MUARA ENIM | Populinews.com — Pandemi Covid-19, tidak hanya memukul dunia usaha di perkotaan. Dampak serius juga dirasakan oleh orang-orang di desa yang berprofesi sebagai petani. Tak terkecuali petani Kopi di Kecamatan Semende Darat, Kabupaten Muara Enim. Sejak pandemi setahun lalu, harga kopi petani tak juga membaik. Permintaan pasar pun terus melorot, seiring banyaknya usaha Cafe dan Resto yang megap-megap.

Tapi belakangan, petani kopi Semende punya solusi. Lahan kopi, mereka coba olah menjadi lahan tumpang sari dengan tanaman sayuran alami, seperti Sawi, Kentang, Kol Hijau, Brokoli, Tomat dan Cabai. Dengan begitu, petani justru memiliki penghasilan tambahan yang lebih cepat, dibanding menunggu panen kopi sekali setahun.

Lihat saja yang dilakukan Sujasi (57), salah seorang petani di Desa Cahaya Alam, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim. Sejak awal Januari lalu, ia mulai mencoba bercocok tanam berbagai jenis Palawija di sela-sela tanaman kebun kopinya. Ia, terinspirasi dari beberapa petani tetangganya, yang melakukan hal sama dan berhasil.

Rupanya, berbagai jenis sayuran dan palawija bisa tumbuh subur di tanah Desa Cahaya Alam, yang memang menjadi bagian dari pegununan Bukit Barisan, yang bercuaca dingin dan sejuk. Di Desa ini terhampar kebun kopi sejauh mata memandang dengan Batas cakrawala menjadi akhirnya. Sejak tahun 70-an silam, Desa Cahaya Alam memang menjadi salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Kabupaten Muara Enim.

Petani Kopi Cahaya Alam mulai kesulitan secara finansial, sebenarnya sudah hampir lima tahun belakangan. Lalu setahun belakangan dihajar lagi musibah pandemi covid-19. Selama masa pandemi, permintaan dan harga kopi juga anjlok parah. Alhasil, hingga akhir tahun 2020 lalu, hasil panen pun terpaksa dijual dengan harga seadanya. Petani pun mulai kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga.

Kini, dengan menanam sayuran palawija, seperti Cabai dan Tomat, Sujasi masih bisa bernapas lebih panjang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bahkan ia bisa menjalani usaha ini seperti rekan-rekannya yang lain yang telah lebih dulu. Mereka
mengaku bisa panen sayuran empat kali dalam setahun.

”Sekarang kami sudah mulai mengerti. Dengan menanam sayur, kebutuhan keluarga bisa terpenuhi, bahkan bisa merencanakan keuangan keluarga. Sayur untuk kebutuhan jangka pendek, sedangkan kopi yang panennya setahun sekali bisa untuk tabungan jangka panjang,” ujarnya.

Adalah Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Cahaya Alam, Monika, dalam perbincangan dengan populinews.com, mengatakan budidaya holtikultura sebenarnya sudah dicoba sejak 15 tahun lalu. Tapi masih setengah-setengah, lantaran petani terkendala bibit yang harus didatangkan dari luar.

Sekitar dua tahun silam, ada pendatang dari Jawa Barat yang berhasil membujuk para petani kopi untuk kembali menanam tumpang sari sayuran di lahan kopi. Skema bagi hasil menjadi kesepakatan. Alhasil, petani yang ingin mengubah nasib berhasil. Panen sayuran subur dengan harga yang membahagiakan. Sejak saat itu, satu persatu petani mengikuti jejak sukses berkebun sayur.

Apalagi ketika masa pendemi datang, petani yang tadinya enggan dan sudah merasa cukup dengan hasil kopi, kini gigih berusaha menanam sayur.

Secara kasat mata, para petani yang membudidayakan sayur, memang lebih sukses ketimbang hanya menggarap kopi saja. “Ada yang sudah bisa beli mobil, dua mobilnya, dan bisa bangun rumah jadi bagus. Kelihatannya memang lebih sukses daripada hanya menanam kopi,” ujar Monika.

Monika juga mengakui, perubahan pola petani menggarap lahan kopi di masa pandemi ini, juga bisa berdampak buruk. Apalagi jika petani kopi beralih total menjadi petani sayur. Tanaman kopi bisa dihabisi jika lahan tanaman sayur kurang luas.

”Dampak buruknya adalah longsor,” ujar Monica. Sebab, tanaman kopi juga berfungsi menahan turunnya tanah dan air dari hulu ke hilir jumlahnya berkurang.

Karena itu Monika pun mewanti-wanti masyarakat Cahaya Alam lainnya agar tidak beralih sepenuhnya menjadi petani sayur. Bila sudah tidak ada lagi lahan, masyarakat masih bisa memanfaatkan lahan tidur yang belum digarap di hutan desa seluas 225 hektare.

Artinya, meskipun tanaman sayuran di Desa Cahaya Alam semakin menjamur, petani tidak boleh menghabisi kebun kopinya. Kopi masih menjadi komoditas utama masyarakat Semende dan berkontribusi besar untuk pemasok kopi di seluruh Indonesia.

“Sayuran bisa menjadi stimulan petani agar tidak terlalu tergantung dengan harga kopi. Apabila sudah banyak kopi arabika di sini pun dan berhasil dijual, petani pasti akan kembali bersemangat untuk menanam kopi. Sayur untuk sampingan saja karena kopi hanya dipanen setahun sekali,” ungkap dia.

Selain itu, LPHD sebagai lembaga resmi yang mendapatkan mandat dari pemerintah pun terus mengingatkan masyarakat agar tetap tahu batasan dengan cara berkebun di hutan desa yang melestarikan lingkungan. Setiap masyarakat hendak menanam sayur, pihak LPHD Cahaya Alam mewajibkan untuk menyelangnya dengan bibit kopi jenis arabika.

Monica tidak memungkiri, saat ini petani yang mulai menanam sayuran semakin banyak. Secara kuantitas, pihaknya tidak bisa menghitung total produksi sayur petani per panen. Karena tidak ada koperasi yang menaungi mereka. Namun rata-rata, setiap petani bisa memanen 500-1.000 kilogram sayuran per hektar dengan masa panen empat kali dalam satu tahun. (dahri maulana)