usaha yang menjanjikan ini, Rahmat juga sudah menyiapkan lokasi untuk dibangun pabrik pavingblok yang lebih besar. Tak main-main, saat ini lokasi lahan itu sudah diratakan dan disemen. Selanjutnya akan dibangun konstruksi pabrik yang mirip pergudangan. ”Untuk itu, saya berharap sekali ada aliran listrik yang masuk ke sini,” ujarnya.

Mendengar keinginan Rahmat Hidayat mengenai ketersediaan listrik, Asisten Manejer Bisiness Support PLTU NP Unit Bukit Asam, Syamsurizal M, berjanji akan membicarakan hal ini dengan Manager Unit Pelaksana. Sebab, perihal pengadaan jaringan dan distribusi listrik adalah kewenangan dari PLN Unit Induk Distribusi Sumbagsel, Jambi dan Bengkulu (S2JB).

”Mudah-mudahan dalam waktu dekat, kita akan coba fasilitasi untuk membicarakan ini dengan PLN UID S2JB. Termasuk mengenai kebutuhan tambahan peralatan mesin cetak paving untuk peningkatan kemampuan produksi,” ujar Syamsurizal.

Ia juga menjelaskan, sebenarnya bantuan peralatan cetak paving ini, juga diberikan kepada Karang Taruna Lawang Kidul. Namun, kabarnya usaha tersebut mati suri sehingga perlatannya pun menjadi idle.

”Ini info yang kita peroleh, kita akan cek ke sana kebenarannya. Jika memang para pemuda karang Taruna disana sudah tak mampu, bisa saja peralatan tersebut kita pindahkan ke sini (BUMDes Mandiri). Dan para pemudanya juga bisa menjadi tenaga kerja di BUMDes Mandiri, atau digabungkan (merjer),” kata Syamsurizal menambahkan.

Manager Unit Pelaksana PLTU Nusantara Power Bukit Asam, Ince Anjas. (f/dahri maulana)

Terbuka Seluas-luasnya

Sesungguhnya pihak PLTU NP Bukit Asam, sangat wellcome terhadap siapa saja yang ingin memanfaatkan FABA menjadi peluang usaha. Bahkan perusahaan subholding PLN (Persero) Tbk ini, juga siap membantu modal, peralatan produksi, pembinaan manajemen, bahkan untuk urusan penjualan hasilnya.

”Silahkan datang dan mengajukan permohonan, pasti akan kita proses dan direalisasikan. Karena kita juga ingin meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar perusahaan, sebagai bentuk kepedulian sosial PLTU Bukit Asam,” ujar Manager UPK Bukit Asam, Ince Anjas, saat memaparkan potensi FABA dan nilai ekonomisnya, Senin (21/10/2024) itu.

FABA dulunya memang, belum begitu banyak dikenal. Bahkan dianggap limbah BBB (Bahan Berbahaya dan Beracun). Namun setelah dilakukan penelitian secara seksama, ternyata FABA cukup aman untuk dimanfaat.

“Saya selaku perwakilan PLN UPK Bukit Asam merasa sangat bersyukur dengan telah diterbitkan nya PP Peraturan Pemerintah No.22 Tahun 2021 yang mengatur tentang Penyelenggaraan Lingkungan; perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pengelolaan limbah B3 dan pengelolaan limbah non B3 untuk pemulihan fungsi lingkungan hidup, dimana melalui PP ini FABA yang tadinya sangat sulit diakses oleh masyarakat, alhamdulillah sudah terbuka peluang untuk menumbuhkan pemanfaatan di masyarakat secara lebih luas,” ujar Ice Anjas menjelaskan.

Pabrik Paving Blok milik PLTU Bukit Asam, setiap hari memproduksi sekitar 1.000 bataco untuk dibagikan gratis kepada masyarakat sekitar. (f/dahri maulana)

Sejak dinyatakan tidak berbahaya, PLTU Bukit Asam juga melakukan berbagai inovasi, yang memanfaatkan FABA untuk pembuatan paving blok dan bataco, yang hasilnya dibagikan gratis kepada siapa saja yang memerlukan. Bahkan sampai sakarang, produksi material bangunan tersebut terus dikerjakan, untuk mengurangi tumpukannya di lapangan stokfile.

Setiap hari, PLTU Bumit Asam melakukan pembakaran batubara antara 8-10 ton untuk memanskan air yang uapnya disalurkan untuk memutar boiler pada turbin pembangkit. Dari pembakaran itu, akan terhimpun FABA sekitar 1-2 ton. ”Itu artinya, jika dalam satu bulan akan ada sekitar 30 ton FABA yang tertimbun di stokfile. Karena itu, harus dimanfaatkan,” ujar Ice Anjas.

Produksi paving blok ini juga dikorelasikan dengan program bedah rumah oleh PLTU Bukit Asam. Seperti bedah warga Desa Lingga Kec Lawang Kidul yang menggunakan Batako dari FABA. Penghuni rumah adalah seorang nenek berusia 84 tahun, yang hidup sendirian.

Kemudian paving juga diberikan kepada markas TNI Rindam Tanjung Enim, untuk mengecor lapangan upacara dan parkiran markas. Kemudian dibagikan pula kepada sejumlah sekolah yang ada di Muara Enim, untuk keperluan bangunan fisik dan pelataran sekolah.

Pemanfaatan FABA, juga dilakukan oleh PT Semen Baturaja untuk dicampur dengan bahan baku semen. ”Dulu FABA itu kita berikan gratis ke Semen Baturaja, setiap hari hampir 1 ton kita kirim. Bahkan biaya angkutnya kita yang tanggung. Tapi sekarang skemanya kita ubah. Kita kirim FABA-nya gratis, tapi biaya muat dan biaya angkutnya PTSB yang menanggung,” ujar Ince Anjas.

Lokasi pembuatan pupuk tanaman berbahan baku FABA di Komplek PLTU Nusantara Power Unit Bukit Asam. (f/dahri maulana)

Inovasi teranyar, FABA ternyata bisa dijadikan pupuk tanaman. Uji coba pembuatan pupuk dari FABA sudah dilakukan dengan campuran bahan alami lainnya, seperti kotoran hewan, sekam padi 5%, rumput kering 4%, FABA 40% dan bahan EM 4 Pertanian 1%.

Setelah bahan-bahan ini diaduk dan difermentasikan, hasilnya bisa menjadi pupuk tanaman seperti tomat, cabai dan sejenisnya, dan ternyata bisa hidup. Lebih prosfektif lagi, FABA disebut-sebut bisa dijadikan bahan pewarna. Beberapa universitas dan perguruan tinggi sedang melakukan peneilitian terhadap manfaat luas dari FABA ini. (dahri Maulana)

** Tulisan ini merupakan kepesertaan penulis pada lomba PLN Journalis Award 2024 untuk kategori feuture

Bagikan :