Sepi di Pasar Tradisional, 100 Loyang Perhari Meluncur di Jalur Medsos

PALEMBANG | Populinews.com — Tragedi kelam yang dialami Yusnita Rizalina (42), sepanjang tahun 2020 silam, hampir saja membuatnya putus asa. Usaha kecil (home industri) membuat kue basah dan kue kering, untuk mengisi toko-toko di sejumlah pasar di Palembang, yang kala itu mulai bangkit, tiba-tiba jeblok. Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai, menjadi penyebab yang tak bisa dielakkan.
Satu unit mobil pick-up pribadinya terpaksa dijual, untuk menutupi biaya bahan baku yang belum terbayar. Padahal, mobil semata wayang itulah yang digunakan untuk mengantarkan kue-kue pesanan pelanggan di pasar-pasar.
Apa boleh buat. Yusnita — yang akrab disapa Bucik Iin — saat itu memang tidak punya pilihan (No Choise). Daripada punya hutang dengan toko bahan baku, yang selama ini sudah percaya kepadanya, lebih baik modal aset yang dimiliki dilego dulu, agar tak merusak hubungan bisnis.
Sepi pembeli, menjadi alasan utama bagi sejumlah toko pelanggan Yusnita, untuk mengurangi pemesanan (order) pasokan kue berbagai jenis yang biasa ia produksi. Yusnita selama ini memang sudah punya banyak mitra penyalur di pasar-pasar. Mulai dari Pasar Induk Jakabaring, Pasar 16 Ilir, Pasar Cinde bahkan pertokoan di Mall dan ruko-ruko se antero kota Palembang.

Maklum, usaha ini sudah ia rintis sejak 20 tahun silam, secara kecil-kecilan melayani pesanan pribadi rumah tangga yang menggelar hajatan. Dan dengan kesabaran dan kepiawaiannya meracik kue-kue basah yang lezat, lama kelamaan banyak toko kue yang memesan untuk dijual kembali kepada konsumen.
Sebelum pandemi, Yusnita paling sidikit memproduksi kue basah tak kurang dari 100 loyang per hari. Kue-kue itu terdiri dari berbagai jenis dan rasa. Tergantung keinginan pemesan. Mulai dari kue Bolu Cake, Bolu Pandan, Bolu Nanas, Maksuba, Lapis Legit, Engkak Ketan, Balckforest, bahkan kue khas Palembang yang disebut ‘Delapan Jam’ dan kue Ulang tahun.
Bahkan, ada salah satu kue basah hasil inovasinya sendiri yang diberinama ‘Kue Makjola’, yakni gabungan antara Maksuba, Bolu Kojo, dan Lapis Legis. Harga kue ini pun sangat luar biasa, yakni kisaran Rp 500 Ribu per loyang. Berbeda jauh dengan harga kue basah lainnya, paling tinggi Rp 150.000 per loyang. Makjola lebih mahal, karena tingkat kesulitan dan resiko gagal membuatnya sangat besar. Kemudian bahan yang digunakan juga lebih variatif.
Sedangkan untuk kue kering, seperti kue Salju, Nastar, Telur Gabus dan berbagai jenis lainnya, Bucik Iin, yang memiliki tenaga pembantu tiga orang pekerja, mampu memproduksi paling seidkit 500 packing per hari. Satu toko biasanya memesan paling sedikit 10 loyang kue basah berbagai jenis dan rasa perhari. Sedangkan kue kering, rata-rata 20-30 packing perhari.
Omzet order penjualan ini berlaku untuk hari-hari biasa. Berbeda jika saat menjelang hari raya, Iin terpaksa menambah jumlah tenaga pembantunya, karena toko-toko pelanggannya akan memesan lebih banyak, bahkan sampai dua kali lipat. ”Pernah dalam satu hari, saya produksi sampai 500 loyang,” ujarnya.
Tak heran, jika menjelang lebaran, ruang tamu kediamannya di Lorong Langgar, Kelurahan Tegal Winangun, Plaju Darat, Palembang ini, penuh sesak dengan tumpukan kue basah dan kue kering yang siap diantarkan ke pemesan masing-masing.
”Dulu kalau mau lebaran, saya dan beberapa pembantu, sampai begadang menyelesaikan orderan toko. Jika tidak tepat waktu, pasti dikomplain. Soalnya saya bertransaksi dengan pemesan minimal 50% bayar dimuka,” ujar Iin kepada populinews.com, Jumat (23/72021). Dalam mengerjakan pesanan, Iin rupanya dibantu juga oleh suaminya, Syamsul Basri (55), yang bertugas meracik adonan dan menjaga 16 Oven pemasak kue yang digunakannya.
Sejak pandemi Covid-19 berlangsung dua tahun terakhir, Pasar Induk Jakabaring Palembang dan pertokoan kue konvensiaonal lainnya, kini tak lagi menjanjikan baginya untuk mengais rezeki. Sejumlah toko kue basah dan kue kering, yang menjadi mitra usaha selama ini, kini sudah jarang memesan dalam jumlah banyak, kerena rata-rata mereka kesulitan menjual. Sementara kue bsah, sangat peka waktu. Jika dalam dua minggu tak laku terjual, kondisinya sudah tak bagus dan cenderung ‘lapuk’ (berjamur).

