WONOSOBO | Populinews.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) terus mendorong peningkatan akses air minum dan sanitasi aman bagi masyarakat.

Saat ini, capaian akses air minum aman di Kabupaten Wonosobo baru mencapai 51 persen, sementara sanitasi aman masih berada di angka 36 persen.

Kepala DPUPR Kabupaten Wonosobo, Nurudin Ardiyanto, menyampaikan bahwa program peningkatan akses air minum dan sanitasi berbasis masyarakat dilaksanakan secara bertahap, dengan jadwal kegiatan dari sekarang hingga Oktober 2026.

Hal itu disampaikan saat Sosialisasi Tingkat Kabupaten terkait program Dana Alokasi Khusus (DAK) dan APBD Bidang Air Minum dan Sanitasi di Pendopo Selatan, Rabu (21/1/2026).

“Secara jadwal sampai bulan Oktober, namun kami berupaya bisa lebih cepat. Kecepatan pelaksanaan sangat bergantung pada semangat masyarakat karena pengelolaannya berbasis masyarakat, dengan pendamping dari kami,” jelasnya.

Akses Air Minum Aman Masih Jadi Tantangan

Adin menjelaskan akses air minum aman ditentukan oleh beberapa indikator, antara lain kontinuitas aliran air selama 24 jam, serta kualitas air yang bebas dari bakteri.

Untuk menjamin hal tersebut, BP SPAM secara berkala melakukan pengujian kualitas air setiap tiga hingga enam bulan, termasuk pemeriksaan sampel ke Dinas Kesehatan.

Penerima Manfaat Capai Ribuan Jiwa

Dari 10 titik lokasi kegiatan tahun ini, DPUPR mencatat penerima manfaat mencapai 1.310 jiwa untuk air bersih, serta 395 sambungan rumah untuk sanitasi.

Untuk mencapai target 100 persen akses air minum aman, Pemkab Wonosobo mengandalkan dua operator utama, yakni PDAM dan Badan Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (BP SPAM). Saat ini, PDAM mengelola sekitar 30 persen akses aman, terutama di wilayah perkotaan, sementara sisanya dikelola oleh 185 BP SPAM di 185 desa.

“Justru tantangan terbesar kita ada pada pengelolaan air minum berbasis masyarakat. Ini menjadi pekerjaan rumah yang terus kami benahi,” ungkapnya.

Sanitasi Aman Masih Rendah

Meski akses aman masih 51 persen, ia menegaskan bahwa akses dasar air bersih di Wonosobo sudah mencapai 97 persen. Namun, pada musim kemarau masih terdapat beberapa wilayah yang membutuhkan distribusi air bersih, seperti Wadaslintang, Pagerejo, dan sejumlah wilayah rawan kekeringan lainnya.

Sementara itu, untuk sektor sanitasi, capaian akses aman masih tergolong rendah. Menurut Nurudin, banyak masyarakat yang merasa sudah memiliki sanitasi layak karena memiliki septic tank, padahal sebagian besar masih belum memenuhi standar aman.

“Sanitasi aman itu septic tank harus kedap, ada pengelolaan biologis, dan lumpur tinja disedot secara berkala. Jika hanya septic tank dasar, itu masih berpotensi mencemari tanah,” tegasnya.

IPAL dan Sedot Tinja Terjadwal Jadi Solusi

Pemkab Wonosobo saat ini telah memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang berada di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Melalui layanan sedot lumpur tinja terjadwal, lumpur diolah secara aman dan menjadi salah satu indikator penting dalam pencapaian akses sanitasi aman.

“Kita punya IPAL di sebelah TPA, itu ada IPAL kita. Maka sekarang kita galakkan sedot tinja tadi. Ini adalah salah satu indikator dari akses aman ketika pada periode tertentu itu terjadwal layanan lumpur tinja terjadwal. Itu disedot kemudian diolah, nanti 3 tahun berikutnya misalnya sudah harus disedot lagi,” ujarnya.

Melalui upaya bertahap ini, DPUPR berharap kualitas layanan air minum dan sanitasi di Wonosobo dapat terus meningkat secara berkelanjutan demi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
(syasya)

Bagikan :