Pudarnya Ketenaran IP, dan Nasib Pedagang HP yang ‘Terusir’ ke Pinggir Jalan

PALEMBANG | Populinews.com — Sudah dua pekan lebih, lantai dasar mall Internasional Plaza Palembang, sunyi senyap. Tak ada lagi suara lembut yang sahut – menyahut dari bibir gadis-gadis counter handphone yang menawarkan berbagai merk produk lengkap dengan diskon menarik, kepada pengunjung yang lewat. Yang terlihat hanya beberapa petugas Satpam yang wara-wiri memantau gerai-gerai counter yang rooling door-nya semuanya tertutup rapat.
Internasional Plaza sesungguhnya adalah mall terbesar dan tertua di kota Palembang. Ia dibangun pada tahun 1992 silam dengan struktur lima lantai lengkap dengan gedung parkir enam lantai di bagian belakangnya. Sejak zaman teknologi handphone mulai hadir menggantikan telepon kabel, lantai dasar gedung ini sudah disewa oleh banyak pedagang alat komunikasi canggih tersebut berikut asesorisnya.
IP, begitu orang Palembang menyebut singkatan nama mall ini, sejak pertama hadir pelan tapi pasti merubah budaya belanja masyarakat Palembang, yang waktu itu baru mengenal mall. Tak heran, jika dalam waktu singkat IP menjadi sangat terkenal dan menyedot banyak pengunjung setiap hari. Tidak hanya dari kota Palembang, tapi juga dari daerah luar kota dan masyarakat dari pedesaan.
Apalagi dua lantai di atas lantai dasar gedung ini, dipakai juga oleh Matahari Group, Glael dan KFC, yang memang melihat peluang pasar sangat terbuka. Dua perusahaan swalayan ternama ini pun, tak pernah sepi pengunjung. Apalagi gedung ini, juga dilengkapi dengan lif tangga dan lif Kapsul, sangat memudahkan mobilitas masyarakat yang ingin berbelanja apa saja.
Puncak ketenaran mall IP, terjadi ketika teknologi HP Generasi Tiga (3G) memasuki era BlackBarry pada tahun 2000-an hingga 2010. Selain menjadi pusat belanja, IP juga menjadi pusat kuliner dan pakaian. Berlanjut kemudian muncul lagi perkembangan teknologi adroid yakni generasi empat (4G), sehingga lantai dasar gedung IP pun padat dengan counter handphone yang juga menawarkan jual beli handphone bekas.
Tak heran jika di tahun 2000-2010, pusat jual beli handphone yang dikenal masyarakat Sumatera Selatan, hanya di Mall Internasional Plaza. Baru setelah tahun-tahun berikutnya, muncul lagi Mall Palembang Trade Centre (PTC) di kawasan Jalan Basuki Rahmat, lalu Mall Palembang Square (PS) di Jalan POM IX Kampus, Palembang Indah Mall (PIM) di kawasan Rusun 24 Ilir, OPI Mall di Jakabaring, Mall Palembang Icon yang dulunya adalah Gedung Olahraga (Sporthall) di Simpang Jalan Kapten A Rivai Palembang, dan terakhir Transmart Mall di Jalan Radial Palembang.
Sejak itu pula hingga sekarang, bisnis handphone tidak lagi terpusat di gedung mall IP, tapi sudah banyak juga di mall-mall yang muncul belakangan. Persaingan antar pedagang dan perang diskon pun sangat kentara jika ditelisik dari mall yang satu ke mall yang lain.
Termasuk penawaran fasilitas kredit tanpa uang muka, dengan mudah bisa diperoleh konsumen, asalkan memiliki identias, nama dan alamat yang jelas dan tidak sedang terkena blacklist Ceking Bank Indonesia karena urusan kredit macet.
