Siapa yang Menjadi Tuan di Era Kecerdasan Buatan?
Oleh : Sartana, M.A.
Dosen Psikologi Sosial di Departemen Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
KECERDASAN buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah melebihi kemampuan manusia pada beberapa aspek. Penelitian terbaru, tahun 2024, yang dilakukan oleh tim peneliti di University of Arkansas menunjukan bahwa AI lebih kreatif daripada manusia.
Penelitian yang dilakukan oleh Kent F. Hubert dkk tersebut menguji pemikiran divergen antara GPT-4 dan 151 orang peserta penelitian manusia. Hasilnya menunjukan bahwa GPT-4 lebih unggul, yang mana ia dapat memberikan jawaban yang lebih orisinal dan rinci daripada peserta manusia.
Penelitian itu bukan yang pertama. Penelitian sebelumnya, tahun 2023, yang dilakukan oleh tim peneliti di Universitas Montana pada juga menunjukan hasil serupa. Penelitian yang disupervisi oleh Dr. Erik Guzik ini menunjukan bahwa AI GPT-4 memiliki skor lebih tinggi 1 % di atas manusia dalam kemampuannya untuk menghasilkan jumlah, orisinalitas, dan kebaruan ide. Namun, AI masih kalah dengan manusia dalam hal fleksibilitas dan jenis atau kategori ide (Cary Shimek, 2023).
Dalam kehidupan sehari-hari, superioritas AI atas manusia tersebut juga dapat dengan mudah kita lihat. Misalnya, dalam kreativitas visual, kecanggihan AI sudah tidak diragukan. Beberapa model AI terbaru mampu menghasilkan karya seni yang super canggih. Bahkan, pada tahun 2022, dalam sebuah kompetisi seni di Colorado, para juri telah memilih sebuah lukisan yang dibuat oleh sistem kecerdasan buatan sebagai pemenangnya.
Memang, sejauh ini, kecerdasan buatan hanya mengungguli manusia dalam beberapa kemampuan spesifik. Belum ada super AI yang memiliki kemampuan atau kecerdasan umum untuk menyelesaikan banyak tugas seperti halnya manusia. Meskipun, para pengembang AI telah meramalkan bahwa super AI semacam itu akan segera terwujud dalam waktu dekat.
Kenyataan bahwa AI lebih kreatif dari manusia ini telah menggugurkan keyakinan umum banyak orang sebelumnya, bahwa AI tidak akan dapat menangani tugas-tugas yang membutuhkan inisiatif dan kreativitas. Pandangan yang kerap menjadi landasan keyakinan banyak orang bahwa manusia akan tetap lebih unggul dari AI, atau produk teknologi lainnya.
Lebih dari itu, fakta bahwa AI memiliki kemampuan kreatif tersebut juga memaksa kita untuk merenungkan ulang masa depan kemanusiaan kita ketika berhadapan dengan teknologi.
Sebab, dengan kemampuan kreatif tersebut, sangat mungkin AI di masa datang akan dapat melakukan kerja-kerja kognitif kompleks sebagaimana manusia. Dan ia akan menjadi produk teknologi yang lebih superior daripada manusia.
Dan hadirnya “makhluk” ciptaan manusia yang lebih unggul daripada manusia tersebut tentu akan merevolusi tatanan kehidupan yang selama ini kita anggap mapan. Ia memunculkan pertanyaan yang rumit dan tidak mudah untuk dijawab, bagaimana hubungan antara manusia dan AI di masa depan?
Dalam relasi sosial secara umum, mustahil ada dua kekuatan yang dapat hidup bersama dalam kedudukan yang setara. Yang mungkin dan umum terjadi, satu pihak lebih berkuasa dan menjadi tuan yang lainnya.
Jika hubungan antara manusia dan AI berupa hubungan yang hierarki, pertanyaannya, siapa di antara AI dan manusia yang akan berada pada posisi yang lebih tinggi? Manusia yang akan mengendalikan teknologi AI atau teknologi AI itu yang akan mengendalikan manusia?
Dihadapkan dengan pertanyaan semacam itu, banyak orang masih yakin bahwa manusia akan tetap menjadi makhluk superior. Manusia memiliki susunan fisik atau tubuh ciptaan Tuhan yang lebih kompleks dan sempurna. Tidak mungkin mesin ciptaan manusia mengungguli ciptaan Tuhan tersebut.
Dengan demikian, manusia-lah yang akan menjadi pengendali teknologi. Dan tidak mungkin AI akan melampaui manusia, dan menusia menghamba pada mereka.
Tetapi, sejauh ini, kita tidak memiliki bukti kuat untuk mendukung keyakinan tersebut. Bukti-bukti yang ada justru semakin meyakinkan kita bahwa kecerdasan buatan terus berkembang pesat, dan semakin melampaui manusia dalam banyak hal.
Semua gejala tersebut mengarah pada kesimpulan bahwa AI akan menjadi pihak yang lebih kuat daripada manusia. Apalagi kecerdasan buatan sejauh ini terus berkembang kemampuannya, sementara kemampuan manusia berevolusi sangat lambat.
Bahwa AI akan lebih berkuasa daripada manusia tersebut, sebenarnya, dalam banyak kesempatan sudah terlihat hari ini. Berbagai jenis aplikasi yang ada di telepon genggam yang kita gunakan telah menjadi kekuatan super yang kerap mengontrol manusia.
Tanpa kita sadari, sikap dan perilaku yang kita lakukan adalah hasil dari beragam perintah yang muncul dari aplikasi-aplikasi tersebut. Dan kita patuh saja pada perintah-perintah itu. Sulit untuk tidak mengatakan bahwa pada saat demikian manusia sebenarnya sudah menjadi pelayan dari “tuan” kecerdasan buatan.
Di masa depan, ketika kecerdasan buatan berkembang menjadi semakin canggih, dan dicangkokkan pada berbagai perangkat di sekitar kita, semakin banyak perilaku manusia yang akan dikendalikan AI. Apalagi ketika mereka memiliki kemampuan kreatif, yang dapat menciptakan beragam perintah, tentu semakin kuat posisi mereka terhadap manusia.
Dalam situasi seperti itu, siapa yang akan menjadi tuan? Manusia atau kecerdasan buatan? Jawabannya sudah relatif jelas, namun tentu kita tidak berharap situasi demikian tidak terjadi.
Kita tetap berharap manusia yang menjadi pemilik sekaligus pengendali utama dari AI. Dan hal itu hanya mungkin terjadi ketika ada kesepakatan dan regulasi yang tepat, juga pengawasan yang ketat dalam pengembangan AI. Harus dipastikan bahwa AI dikembangkan secara etis, aman dan tetap menempatkan manusia sebagai tuan dari AI, dan bukan sebaliknya. (**)

