PALEMBANG | Populinews.com – Yulianti (38) tak berlebihan disebut manusia cerdas, inovatif dan Srikandi Enterpreneur yang sangat mumpuni. Berbekal ketekunan dan sikap pantang menyerah, kemudian dibalut peran besar program CSR SKK Migas melalui mitra KKKS yang ada, ia dapat menciptakan produk UMKM, yang unik, syarat dengan muatan lokal dan mampu menembus pasar global

Yulianti memperlihatkan bahan baku kulit sawit yang sudah direbus untuk diramu dengan bahan lain agar menjadi Dodol Sawit. (f/dahri maulana)

Pernah dengar Dodol Sawit?… Dari namanya saja terkesan unik dan aneh. Kok bisa buah kelapa sawit, yang kita tahu menjadi bahan baku minyak goreng, menjadi Dodol, makanan sekelas permen yang banyak diproduksi di Kota Garut, Jawa Barat. Disinilah letak kemampuan Yulianti, Ibu tiga anak asal Desa Macang Sakti, Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyauasin, Sumatera Selatan.

Berawal dari kegelisahannya terhadap buah sawit yang sering rontok dari tandannya, lalu berserakan di tanah tak termanfaakan, Yulianti, yang saat itu masih menjadi guru honorer di SMPN 3 Muba, seringkali memutar otak, bagaimana caranya agar buah sawit rontok — yang jika dikumpulkan jumlahnya puluhan kilogram itu — dapat dimanfaatkan sehingga tidak mubazir. Apalagi buah sawit dari kebun ayahnya itu, tidak terlalu luas dan produksi panennya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Berkat kegigihannya melakukan uji coba terhadap buah sawit, alhasil diperoleh sebuah inovasi yang sebelumnya tak pernah terpikirkan oleh rang lain. ”Ternyata bukan cangkang dan isi buah sawitnya saja yang bisa dimanfaatkan, melainkan kulitnya yang sudah masak dan menguning, bisa dijadikan Dodol dengan berbagai varian rasa,” ujar Yulianti kepada Populinews.com, yang berjunjung ke gerai produksinya di Desa Macang Sakti, Sabtu (6/6/2026) lalu.

Artinya, ada satu manfaat lagi dari buah sawit yang selema ini tidak terpikirkan. Yakni kulitnya. Ternyata kilit sawit bisa dijadikan makanan kemasan, berupa Dodol Sawit. Sementara isinya tetap menjadi minyak goreng, bahan baku sabun, shampo, pasta gigi dan kosmetik serta Skincare. Bahkan belakangan bisa menjadi dasar bahan bakar Biodisel, Biomassa Pengganti Batubara, pupuk organik/biochar dan banyak lagi turunan manfaat lainnya.

Para santri sedang melakukan proses manual adonan bahan untuk Dodol Sawit. (f/dahri maulana)

Proses Awal Pembuatan

Lalu bagaimana proses pengolahan kulit sawit menjadi Dodol? Yulianti, yang sekarang bersama suaminya Ade Citra (40) memiliki Yayasan Ponpes Izzatul Kamilah di desanya, berkisah panjang lebar. Berawal dari adanya undangan dari SKK Migas melalui Medco E&P ke SMPN 3 tempat ia mengajar. Isi undangan meminta agar SMPN 3 Muba menjadi peserta lomba Inovasi bagi pelajar se Kabupaten Muba.

Lantas terbesit di hati Yulianti untuk mengajak anak didiknya mencoba membuat produk inovatif dari buah sawit yang rontok dan mubazir berserakan di kebun ayahnya. Singkat cerita, di sekolahan dilakukan praktek mengolah buah sawit untuk menjadi Sabun Mandi Cair, belum terpikir menjadikannya Dodol Sawit.

