Ibrahim Busan (72), tengah memperhatikan tambak keramba Ikan Patin miliknya di Sungai Batanghari, Desa Ulak Jermun SP Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir ketika pandemi berlangsung April lalu. (f/dahri maulana)

PALEMBANG | Populinews.com — Masa pandemi Covid-19, benar-benar menjadi mimpi buruk bagi ratusan petani Keramba Ikan Patin Sungai di sejumlah desa di kecamatan SP Padang, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Mereka sempat ‘semaput’ karena sepi order dan tak didatangi lagi oleh utusan agen dari luar kota. Namun sekarang mereka perlahan mulai bangkit, setelah menemukan solusi berjualan di Medsos sebagai sarana promosi.

============================================

Sejak tiga bulan terakhir, hampir setiap pagi usai shalat subuh, Ibarahim Busan, kembali sibuk dengan kesehariannya. Membawa sekarung kecil Pur (pakan ikan), lalu menebarkannya ke puluhan keramba jaring (Waring), di tepi sungai Desa Ulak Jermun, Kecamatan SP Padang, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Riuh kecipak dan percikan air dari ribuan ikan patin yang berebut pun menjadi ‘hiburan’ yang mengasyikan baginya.

Di usianya yang sudah kepala Tujuh, Ibrahim Busan, memang masih memiliki semangat usaha yang menggelora. Apalagi saat ini, usahanya itu, baru saja ‘selamat’ dari bayang-bayang kehancuran, akibat pandemi covid-19.

Bayangan kehancuran itu terjadi sejak awal April lalu. Ibrahim sempat ‘kelimpungan’ mengurus keramba ikannya. Dampak Covid-19, membuat order dari agen yang biasa datang ke lokasi tambak kerambanya, terhenti sama sekali, karena kebijakan PSBB dimana-mana.

Ibrahim Busan ketima memberikan pakan ikan patin keramba miliknya (f/Dahri Maulana)

Agen atau pedagang pengumpul dari luar kota, yang biasa order langsung ke lokasi tambak, menurut Ibrahim, tak pernah lagi datang. Tak terlihat lagi truk-truk berjejer di pinggir jalanan desa, dengan kesibukan mengangkut ikan untuk dibawa dan dipasarkan.

Mereka, ungkap Ibrahim, berdalih ikan patin sudah sulit dipasarkan. Hampir di semua kota, banyak rumah makan atau restoran yang menyediakan masakan Ikan Patin ini, juga tutup tak beroperasi karena tidak boleh ada kerumunan. Puncak kesulitan, terjadi pada bulan Mei hingga Juli 2020 lalu.

Sebelum pandemi Covid-19 melanda, Ibrahim tidak putus pemasukan. Setiap minggu paling sedikit Rp 5 juta diperoleh dari pembelian Ikan Patin dari pedagang pengumpul. Mereka datang dari berbagai daerah seperti Lampung, Bengkulu, Palembang bahkan Jakarta. Pembelian biasanya dalam volume besar, paling minim 1 ton.

Bisa dikalkulasi sebesar apa pendapatan Ibrahim, jika harga pasaran patin itu dijual Rp 20.000 hingga Rp 22.000 per kilogram. Tapi setelah pandemi Covid-19 terus merebak, jangankan Rp 5 juta seminggu, untuk memperoleh uang Rp 1 juta saja belum tentu dapat.

Di sisi lain, ikan Patin yang jumlahnya hampir 2 juta ekor, harus diberi makan setiap pagi dan sore, agar tak mati kelaparan. Minimal untuk bebutuhan jumlah ikan yang diperlihara, butuh satu karung pakan yang harganya sekitar Rp 250 ribu. Itu artinya jika dikalkulasi dalam sebulan butuh minimal 30 karung x Rp 250.000, atau sekitar Rp 7,5 juta.

Tentu saja, Ibrahim kebingungan. Belum lagi harus memikirkan bagaimana mencari uang untuk melunasi kasbon pakan ikan dari pabrik yang belum dibayar.

Pria yang pernah menjabat Kepala Desa di Bungin Tinggi, Kecamatan SP Padang di era tahun 2000 ini, sempat terpikir untuk menggadaikan truk miliknya kepada rekan usaha, agar punya dana talangan. Tapi itu pun ternyata tidak mudah. Sebab, rekan usahanya pun mengalamai hal yang sama.

Ibrahim Busan yang terpuruk, memang tidak sendiri. Di sepanjang Sungai Batanghari, ruas kecamatan SP Padang, ada ratusan masyarakat yang menggeluti usaha serupa juga bernasib sama. Mulai dari kecil-kecilan, hingga skala besar. Tidak saja warga desa Ulak Jermun, Tapi juga Desa tetangganya, seperti Mangunjaya, Kedukan, bahkan sampai ke Desa paling hilir seperti Sedang Menang dan Air Hitam. Jumlahnya sekitar 200-an UKM.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari, para petambak harus menawarkan sendiri ikan-ikan patin yang sudah berusia lebih dari 7 bulan, ke pasar-pasar terdekat. Bahkan ada yang melakukan dooor to door ke perumahan di kota terdekat yakni Kayu Agung. Bahkan yang lebih ironis ada beberapa petmabak melelang hasil panennya dengan harga murah, lalu ia berhenti melakukan aktivitas pemeliharaan.

”Ikan Patin itu, kalau usianya lebih dari tujuh bulan, rasa dagingnya sudah sepah,” ujar Ibrahim kepada populinews.com, yang sengaja datang melihat langsung kondisi tambak kerambanya di alur sungai Batanghari, Desa Ulak Jermun.

