WFH Ala Warga Pedatuan, Mengupas ‘Si-Amoy’ Demi Rezeki di Masa Pandemi

187 views

Cektin (42), warga 12 Ulu tengah mengupas bawang putih bersama putrinya. (f/dahri maulana)

PALEMBANG | Populinews.com — Ada pemandangan baru di kelurahan 12 Ulu Lorong Pedatuan Darat, Kecamatan Seberang Ulu II Palembang, sejak tiga bulan terakhir. Mulai dari depan hingga ke bagian dalam lorong, banyak dijumpai aktivitas warga mengupas kulit Si-Amoy, atau bawang putih impor dari Vietnam di rumah masing-masing. Inilah, Work Form Home (WFH) yang menjadi cara warga bertahan hidup di tengah pandemi Covod-19, yang masih berkepanjangan.

Kampung Pedatuan Darat, merupakan salah satu wilayah padat penduduk di tengah kota Palembang. Selain warga keturunan asli Palembang ‘Lamo’ (lama), di kampung ini juga banyak bermukim warga pendatang dari tanah Serang Banten, Jawa barat. Bahkan mereka sejak puluhan tahun silam, sudah memiliki kawasan bermukim sendiri yang dikenal dengan ‘Kampung Ladang’. Namun dalam keseharian mereka hidup membaur dan berdampingan dengan warga asli.

Dalam takaran ekomomi, mayoritas penduduk Pedatuan, 12 Ulu Palembang, adalah warga yang hidupnya sederhana. Bahkan tak sedikit tercatat sebagai warga miskin, penerima berbagai Bansos dari pemerintah. Penduduk asli yang hidupnya sederhana, mayoritas berprofesi sebagai pedagang kakki lima di pasar, pedagang Warung Sembako, warung makanan dan pekerja harian, seperti tukang bangunan, pekerja pabrik dan berbagai jenis profesi lainnya.

Sedangkan warga pendatang, umumnya berprofesi sebagai buruh lepas di pasar 10 Ulu, dan Pasar 16 Ilir Palembang yang lokasinya hanya dipisahkan oleh Sungai Musi. Untuk yang laki-laki, mayoritas berprofesi sebagai kuli panggul pelabuhan, kuli bongkar muat gudang beras, terigu dan gandum, buruh gerobak barang kemasan pabrikan dan pekerja kasar lainnya. Untuk yang perempuan, mereka rata-rata berprofesi sebagai pengupas bawang merah dan bawang putih, milik pengusaha impor.

Sebelum pandemi Covid-19 menyerang, setiap pagi mereka selalu telihat berduyun-duyun berjalan kaki menuju pelabuhan perahu bermesin (di Palembang disebut ‘Getek’), yang terletak di ujung lorong Pedatuan Laut. Lorong ini memang persis berhadapan dengan lorong Pedatuan Darat. Mereka menggunakan transportasi Getek, tak lain untuk menyeberangi Sungai Musi agar bisa sampai ke tempat kerja di pasar 16 Ilir.

Bersandal jepit dan pakaian seadanya, menjadi ciri khas keseharian mereka. Maklum mereka hanya buruh kasar, bukan pekerja kantoran yang membutuhkan pakaian bagus dan rapih. Sedangkan yang perempuan, rata-rata mengenakan kain dan berbusana sederhana.

Banyaknya buruh dan pekerja pengupas bawang dari kawasan Pedatuan Darat yang bekerja di Pasar 16 Ilir ini, juga menjadi ladang rezeki bagi penarik sampan Getek, setiap pagi dan sore. Meski tarif per orang hanya Rp 2.000, tapi satu sampan rata-rata mengangkut paling sidikit 30 orang, baik ketika pergi maupun saat pulang dari tempat kerja.

Tergerus Pandemi

Sejak pandemi Covid-19 merebak, perlahan aktivitas ekonomi di Pasar 16 Ilir, yang terkait langsung dengan profesi mereka berangsur berkurang. Hal itu terjadi lantaran pemerintah harus mengeluarkan kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat, seperti PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang belakangan diubah menjadi PPKM (Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat).

Meski pemerintah tak melarang aktivitas keluar masuknya barang kebutuhan masyarakat, seperti Sembako dan bebagai jenis barang kebutuhan lainnya, namun aktivitas ekonomi di sektor hilir, praktis menjadi sepi. Alhasil, banyak pengusaha distributor Sembako yang mengurangi bahkan menunda pengadaan stok barang dalam jumlah besar, karena konsumen pembeli juga berkurang drastis.