Pertama sekali, buah sawit yang kuning kemerahan dicuci berasih lalu direbus sampai airnya mendidih. Kemudian, setelah ditiris, kulit buah sawit hasil rebusan dimasukkan ke dalam kantong berserat longgar lalu diperas. Ternyata air perasan sawit itu, tidak menghasilkan minyak yang berbusa. Uji coba ini pun gagal.

Putus asa? ternyata tidak, Yulianti berkisah di lain kesempatan ia dan muridnya kembali melakukan uji coba. Tapi kali kedua ini kulit sawit yang sudah direbus, lalu diuleg-uleg sampai halus. Sehingga terciumlah bau yang menyerupai dodol, yang bissanya berbahan baku beras ketan.

Seakan langsung mendapatkan ‘petunjuk’ dari Yang Maha Kuasa, Yulianti langsung bergumam kepada siswi anak didiknya. ”Sekarang ketamu. Kita bikin Dodol saja,” ujarnya berkisah. Saat itu para siswi anak didiknya pun malah saling pandang. Mungkin dalam hati mereka bertanya-tanya, bagimana caranya meramu kulit sawit yang direbus sampai lembek itu, dijadikan dodol. Alhasil uji coba pun berlanjut.

Berbekal ilmu pengetahuan tentang cara membuat dodol dari berbagai literasi kuliner di internet, Alhasil Yulianti dan para siswinya berhasil membuat Dodol dari kulit sawit. Tanpa bahan pengawat dan pemanis buatan.

Apakah di tahap ini sudah selesai dan bisa diikutkan lomba inovasi?..Ternyata belum juga. Sebab, masih ada persoalan lain yang juga serus. Yakni, ketika dodol tersebut dibungkus dengan kertas berminyak, ternyata dodolmya masih lengket dan susah diambil.

Belakangan Yulianti mencoba berkonsultasi dengan petugas di Dinas Perindutrian dan Perdagangan Musi Banyuasin. Atas saran petugas tersebut, barulah Yulianti dan para siswinya berhasil menciptakan produk inovatif yang berkaitan langsung dengan kearifan lokal sejaligus pelestarian lingkungan hidup ini.

Produk inovatif ini pun langsung ‘disetor’ kepada panitia lomba di SKK Migas Sumsel, untuk dinilai. Hasilnya, sungguh menakjubkan. SMPN 3 keluar sebagai juara pertama. Selain mendapatkan penghargaan berupa Sertifikat Inovator, SKK Migas melalui Medo E&P juga beberikan bantuan 20 Unit Komputer serta pembangunan Lapangan Fungsional bagi SMPN 3 Muba.

Dikelola Satri Ponpes

Tahun 2022 Yulianti mengawali status baru sebagai guru. Ia diangkat menjadi Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Tapi itu tidak membuat hatinya gembira. Sebab, di saat yang sama ayahnya tutup usia. Sebelum meninggal sang ayah memang memiliki Pondok Pesantren di Desa Macang Sakti. Saat sakit, ia sempat berpesan agar Yulianti dan suaminya kembali saja ke desa untuk mengurus Ponpes Izzatul Kamilah.

Untuk menghidupi pesantren tersebut sang ayah memang mengandalkan hasil dari kebun sawitnya, yang jumlahnya lebih kurang 4 hektar. Sebab, tidak semua santri diminta bayaran, apalagi dia anak yatim piatu. Kondisi ini pula, yang membuat Yulianti memutuskan berhenti jadi guru di SMPN 3 Musi Banyuasin, bahkan mundur dari status PPPK-nya. Ia pun lalu pulang ke desanya bersama sang suami.

