WONOSOBO | Populinews.com – Pemerintah Kabupaten Wonosobo terus mendorong pengembangan potensi kawasan Dieng melalui pariwisata yang mengangkat kekhasan produk dan karakter geografis daerah. Upaya tersebut dibahas dalam audiensi bersama Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum Republik Indonesia, Selasa (15/9/2026), yang berlangsung di Kantor Bupati Wonosobo.

Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam mengembangkan konsep Geographical Indication (GI) Tourism atau pariwisata berbasis Indikasi Geografis (IG). Program ini diarahkan untuk menghubungkan potensi produk khas daerah dengan sektor pariwisata, budaya, gastronomi, serta pemberdayaan masyarakat, sekaligus memastikan aspek perlindungan kekayaan intelektual tetap diperhatikan.

Dalam sambutannya, Plh. Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo, M. Kritijadi, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan inisiatif DJKI dalam mendorong pengembangan GI Tourism di kawasan Dieng. Menurutnya, Wonosobo memiliki kekayaan alam dan produk lokal yang sangat potensial untuk dikembangkan tidak hanya sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari identitas dan pengalaman wisata.

“Pada prinsipnya, Pemerintah Kabupaten Wonosobo sangat menyambut baik dan mendukung inisiatif ini. Apa yang menjadi potensi daerah, terutama produk-produk yang memiliki kekhasan dan keterkaitan erat dengan wilayah Dieng, perlu kita jaga, kembangkan, dan manfaatkan bersama,” ujarnya.

Selain itu, Kritijadi menilai keberadaan Carica Dieng dan Purwaceng Dieng, serta komoditas lain seperti kopi Arabika, merupakan modal penting dalam membangun ekosistem GI Tourism. Carica cukup dikenal masyarakat luas dan telah berkembang menjadi berbagai produk olahan. Sementara itu, Purwaceng masih membutuhkan penguatan dari sisi pengembangan produk, pasar, hingga kesinambungan produksi.

“Kalau carica saya kira sudah cukup dikenal. Tetapi untuk purwaceng, kita masih perlu menguatkan kembali. Beberapa waktu terakhir memang ada dinamika pasar yang berdampak pada penyerapan produk. Namun di sisi lain, sekarang sudah mulai berkembang hilirisasi, misalnya purwaceng yang diolah menjadi minuman dan dikombinasikan dengan kopi,” jelasnya.

Ia menambahkan, kekhasan Purwaceng sebagai tanaman yang memiliki keterkaitan kuat dengan lingkungan dan tradisi lokal Wonosobo merupakan potensi yang perlu terus diperkuat. Pengembangan tersebut tidak berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi harus diarahkan pada penciptaan nilai tambah dan pengalaman yang dapat dirasakan langsung oleh wisatawan.

Menurut Kritijadi, perlindungan melalui kekayaan intelektual, termasuk Indikasi Geografis, akan menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga reputasi dan identitas produk lokal. Karena itu, Pemkab Wonosobo menyatakan kesiapan untuk memberikan dukungan terhadap program GI Tourism yang dirintis DJKI.

Dalam audiensi tersebut, Direktur Merek dan Indikasi Geografis DJKI, Dr. Fajar Sulaeman Taman, S.Sos., M.Si., M.IPLaw., memaparkan konsep pengembangan GI Tourism sebagai sebuah inisiatif untuk mengubah paradigma pariwisata dari sekadar mengunjungi destinasi menjadi mengenal dan mengalami langsung asal-usul (origin) sebuah produk.

GI Tourism dirancang untuk menghubungkan karakter geografis suatu wilayah dengan masyarakat, produk khas, proses produksi, tradisi, kuliner, serta pengalaman wisata. Dengan pendekatan tersebut, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat pemandangan, mengambil foto, lalu pulang, tetapi diajak mengikuti perjalanan dari mengenal asal produk, bertemu petani dan pelaku usaha, melihat proses produksi, mencicipi, membeli, hingga membawa pulang cerita dari daerah yang dikunjungi.

“Selama ini orang datang ke sebuah tempat, melihat pemandangan, mengambil foto, makan, kemudian pulang. Melalui GI Tourism, kita ingin memberikan pengalaman yang lebih lengkap. Wisatawan datang, belajar, bertemu masyarakat, melihat bagaimana produk dibuat, mencicipinya, kemudian membeli produk tersebut dan membawa pulang ceritanya,” terang Fajar.

Ia menjelaskan, Indikasi Geografis pada dasarnya tidak hanya berbicara mengenai produk, tetapi juga mengenai hubungan antara wilayah, alam, masyarakat, pengetahuan, tradisi, dan reputasi yang terbentuk dari suatu daerah. Karena itu, perlindungan IG dinilai penting untuk menjaga agar reputasi sebuah produk tidak dipisahkan dari daerah asalnya.

Fajar memberikan gambaran bahwa reputasi asal suatu produk dapat menjadi kekuatan ekonomi dan bahkan menjadi identitas sebuah negara. Produk-produk yang memiliki keterkaitan kuat dengan wilayah tertentu dapat memiliki nilai tambah karena konsumen percaya terhadap kualitas dan karakteristik yang melekat pada asal produk tersebut.

“Indikasi Geografis membawa reputasi daerah, bahkan membawa nama Indonesia. Karena itu harus dijaga. Ketika masyarakat, wilayah, alam, dan produk memiliki keterkaitan yang khas, di situlah nilai Indikasi Geografis yang harus kita lindungi,” jelasnya.

Dieng dipilih sebagai pilot project GI Tourism karena dinilai memiliki kombinasi yang kuat antara lanskap alam, kekayaan budaya, aktivitas masyarakat, serta produk-produk yang telah memiliki perlindungan Indikasi Geografis.

Dalam paparan DJKI disebutkan terdapat tiga pilar utama produk IG yang menjadi kekuatan pengembangan GI Tourism Dieng, yakni Kopi Arabika Pegunungan Dieng, Carica Dieng, dan Purwaceng Dieng.

Ketiganya memiliki karakter yang berbeda, namun dapat dirangkai dalam satu pengalaman wisata yang utuh. Kopi dapat menghadirkan pengalaman mulai dari kebun, proses pascapanen, roasting hingga cupping. Carica dapat dikembangkan melalui pengalaman memetik dan mengolah buah secara langsung. Sementara Purwaceng dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan tanaman herbal, sejarah, tradisi, hingga proses pengolahannya.

“Dieng punya alam yang luar biasa dan masyarakat datang ke sini. Kita ingin mengemasnya agar wisatawan tidak hanya datang, duduk, minum kopi, atau melihat sunrise, tetapi mengetahui kopi itu berasal dari mana, bagaimana ditanam, bagaimana diproses, siapa petaninya, dan bagaimana produk tersebut sampai ke tangan mereka,” pungkasnya. (sya)

Bagikan :