Begitu masif kemunculan counter handphone seiring bertambahnya bangunan mall besar, praktis membuahkan persaingan di sektor bisnis ini semakin ketat, hingga akhirnya memunculkan anggapan baru, bahwa pusat jual beli handphone terlengkap, tidak lagi disandang mall Internasional Plaza.
Apalagi belakangan lantai dasar mall IP, malah didominasi oleh pedagang jual beli handphone bekas, yang hanya membuka gerai kecil-kecilan. Al-hasil mall IP pun belakangan mulai jarang dikunjungi. Sepinya pengunjung juga berimbas pada sepinya pengunjung gerai Matahari yang ada di lantai atas. Hampir saja, Matahari hengkang dari gedung ini, karena saat itu tak banyak lagi pengunjung yang datang.
Dihajar Pandemi Covid-19
Ditengah suasana yang semakin sulit akibat persaingan, tiba-tiba muncul pula pandemi Covid-19. Praktis sejak dua tahun lalu, Mall IP semakin sepi. Apalagi pemerintah secara ketat menerapkan berbagai kebijakan pembatasan lalu lintas orang dan persyaratan bagi pengunjung di tempat umum, guna menekan penyebaran virus yang berasal dari Wuhan China ini.
Beberapa pedagang mengaku sudah setahun lebih, sejak pandemi covid-19 berlangsung dan penarapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di mana-mana, pengunjung mall IP sangat menurun. Karena itu, pemilik counter, harus mengerahkan pagawainya menggunakan cara jemput bola, yakni tidak menunggu pembeli di balik lemari counter, tapi keluar area di wilayah lalu lalang pengunjung sambil memegang kertas media kit, dan menyapa siapa saja yang lewat dengan senyuman dan bahasa yang lemah lembut.
”Ayo om, mampir dulu. Tengok-tengok saja boleh. Kita punya banyak produk baru. Om cari hape apa?” begitulah suara riuh terdengar bersahutan, karena wanita belia yang menawarkan handphone, sudah menunggu apabila kita memasuki pintu mall hingga ke bagian dalam.
Para wanita penjaja handphone ini, juga tak segan-segan menawarkan pola pembayaran kredit berjangka hingga setahun, tanpa uang muka bekerjasama dengan perusahaan pembiayaan. Tapi tentu saja, jika dikalkulasi harganya menjadi lebih mahal dibanding membeli cash. Tapi begitulah strategi bisnis para pemilik counter handphone, yang berupaya menjual barangnya kepada konsumen. Apalagi saat ini, mereka pun menyadari bahwa daya beli masyarakat sedang menurun terdampak pandemi.
”Dulu kita jual HP lima enam biji satu hari, bisa. Namun sejak pendemi Covid berlangsung bisa jual satu biji handphone saja sudah sangat bersyukur. Apalagi yang kita jual kan HP seken. Sementara counter HP baru pun banyak banting harga,” ujar Maya (29), salah seorang pedagang bercerita.
Kesulitan mendapatkan pembeli, menurut Maya, semakin terasa sejak ada pemberlakukan PPKM (pengganti istilah PSBB). Sebab, adanya kebijakan ini, semua warga dibatasi geraknya di tempat umum. Termasuk berkunjung ke mall juga dibatasi.
Warga pun diimbau untuk diam di rumah, dan tidak boleh kemana-mana jika tidak ada keperluan penting. Kondisi ini juga dibarengi dengan pemberitaan di berbagai media, bahwa Covid-19 sudah menelan banyak nyawa manusia. Angka orang sakit terpapar covid-19 pun juga melonjak. Palembang, berada di zona merah. Al-hasil masyarakat pun takut keluar rumah, apalagi berjalan-jalan di mall.
Mall Tutup, Pindah di Tepi Jalan
Di tengah kebuntuan akal untuk mencoba bangkit dari usaha yang terpuruk, tiba-tiba saja pemerintah kembali mengumumkan pemberlakuan PPKM yang lebih ketat. PPKM Darurat, namanya. Kebijakan yang diumumkan awal Juli lalu ini, tidak hanya berlaku di Jawa dan Bali. Tapi juga harus diikuti daerah lain yang masih menyandang zona merah.
