Oleh : Laelina Farikhah *)

Memasuki tahun ajaran baru, banyak generasi anak bangsa yang memulai babak barunya dalam dunia pendidikan. Mereka mulai mengeyam pendidikan di bangku sekolah dasar, menengah pertama, maupun menengah atas. Bukan hanya sekedar seragam merah putih yang berubah menjadi biru putih, bukan juga hanya sedekar seragam biru putih berubah menjadi putih abu-abu. Namun perubahan pada dunia keilmuan, dunia pembelajaran, bahkan dunia pertemanan turut berubah.

Perubahan-perubahan tersebut tentu saja membutuhkan penyesuaian pada setiap individunya. Bagaimana mereka mengenal lingkungan belajar yang baru, beradaptasi dengan guru dan teman yang baru, dan juga beradaptasi dengan kultur yang ada disekolah yang baru.

Maka dari itu diperlukan adanya pengenalan mendalam bagi peserta didik baru untuk lebih mengenal dan memaknai ruang lingkup belajar dirinya yang nantinya akan menjadi tempat berproses pengembangan diri selama 3 tahun maupun 6 tahun.

Pengenalan lingkungan sekolah yang baru saat ini dikenal dengan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif melalui pelaksanaan yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel. Disisi lain MPLS juga diharapkan mampu memberikan pengalaman dan kesan yang baik, menyenangkan, dan bermakna bagi peserta didik baru.

Tak hanya zaman yang terus mengalami perubahan, karakter peserta didik pun turut berubah. Sehingga dibutuhkan MPLS yang disesuikan dengan kondisi peserta didik baru dizaman sekarang. (https://smk.kemendikdasmen.go.id/produk-hukum/peraturan-menteri-pendidikan-dasar-dan-menengah-republik-indonesia-nomor-12-tahun-2026-tentang-masa-pengenalan-lingkungan-sekolah-mpls)

Peserta didik baru sekarang ini merupakan generasi Alfa yang lahir dengan kemajuan teknologi 5.0 yang dimana segala sesuatunya sangat berkaitan dengan teknologi dan internet yang lebih memudahkan generasi Alfa dalam mengakses suatu hal apapun dikehidupan keseharian mereka. Hal tersebut turut berpengaruh terhadap karakteristik generasi tersebut yang lebih terbiasa dengan segala sesuatu yang sifatnya visual dan instan. Sehingga dibutuhkan pula lingkungan pembelajaran yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan peserta didik dalam pembelajaran agar nantinya dapat mendorong peserta didik lebih aman, nyaman, dan bahagia di tempat belajar yang baru. (https://prosiding.iainponorogo.ac.id/index.php/pisces/article/download/697/427)

Melihat dari kacamata yang lebih luas, kemajuan teknologi tidak hanya mempengaruhi karakteristik peserta didik saja, namun juga semakin membuka peluang seseorang menjadi korban dan pelaku kejahatan.

Bahkan lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi tempat paling aman seorang anak untuk belajar pun saat ini berpeluang menjadi sasaran kejahatan. Dengan maraknya kasus yang terjadi di lingkungan sekolah, pemerintah mengambil langkah tegas dengan menerbitkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 yang merupakan perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. (https://peraturan.bpk.go.id/Details/38723/uu-no-35-tahun-2014)

Dengan adanya undang-undang tersebut menjadi pelindung bagi seluruh anak Indonesia dari kekerasan atau kejahatan yang mengancam kenyamanan mereka. Sebagai pelipur dari banyaknya kasus yang ada di lingkungan sekolah sekaligus untuk menyambut generasi Alfa yang memasuki pengalaman pembelajaran di lingkungan yang baru, Kemendikdasmen menyambut generasi ini melalui MPLS dengan wajah yang baru yaitu MPLS Ramah.

MPLS Ramah hadir untuk memberikan pengalaman yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan dengan menghormati hak setiap anak dan memuliakan warga sekolah, sehingga sekolah menjadi rumah kedua yang aman dan nyaman bagi semua peserta didik. (https://cerdasberkarakter.kemendikdasmen.go.id/mplsramah/ )

Pembelajaran berkesadaran yang dimaksudkan disini adalah peserta didik akan belajar menjadi pribadi yang memiliki kesadaran dalam dirinya untuk memaknai tujuan hidup dirinya mengeyam bangku sekolah untuk apa dan masa depan nantinya akan menjadi apa.

