WONOSOBO | Populinews.com – Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026 di Kabupaten Wonosobo menjadi perhatian pemerintah daerah bersama jajaran keamanan. Sebanyak 166 desa yang akan menggelar pemilihan diharapkan dapat menjalani seluruh tahapan tanpa diwarnai perselisihan antarkelompok pendukung.

Komitmen tersebut disampaikan dalam Deklarasi Damai Pilkades Serentak 2026 yang digelar di Gedung Adipura Wonosobo, Kamis (5/11/2026). Acara tersebut dihadiri sekitar 550 orang dari unsur pemerintah daerah, TNI/Polri, camat, pemerintah desa, panitia pemilihan, pengawas, calon kepala desa, hingga tokoh masyarakat.

Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat mengatakan, perbedaan pilihan dalam Pilkades merupakan hal yang wajar. Namun, persaingan antarkandidat tidak boleh sampai merusak hubungan masyarakat, terlebih para calon dan pendukungnya merupakan bagian dari lingkungan desa yang sama.

Ia meminta seluruh pihak menjalankan kesepakatan deklarasi dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar memenuhi rangkaian acara. Setiap pihak juga diminta memahami tugas dan tanggung jawabnya agar proses pemilihan berjalan sesuai aturan.

“Hari ini kita membangun kebersamaan. Apa yang sudah ditandatangani harus kita sepakati dan laksanakan di tengah-tengah masyarakat. Mari kita wujudkan tahapan Pilkades yang menyenangkan, penuh persaudaraan, dan tetap menjaga kerukunan sehingga lahir pemimpin yang berintegritas dan amanah,” kata Afif.

Afif secara khusus mengingatkan panitia pemilihan dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) untuk menjaga netralitas. Para calon kepala desa beserta tim sukses juga diminta bersaing secara sehat dengan menyampaikan program dan visi-misi tanpa menimbulkan provokasi.

Dari sisi keamanan, Kapolres Wonosobo AKBP Ricky Pripurna Atmaja, S.I.K., M.H., mengatakan kepolisian telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mencegah gangguan selama tahapan Pilkades. Pendekatan persuasif dilakukan melalui cooling system dengan menyambangi dan berkomunikasi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, serta para calon kepala desa.

Menurut Ricky, terdapat sejumlah desa yang menjadi perhatian karena memiliki potensi kerawanan. Meski demikian, upaya pencegahan tetap dilakukan di seluruh 166 desa penyelenggara.

“Kami melakukan pencegahan dan edukasi dengan mendekati tokoh agama, tokoh masyarakat, serta para calon kepala desa. Kuncinya, semua calon harus siap menang dan siap kalah,” ujarnya.

Pengawasan juga diperketat menjelang kampanye terbuka yang berlangsung selama tiga hari. Kepolisian telah mengantisipasi kemungkinan pertemuan rute kampanye antarkandidat melalui pengaturan jadwal dan pemetaan di lapangan. Selain itu, pengamanan berlapis mulai dari Ring 1 hingga Ring 4 turut disiapkan.

Ricky menyebut, upaya menjaga keamanan tidak bisa hanya dibebankan kepada kepolisian. Peran pemerintah daerah, TNI, Linmas, panitia, calon kepala desa, hingga masyarakat dibutuhkan agar situasi tetap terkendali.

“There is no success without teamwork. Kita bukan superman, tetapi kita membentuk superteam bersama Kodim, jajaran Pemkab, Linmas, hingga para calon kepala desa itu sendiri,” katanya.

Salah satu calon kepala desa di Desa Jengkol, Kecamatan Garung, Asro, menyambut baik deklarasi tersebut. Ia berharap kesepakatan yang telah dibuat dapat benar-benar dijalankan oleh seluruh calon, termasuk para pendukungnya.

Di Desa Jengkol sendiri terdapat lima calon kepala desa yang akan bersaing dalam Pilkades mendatang. Asro mengatakan, komunikasi antarkandidat dan arahan kepada tim sukses terus dilakukan agar persaingan tidak berkembang menjadi persoalan di tengah masyarakat.

“Harapan kami selaku calon kepala desa, komitmen ini bisa terealisasi dengan baik. Di Desa Jengkol ada lima calon, dan kami terus berkoordinasi serta memberikan arahan positif kepada tim sukses agar suasana tetap kondusif, mulai dari penyampaian visi-misi, kampanye, hari pencoblosan, hingga pascapemilihan,” tutupnya

(syasya)