Ujung dari situasi ini, praktis membuat para buruh dan wanita pekerja bawang di gudang-gudang Sembako, ikut terimbas kehilangan mata pencaharian. Mereka terpaksa menjadi pengangguran atau pekerja serabutan. Bahkan tak sedikit pula dari mereka yang terpaksa pulang kampung, membawa keluarganya.

Data yang diperoleh dari Kantor Kelurahan 12 Ulu, hingga tahun 2020, jumlah warga pendatang asal Serang Banten, Padegelang dan daerah Jawa Barat lainnya, yang tinggal di kampung Ladang Pedatuan darat, tercatat lebih dari 500 Kepala Keluarga. Namun jumlah itu — meski belum ada data resmi — dipastikan jauh bekurang, karena banyak yang sudah pulang kampung dan sampai sekarang belum kembali.

Dalam situasi stagnan yang masih berkepanjangan, beberapa pengusaha impor bawang merah dan bawang putih (Si-Amoy), ternyata masih ada yang bertahan. Untuk urusan pengupasan, mereka juga punya cara alternatif, menyusul berkurangnya para perempuan dari Pedatuan, karena banyak yang pulang kampung. Jika selama ini pengupasan dilakukan di gudang penyimpanan di Pasar 16 Ilir, sekarang pekerjaan itu diborongkan kepada pengusaha perantara. Dialah yang ‘mengupah’ warga yang tinggal di Pedatuan untuk melakukan tugas tersebut di kediaman masing-masing.

Zulkifli (40 tahun), salah seorang pemborong kepada Populinews.com, mengatakan setiap tiga hari sekali, ia mendapatkan borongan bawang putih untuk dikupas sebanyak 300 karung ukuran 50 kg. Pekerjaan pengupasan harus selesai dalam dua hari, dan hari berikutnya bawang tersebut harus dikirim kembali ke gudang pemiliknya, untuk selanjutnya dipasarkan kepada konsumen.

Karena hanya punya waktu dua hari, mau tidak mau Zulkifli harus mempekerjakan banyak orang. Semakin cepat selasai semakin baik, karena jika cepat selesai ia bisa mendapatkan lagi borongan berikutnya. Sebaliknya, jika terlalu lama, bawang bisa rusak atau busuk dan dia harus mengganti kerusakan tersebut. Zulkifli memang tidak sendiri, ada beberapa pemborong lainnya yang juga melakukan hal sama.

Sebaliknya, bagi warga asli kampung Pedatuan, tawaran mengupas bawang ini, jelas menjadi sumber pendapatan baru. Wajar saja, jika akhirnya banyak Ibu-ibu rumah tangga yang kecipratan rezeki dari profesi mengupas Si Amoy ini. Dalam satu karung ukuran 50 kg, upah yang ditawarkan memang tidaklah besar, yakni Rp 5.000. Namun, rata-rata satu orang bisa mengerjakan pekerjaan ini paling sedikit 10 karung. Bahkan jika mahir, bisa menghabiskan 15 karung.

Cektin (42 tahun) seorang ibu rumah tangga yang tinggal di RT. 12 Pedatuan Darat, mengaku memperoleh upah kupas paling sedikit Rp 75.000 per hari. Ia melakukan pekerjaan ini bersama putrinya, sejak pukul 09:00 Wib, dan bisa rampung paliang lambat pukul 17:00 Wib, atau butuh waktu sekitar 8 jam.

”Memang ini pekerjaan mudah, tapi perlu hati-hati karena menggunakan pisau atau cutter.  Soal capek, memang terasa capek juga, karena harus duduk berjam-jam. Tapi hasilnya lumayan buat nambahin kebutuhan dapur,” ujarnya sambil membetulkan sarung tangan plastik.

Hal sama juga diucapkan oleh Watie, yang bertetangga dengan Cektin. Bahkan pekerjaan ini dilakoninya bersama sang suami. ”Saya dan suami bisa habis 20 karung, tapi bekerja dari pagi sampai malam,” ujarnya.

Begitu banyak keluarga di Pedatuan Darat yang berprofesi mengupas bawang merah dan bawang putih, tak heran jika di lingkungan wilayah ini, banyak ditemui kulit bawang berserakan di jalan lorong karena terbawa hembusan angin. Sebab, pekerjaan ini kebanyakan dilakukan di teras rumah. (dm)

Penulis : Dahri Mualana

Bagikan :

Posting Terkait