Nurhadi (kaos hitam), saat melapor ke POlda Jatim atas penganiayaan yang dialaminya.

SURABAYA | Populinews.com – Kasus penganiayaan terhadap jurnalis Tempo Nurhadi yang ditangani Mapolda Jatim telah naik ke tahap penyidikan. Namun dalam surat perintah penyidikan tersebut belum ada tersangkanya.

Koordinator Advokasi Aliiansi Anti Kekerasan Terhadap Jurnalis Fatkhul Khoir yang mendampingi Nurhadi mengatakan, penyidik menggunakan Pasal 18 ayat 1 Undang-undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers subsider Pasal 170 KUHP, Pasal 351 KUHP, dan Pasal 335 KUHP.

“Jadi saya kira ini penerapan delik pers sebagai terobosan baru yang bagus dan sesuai dengan harapan kami,” ujar Fatkhul dalam keterangannya, di Surabaya, Selasa (20/4) dikutip dari publicanews.com.

Diterapkannya UU Pers dalam kasus ini membuat penyidik harus mencari lebih banyak keterangan mengenai kerja-kerja jurnalistik. Sejauh ini, polisi telah mengundang anggota Dewan Pers Imam Wahyudi, Pemimpin Redaksi Tempo.co, ketua AJI Surabaya, termasuk ahli hukum pers Herlambang P Wirataman saat gelar perkara.

“Penyelidik atau penyidik menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi bagian dalam penegakan UU Pers di Indonesia,” Fakhtul menambahkan.

Salawati dari LBH Lentera yang juga menjadi kuasa hukum Nurhadi berharap kasus ini menjadi contoh bagaimana UU Pers diterapkan dalam kasus-kasus pelanggaran terhadap jurnalis dan pers.

“Semoga ini juga bisa menjadi momentum untuk membangun solidaritas jurnalis di Indonesia dalam melawan kekerasan terhadap pers,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Nurhadi sebagai seorang jurnalis, mendapatkan tugas dari redaksi Majalah Tempo untuk mengkonfirmasi mantan Direktur Pemeriksaan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Angin Prayitno Aji. Sebab, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan Angin sebagai tersangka dalam kasus suap pajak.

Kebetulan saat itu Angin Prayitno Aji sedang berada di acara resepsi pernikahan anak Angin di Gedung Graha Samudera Bumimoro (GSB) di kompleks Komando Pembinaan Doktrin Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan laut (Kodiklatal) Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu 27 Maret 2021 malam

Nurhadi lantas masuk ke acara tersebut, tapi dia dihadang sejumlah oengawal Angin Prayitno lantas menuduh Nurhadi masuk tanpa izin ke acara. Nurhadi pun lantas dianiaya oleh sekitar 10 sampai 15 orang, tetapi juga terjadi perusakan sim card ponselnya. Oknum petugas bahkan menghapus seluruh data dan dokumen yang tersimpan dalam ponsel tersebut.

Nurhadi kemudian melaporkan kasus tersebut ke Polda Jatim dengan didampingi Aliansi Anti Kekerasan Terhadap Jurnalis yang beranggotakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, KontraS, LBH Lentera, LBH Pers, dan LBH Surabaya.

Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Wahyu Dhyatmika, dalam keterangan tertulisny , Minggu, 28 Maret 2021 lalu menyatakan tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap jurnalis, merupakan serangan terhadap kebebasan pers dan melanggar KUHP serta Undang Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

“Tempo mengutuk aksi kekerasan tersebut dan menuntut semua pelakunya diadili serta dijatuhi hukuman sesuai hukum yang berlaku,” kata Wahyu, yang hari itu juga meminta Nurhadi secara resmi melaporkan tindakan dugaan kekerasan dirinya ke Polda Jatim.

Ketua AJI Surabaya, Eben Haezer Panca mengatakan, laporan ini dilayangkan karena telah mengancam nyawa dari jurnalis yang sedang bertugas di lapangan. (red)