Rezeki di Jalur Medsos
Sejak lonjakan pandemi Covid-19 di awal Februari 2021 lalu, Iin sempat memutuskan istirahat. Sembari menunggu situasi normal, ia sempat kembali ke profesi lama, yakni menjadi ‘Guru Mengaji’ bagi perkumpulan takziah ibu-ibu di lingkungan kediamannya.
Tapi rupanya, berkumpul kembali dengan Ibu-ibu pengajian, menjadi pembuka pintu rezeki baru bagi Iin untuk kembali bangkit dengan usahanya. Apalagi Ibu-ibu pengajian ini rata-rata-aktif di banyak group Medsos, dalam berkomunikasi dan berkabar. Suatu ketika, di awal April 2021 lalu, ada salah seorang Ibu memesan 10 Loyang kue basah kepada Iin melalui kontak akun Facebooknya, untuk keperluan acara pernikahan anaknya.

Iin pun tentu saja menyetujui dan memajang foto-foto kue yang ia produksi selama ini, sebagai sample. Tentu saja, pesanan tersebut terbaca oleh semua pemilik akun yang tergabung di group Facebook tersebut. Apalagi saat itu, sudah dekat-dekat bulan puasa.
”Ini rupanya pintu rezeki baru yang dibukakan oleh Allah kepada saya, di saat pandemi. Hingga sekarang ini, setiap hari ada saja yang memesan, jika digabung jumlahnya lumayan banyak, lewat kontak Whatsapp Group dan Facebook. Tak putus 100 loyang harus saya siapkan perhari,” Ujar Iin yang mengaku sangat bersyukur.
Hanya saja yang sedikit berbeda, jika selama ini kue pesanan harus bayar dimuka 50%. Sekarang, Iin harus rela memodali sendiri dahulu untuk setiap orderan. Sebab si pemesan bukan agen atau toko, melainkan untuk langsung dikonsumsi. Pembayaran di jalur Medsos lebih banyak yang minta COD (Cash on Demand) atau bayar ditempat setelah barang diterima.
Pemasan pun tidak hanya datang dari kota Palembang. Tapi juga dari Ibu-ibu yang tinggal di berbagai kota dan daerah lainnya. Seperti dari Prabumulih, Muara Enim. bahkan dari Lubuk Linggau.
”Sekarang saja, saya harus menyelesaikan 50 loyang kue pesanan Ibu-Ibu arisan. Untuk diantar siang ini. Sekarang baru selesai separuhnya. Jika tak terkejar waktu, terpaksa pesanan orang lain saya alihkan dulu untuk mencukupi pemesan yang mendesak ini,” ujarnya.
Untuk melayani para pemesan ini, jika di dalam kota Iin menggunakan jasa kurir dan aplikasi go food. Sedangkan untuk pemesan luar kota, menggunakan jasa titipan paket barang, yang bisa satu hari sampai.
Menjawab soal perbandingan keuntungan menjual kue ke pasar konvesional dengan jalur Medos, Iin mengaku sama saja. Hanya saja resiko di jalur Medsos lebih tinggi, dibanding melayani pemesanan dari toko. Apalagi si pemesan berada di luar kota. Sulit untuk kita tagih jika pesanan tak dibayar.
Iin pun mengaku pernah mengalami hal yang tak mengenakkan. Pernah ada pemesan tak mau membayar, padahal kue pesanannya sudah dibuatkan. Ketika akan dikirim, si pemesan minta didtunda karena alasan ada musibah keluarga. Akhirnya kue pesanan tersebut tak diambil-ambil, terpaksa dijual ke konsumen lain, karena si pemesan tak ada kabarnya lagi. Itu pun masih tersisa beberapa loyang tak terjual.
Suka duka lainnya, pernah kejadian kue yang dibuat sebanyak 30 loyang ‘Bantat’ atau keras karena kesalahan meracik bahan. ”Waktu itu, saya mempekerjakan tiga pembantu baru, yang memang masih belajar. Sementara saya tidak di tempat karena ada keperluan di luar. Ya, gagal, kuenya keras dan akhirnya saya bagikan saja ke saudara sepupu dan tetangga,” ujarnya mengakhiri. (dm)
Penulis : Dahri Maulana