Indonesia tercatat menjadi negara urutan ketiga terbesar di dunia, yang warganya meninggal karena covid-19. karena itu presiden Jokowi mewanti-wanti, dan meminta seluruh stakeholder bergerak serentak untuk serius menangani pandemi covid-19 yang tak kunjung reda ini.
Atas instruksi itu, Walikota Palembang pun tak tinggal diam. PPKM juga diberkalukan, bahkan sekolah tatap muka yang sempat dijadwal 12 Juli lalu dibuka, mendadak dibatalkan. Kembali tetap sekolah daring. Lebih ironis lagi, PPKM mengharuskan semua Mall yang tadinya, dibatasi boleh buka dari jam 11:00 Siang hingga pukul 17:00 sore, belakangan berubah menjadi ‘Harus Ditutup Total”.
Ibarat sudah jatuh ketimpa tangga. Itulah yang dirasakan semua pedagang counter di mall-mall yang ada di Palembang. Tak terkecuali pedagang counter HP di mall Internasional Plaza. Mereka yang tadinya bersaing menggeat pembeli dengan jemput bola, kini tak lagi terdengar merdu. Bahkan, di semua pagar pintu masuk mall sudah digembok dan dipasang pengumuman ‘Mall Ditutup Sementara”.
Namun, sejak awal Agustus lalu, ada pemandangan baru di depan dan bagian samping Mall IP Palembang. Para pedagang counter handphone, ternyata memanfaatkan lahan parkir kendaraan di luar gedung, lalu membuka counter di tempat tersebut. Ada yang memajang payung besar lengkap bersama lemari kacanya. Tapi tak sedikit pula yang memanfaatkan bagasi belakang mobil pribadi, menjadi tempat memajang handphone yang diperdagangkan.
”Semantara Mall ditutup, biarlah kami berjualan disini saja. Panas dan kehujanan, itu sudah menjadi resiko, daripada di rumah istri dan anak tak bisa makan. Mau kita lawan, percuma. Inikan sudah menjadi kebijakan penguasa yang juga mungkin tak punya pilihan. Jadi kita nikmati saja, mas?” ujar Wanto (27) seorang pedagang HP seken kepada populinews.com.
Wanto mengaku, terpaksa memanfaatkan lahan parkiran gedung mall di pinggiran jalan umum, agar bisa berjualan karena ia juga ada beban bulanan harus dibayar, yakni cicilan rumah. ”Itu saja yang jadi pikiran saya mas. Jangan sampai kita terusir pula dari rumah kredit. Padahal, kita sudah terusir keluar dari gedung mall, tempat mencari nafkah,” ujarnya.
Pemerintah kota Palembang, hingga saat ini memang masih memberlakukan PPKM Level 4 hingga 23 Agustus 2021 mendatang. “Mall tetap tutup untuk kunjungan masyarakat, hanya yang essensial saja buka, restoran dan rumah makan pun tidak boleh ada layanan makan minum di tempat,” ujar Walikota Palembang, Harnojoyo, Kamis (12/8/2021) lalu. Adapun sektor esensial, seperti super market dan apotek.
Menurut Harnojoyo, belum dibukanya mall bagi masyarakat bertujuan mengurangi mobilitas masyarakat, sehingga kasus penularan Covid-19 bisa ditekan. Bahkan rumah ibadah pun, hanya boleh terisi 25 persen saja.
“Status PPKM level 4 ini merupakan kebijakan Mendagri yang bersungguh-sungguh untuk menekan angka Covid-19. Kita harapkan juga agar masyarakat tetap bersabar dan mematuhi aturan dan disiplin protokol kesehatan, agar trend Covid-19 ini semakin menurun,” demikian Harnojoyo. (dm)
Penulis : Dahri Maulana

