WONOSOBO | Populinews.com – Misteri meninggalnya seorang siswa kelas III SD di Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, berusia 9 tahun, masih diselidiki Satreskrim Polres Wonosobo. Dugaan korban dibully dan dipukuli teman sekelas, masih belum jekas. Siapa pelaku dan kapan dan dimana korban dipukuli juga belum diketahui pasti.

Kasatreskrim Polres Wonosobo, AKP Arif Kristiawan, membenarkan bahwa kasus tersebut masih dalam penyelidikan. “Kami terus mendalami penyebab pasti kematian korban. Hanya saa, kendalanya pihak keluarga hingga hari ini menolak untuk dilakukan otopsi,” kata Arif.

Dedi mengaku menolak otopsi karena tak tega dengan kondisi anaknya. Padahal, langkah otopsi< menurut Arif, sangat penting untuk mengetahui penyebab meninggalkan korban. Apakah memang benar-benar dipukuli atau bagaimana. Semua akan terlihat setelah tubuh korban diotopsi di laboratorum forensik. Tapi sayangnya ayah korban belum bersedia.

Ayah korban mengatakan; “Kalau hasil otopsi hanya untuk efek jera, saya rasa percuma. Saya sudah ikhlas, tapi tetap ingin keadilan,” ujar Arif mengutip ucapan ayah korban yang bernama Dedi Hendi Kurnia.

Kronologis

Ayah korban, Dedi Hendi Kurnia, adalah warga Desa Jambusari, Kecamatan Kertek. Ia menceritakan bahwa anaknya sempat mengeluh sakit di bagian perut dan sesak di dada usai dipukul temannya. Dedi mendapat kabar anaknya sakit pada Selasa (1/10) atau Rabu (2/10).

“Sabtu sore (4/10) anak saya dibawa ke RS PKU Wonosobo karena kondisinya makin lemah. Di sana saya tanya langsung, dan anak saya bilang kalau dia dipukul teman sekelasnya di bagian perut,” ungkap Dedi.

Menurut Dedi, ada saksi yang melihat peristiwa pemukulan hingga korban sempat pingsan. Setelah disampaikan ke dokter bahwa korban sempat dipukul, pemeriksaan dilakukan lebih intensif. Dokter kemudian meminta keluarga menandatangani surat persetujuan untuk perawatan di ruang ICU.

“Saat dirawat, sempat disedot cairan dari tubuhnya dan keluar sekitar dua liter cairan berwarna merah,” ujar Dedi.

Pada Minggu (5/10), Dedi sempat menghubungi wali kelas untuk memberitahukan kondisi anaknya. Keesokan harinya, sejumlah guru datang menjenguk ke rumah sakit.

Namun, Dedi mengaku mendengar kabar yang beredar di sekolah bahwa anaknya disebut menderita penyakit paru-paru basah.

“Bagaimana mungkin disebut paru-paru basah, cairannya saja merah,” tegasnya. Dedi menambahkan pihak sekolah mengatakan tidak tahu menahu dengan kejadian tersebut. Sebelum meninggal, korban sempat menyampaikan keinginannya untuk pindah sekolah.

Dedi jug amenejlaskan tidak menutup kemungkinan ia dna pihak keluarga akan menempuh langkah hukum setelah masa berkabung selesai. (sya)

Bagikan :