Usai Lonjakan DBD Dua Tahun Lalu, Dinkes Wonosobo Klaim Awal 2026 Aman dan Tetap Waspada
WONOSOBO | Populinews.com – Memasuki awal tahun 2026, Kabupaten Wonosobo dalam kondisi aman dari lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Kondisi ini jauh lebih baik dibanding dua tahun sebelumnya, yakni 2024–2025, yang sempat mengalami peningkatan kasus hingga menelan korban jiwa.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Jaelan. Ia mengatakan, meski pada dua tahun lalu terjadi lonjakan kasus, kondisi DBD di awal 2026 masih terkendali.
“Dua tahun kemarin, 2024–2025, memang ada lonjakan kasus demam berdarah. Alhamdulillah di awal tahun 2026 ini masih terjaga dan semoga sampai akhir tahun nanti terus bisa kita kendalikan,” ujarnya.
Ia menyebut kondisi tersebut dinilai sudah jauh lebih terkendali berkat berbagai upaya pencegahan yang terus dilakukan.
“Ini kembali lagi ke perilaku kita, perilaku pencegahan yang kita lakukan,” ujarnya.
Jaelan mengatakan, pada tahun 2024 tercatat adanya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang berujung pada kematian, yang sebagian besar dipicu oleh keterlambatan pasien dalam mendapatkan penanganan medis.
“2024 yang ada kasus meninggal itu karena terlambat juga, karena ini. Rata-rata itu, terlambat itu, karena kan demam kan dianggap demam biasa.
Menurutnya, banyak warga masih menganggap demam sebagai penyakit biasa, padahal DBD memiliki pola demam khas yang perlu diwaspadai.
“Demam berdarah itu demamnya seperti pelana, naik, turun, lalu naik lagi. Saat demamnya turun, sering dianggap sudah sembuh, padahal justru di situ fase paling berbahaya,” jelasnya.
Jaelan juga mengingatkan warga yang memiliki riwayat perjalanan dari luar kota atau daerah endemis DBD agar lebih waspada. Jika mengalami demam selama lima hingga tujuh hari meskipun suhu tubuh menurun, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Ia mencontohkan kasus pada 2024, di mana seorang pasien sempat disarankan untuk dirawat di puskesmas, namun menolak karena merasa sudah tidak demam.
“Ketika di rumah justru masuk fase perdarahan, hingga akhirnya kembali ke puskesmas dalam kondisi muntah darah dan sudah sangat lemah. Saat dirujuk ke rumah sakit, kondisinya sudah kritis,” terangnya.
Meski Wonosobo tergolong daerah dengan risiko rendah DBD, mobilitas masyarakat yang tinggi serta meningkatnya kasus di daerah sekitar tetap menjadi ancaman. Terlebih pada masa peralihan cuaca, potensi penyebaran nyamuk Aedes Aegypti meningkat.
“Intinya kembali ke perilaku pencegahan masyarakat. Pemberantasan sarang nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan, dan segera periksa jika demam berkepanjangan,” tegasnya.
Jaelan berharap kesadaran masyarakat terus terjaga agar kondisi aman dari DBD di awal 2026 ini dapat dipertahankan hingga akhir tahun. (sya)