Junaidi Ibrahim (40), Putra Sulung Ibrahim Busan, tengah meninjuai tambak patin yang dikelolanya bersama orangtua. (f/dahri maulana)

Membuat Group Medsos

Kisah pilu petambak keramba ikan Patin di sejumlah desa di Kecamatan SP Padang Ogan Komering Ilir, mulai berangsur membaik di awal Agustus lalu. Saat itu, putra sulung Ibrahim Busan, bernama Junaidi (40) tahun, mencoba mengundang seluruh petambak keramba untuk mencari jalan keluar bagaimana cara memasarkan hasil panen ikan dengan harga wajar.

Pertemuan pun berlangsung di kediamannya, di Desa Ulak Jermun. Selain para petambak keramba, pertemuan ini juga dihadiri perangkat desa setempat dan pemuka masyarakat. ”Saya punya ide begini. Jalan satu-satunya yang bisa kita lakukan, untuk menghindari gagal jual hasil panen, adalah melakukan promosi lewat Medsos,” ujar Junaidi ketika memulai pembicaraan.

Semula, petambak keramba tidak menunjukkan respon positif, bahkan hanya menyambut dingin. Hal itu dimaklumi Junaidi, karena mayoritas petambak ikan patin ini, ternyata tidak mengerti dengan teknologi itu. Meski semua memiliki handphone, tapi mereka masih ‘asing’ dengan cara memanfaatkan paltform media sosial, seperti Facebook, Twitter, WhatsApp dan Instagram. Selama ini handphone hanya untuk komunikasi suara, atau sesakali video call.

Lalu bagaimana caranya? pertanyaan tiba-tiba terlontar dari salah seorang. Junaidi pun mahfum, sebab rata-rata petambak ikan patin ini memang tidak memiliki akun di platfom medsos. Alhasil Junaidi pun menyarankan, agar semua petambak yang hadir meminta bantuan dari orang yang mengerti, anak atau saudara yang mengerti.

Selanjutnya, setelah masing-masing sudah memiliki akun sendiri, Junaidi membuatkan akun group di berbagai medsos tersebut, sehingga ia bisa saling berkomunikasi, dan melakukan sharing informasi dengan publik secara umum di dunia maya. Nama akun group itu ‘Bebase Sirah Pulau Padang”.

Dalam upayanya untuk memudahkan pelanggan, ia tak lupa menautkan halaman bisnisnya dengan akun WhatsApp sehingga pelanggan tidak perlu menyimpan kontak terlebih dahulu tetapi dapat langsung mengklik tombol berlogo WhatsApp untuk memulai percakapan. Poses jual beli ikan terjadi secara lintas platform Facebook, Instagram, dan WhatsApp.

Postingan Junaidi di akun Facebooknya, belum lama ini. (f/cs.fb)

”Waktu itu, petambak yang tidak mengerti, saya sarankan meminta batuan keluarganya masing-masing. Paling tidak membuat akun facebook. Sekarang mereka rata-rata sudah mengerti dan berpromosi masing-masing,” ujar Junaidi kepada populinews.

Awalnya, Juniadi sendiri mengaku memakai akun Facebook pribadi (bernama Junaidi Ibrahim Busan) untuk sekadar memposting foto kegiatan memanen ikan di keramba yang memang sudah layak dijual. Foto2 itu kemudian ia share ke banyak gruop yang dia ikuti. Seiring berjalannya waktu, kian banyak yang tertarik dengan postingan Junaidi dan mulai bertanya hingga akhirnya membeli.  Terutama para pemilik rumah makan dan restoran.

Untuk mengantarkan pesanan, Junaidi pun menyiapkan satu mobil pick-up carry untuk antaran dekat dan jumlahnya tidak banyak. Kemudian, sebuah truk angkel untuk antara jumlah besar di luar kota. ”Ada juga orang yang membaca pontingan saya, meminta agar saya menyediakan waktu untuk membagi ilmu bagaimana cara beternak ikan Patin, seperti yang saya dan orangtua saja lakukan,” ujar Junaidi menambahkan.

Begitu besar dampak komunikasi Medsos, membuat Junaidi dan petambak lainnya, menyadari untuk mengembangkan bisnis ikan patin ke tingkat selanjutnya. Apalagi belakangan ini ada juga kelompok marketing bisnis di Jakarta, yang menawarkan kerjasama untuk penjualan wilayah Jawa, bahkan ekspor ke Singapura dan Jepang.  Ada kebutuhan besar di dua negara itu.  Ternyata ikan patin bisa dibuat produk dalam bentuk abon. Bahkan di Pulau Jawa kulitnya, bisa dijadikan kerupuk.

“Sekarang kami menyadari, ternyata peluang pasar terbesar ada di jagad maya. Bukan lagi menjual dengan cara konvensional lewat agen perantara atau pedagang pengumpul. Artinya sekarang ini tak ada agen, medsos pun jadi. Mudah-mudahan rintisan untuk memasuki pasar ekpsor yang sedang dilakukan juga berhasil. Bantu do’akan saja,” ujar Junaidi yang memang memiliki pengalaman matang bekerja di tambak udang terbesar di Asia, yakni Wahyuni Mandira, Dipasena, Lampung. (dm)

Penulis : Dahri Maulana

Catatan : Tulisan ini diikutsertakan dalam Kamba Karya Jurnalistik Kominfo 2020