Para santri Ponpes Izzatul Kamilah bekerja saling membantu dalam proses penbuatan Dodol Sawit (F/Dahri Maulana)

Berhenti jadi guru dengan status PPPK, ternyata tak menyurutkan semangat dan jiwa enterprenueurnya. Dengan modal temuan inovatif Dodol Sawit yang sempat meraih penghargaan saat dia masih menjadi guru, usaha ini justru dibangun lebih serius. Sebuah lokasi produksi berikut otlet penjualan, dibangun tak jauh dari Ponpes milik ayahnya itu. Bahan baku pun tidak hanya sawit rontok, tapi buah sawit masak yang masih di pohonnya, juga diambul setelah dipih yang masak

Yang menarik, justru yang menjadi tenaga kerja produksi Dodol Sawit, adalah para santri Ponpes itu sendiri. Mereka, terutama santri perempuan, dibekali pendidikan cara meracik dan memasak dan mengemas Dodol Sawit. Mereka diberikan tugas bergantian untuk melasanakan itu. Tetu saja ada uang insentif yang mereka terima dari Yulianti selalu pengelola.

Bahkan pada pertengahan tahun 2023, seorang santri bernama Efriyanti, dikirim ke Jakarta, setelah Yulianti dan usaha Dodol Sawitnya mendapat undangan dari Medo E&P, agar mengirim utusan untuk ikut pelatihan Majanajeman, Diversifikasi Produksi, Pengemasan Pemasaran Digital dan Pendaftaran Hak Cipta, bagi UMKM di daerah.

Saat ini, produksi Dodol Sawit dari para satri Ponpes Izzatul Kamilah, sudah memiliki banyak varian dan ukuran. Ada yang rasa durian, rasa kacang dan rasa buah-buahan lainnya. Produk tidak hanya dijual pada tingkat lokal, tapi juga dipasarkan ke luar negeri, seperti Malaysia, India dan Arab Saudi.

Penjualan ke luar negeri dilakukan dengan cara menjalin kerjasama dengan perusahaan Tour & Tavel Umrah, serta Forum Pondok Pesantran (Forpes) Indoensia di Musi Banyuasin. Mengenai omset penjualan Yulianti menyebutkan sangat fluktiatif. ”Kita melakukan produksi banyak ketika ada permintaan besar. Tapi ketika pasar masih sepi, produksi dilakukan secukupnya saja untuk penjualan di tingkat lokal,” katanya.

Pertemuan koordinasi antara Bupati Muba HM Toha Tohet dengan MEdco E&P membahas soal peran CSR bagi masyarakat Muba. (f/kominfo muba)

Untuk urusan promosi, Yulianti rupanya dibantu secara gratis oleh Radio Randik, milik Pemkab Muba. Demikian juga ketika ada kegiatan Bazar dan Pameran Kerajinan dan Industri rumah tangga, Ia diberikan tempat stand secara gratis. Dinas Kominfo Muba dalam setiap event pun selalu memberikan informasi kepada publik bahwa Muba memiliki produk makanan olahan sawit berupa dodol sawit.

Selain itu, Yulianti rupanya tidak menutup diri untuk membagikan ilmu membuat Dodol Sawit ini kepada para tetangganya, terutama kepada Ibu-ibu kumpulan PKK dan Pengajian. Karena hampir 80% warga Macang Sakti adalah petani sawit, baik pemilik maupun pekerja kebun. Dengan bekal ilmu tersebut, tak sedikut Ibu-ibu juga jadi pandai membuat Dodol Sawit.

Itu berarti setidaknya Yulianti telah menebarkan manfaat kepada masyarakat untuk peduli pada hal-hal yang dianggap tidak berguna menjadi bernilai ekonomi.

Dari alur sepak terjang Yulianti ini pula, secara jelas tergambar bahwa kolaborasi antara SKK Migas dan Mitra KKKS seperti Metco E&P dengan Pemerintah dan masyarakat desa di sekitar wilayah usahanya, jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, akan menghasilkan apa yang diebut Eefek Berganda Hulu Migas. Yaitu timbuhnya unit-unit usaha masyarakat yang handal dan berkelanjutan. (*)

Penulis : Dahri Maulana

Catatan : Tulisan ini karya asli penulis dan diajukan sebagai peserta lomba karya tulis SKK Migas Sumatera Selaan.Tahun 2026

Bagikan :