Dengan menghadirkan kesadaran dalam diri peserta didik diharapkan mereka akan lebih sungguh-sungguh dalam mengikuti proses pembelajaran kedepannya, memfokuskan dirinya untuk pengembangan potensi, dan meminimalisir waktu luang yang ada untuk melakukan pembulian ataupun kejahatan antar teman.

Setelah mereka sadar akan tujuan masing-masing dalam menuntut ilmu, maka mereka dapat menciptakan hal-hal baik yang memberikan makna mendalam dalam ingatannya.

Pembelajaran yang bermakna bukan hanya sekedar memori tentang dirinya dengan teman-temannya, tapi dengan cara apa ilmu yang mereka dapatkan dapat memberikan kesan dan pengalaman yang selalu diingat nantinya dan bermanfaat kedepannya.

Ketika lingkungan sekolah sudah berhasil menciptakan suasana yang memberikan kesan bermakna, memenuhi segala kebutuhan jiwa dan motivasi peserta didik, maka peserta didik pun akan melaksanakan proses pembelajaran dengan suasana hati yang gembira, tanpa beban dan paksaan.

Hal demikian sejalan dengan teori dari seorang psikolog terkemuka tahun 1930 di Brooklyn, Amerika Serikat, Abraham Maslow berpendapat ketika seluruh kebutuhan dasar mereka yang meliputi kebutuhan pokok, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan terhadap penghargaan diri, serta kebutuhan untuk aktualisasi, maka akan berpengaruh pada motivasi belajar peserta didik.

Pemenuhan-pemenuhan akan kebutuhan tersebut diwujudkan melalui MPLS Ramah yang mulai digaungkan tahun ajaran ini. (https://ejournal.merivamedia.com/index.php/meriva/article/view/30/31 )

Dalam pelaksanaannya ada perubahan yang terjadi dari MPLS sebelumnya dengan MPLS Ramah tahun ajaran ini. Mulai dari jumlah hari pelaksanaan 3 hari menjadi 5 hari yang memuat rangkaian kegiatan terkait sosialisasi, pengenalan potensi diri, pengenalan warga sekolah, pengenalan lingkungan sekolah, pengenalan kurikulum, unjuk karya, dan evaluasi.

Dengan rangkaian yang mengenalkan hal semendetail tersebut diharapkan mampu menanamkan kesadaran penuh kepada peserta didik yang jangka panjangnya berkaitan juga dengan tercapainya kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

MPLS Ramah ini dapat memberikan pengaruh besar dalam penanaman budaya sekolah aman, nyaman pada peserta didik baru sejak dini, menumbuhkan dan memperkuat karakter serta profil lulusan. ( https://cerdasberkarakter.kemendikdasmen.go.id/faq-mpls-ramah-2026/ )

Selain itu, dampak positif dari adanya MPLS Ramah ini memberikan ruang bagi peserta didik baru untuk lebih mengenal dirinya secara mendalam, menyadari potensi yang dimiliki oleh dirinya dan bagaimana mengembangkan potensi yang mereka miliki.

Menghadirkan gambaran pada peserta didik tentang mimpi-mimpi dirinya dimasa depan, mendorong mereka untuk berani mengembangkan kemampuan yang sudah mereka miliki, atau bahkan dapat memotivasi peserta didik untuk mencoba pengalaman yang baru, yang baik, yang dapat meningkatkan kualitas dirinya.

Bukan hanya sekedar pengenalan diri sendiri, namun MPLS Ramah ini mengajarkan peserta didik baru menjadi pribadi yang ramah terhadap warga sekolah. Memberikan kesadaran penuh bahwasannya, sepintar apapun dirinya, akan sebanyak apapun ilmu yang akan mereka dapatkan di lingkungan yang baru, tetap saja adab dan kesopanan terhadap sesama warga sekolah maupun teman menjadi pondasi utama dalam bersosialisasi di lingkungan sekolah.

Dengan terciptanya MPLS Ramah yang menghadirkan kebaikan-kebaikan didalamnya, mana bak seperti magnet yang akan menarik kebaikan lainnya dalam proses pembelajaran kedepannya. (*)

*) Penulis : Guru Pondok Pesantren Modern Zam-Zam Muhammadiyah, Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah

Bagikan :